Monday, November 4, 2019

FENOMENA SUAMI YANG ZALIM TERHADAP ISTERI

Akhir-akhir ini dalam pergaulan aku lebih membaur. Tidak lagi hanya dengan orang-orang yang itu-itu saja. Banyak manfaat dengan membuka sayap alias memperluas pergaulan ini. Setidaknya membuat mataku terbuka lebar melihat fakta kehidupan dan menjadikan aku semakin bersyukur. 
 
Aku yang selama berumah tangga memiliki pengalaman yang sangat menyakitkan oleh seorang suami. Sudahlah tidak bertanggung jawab dengan nafkah keluarga, ditambah lagi kalimat cacian dan makian yang aku terima. Di saat dia sedang dalam keaadaan gundah dengan kondisi dan permasalahan keluarga besarnya yang saling memperebutkan harta warisan, atau disaat dia mendapat hasutan-hasutan dari saudara perempuannya semua itu dilampiaskan pada aku dan anak-anak. 
 
Makian. cacian, bentakan dan pengusiran sudah jadi makanan sehari-hari. Kondisi psikis aku yang selalu tegang setiap akan melangkah masuk ke rumah sehabis pulang kerja. Aku bahkan selalu berusaha untuk tidak dekat-dekat dengannya, atau aku malah senang jika dia dinas ke luar kota. Sikapnya sangat temperamen sulit diprediksi. Bisa saja sedang ngobrol baik-baik tiba-tiba dia bisa meludahi, menampar bahkan mencakar mukaku karena tersinggung dengan kalimatku. Padahal menurut aku kalimat itu sama sekali tidak menyinggung. 
 
Aku bersyukur karena pada akhirnya aku mempunyai keberanian untuk bercerai. Mengesampingkan rasa takut dan khawatir yang selama ini menjeratku. Takut, malu, kasihan anak-anak. Khawatir perkataan orang.... Setelah memohon petunjuk Allah, aku berani menggugat cerai. 
 
Ternyata tak sampai disitu kekejian laki-laki itu. Setelah 5 tahun berpisah dia kembali datangkan cobaan buat aku. Aku diajukan secara pidana dengan tuduhan penganiayaan terhadap anak-anak. Dengan segala taktik dan cara dia aku dijatuhi hukuman 6 bulan dengan masa percobaan 1 tahun. Anak-anak direbut dan dipisahkan. Dicuci otak untuk membenci ibu kandungnya. 10 tahun telah berlalu akhirnya aku menjadi wanita tangguh, ikhlas...dan pasrah tanpa rasa benci dan dendam. 
 
Meskipun semua menyakitkan aku segera menyadari bahwa keaadaan menjadi lebih baik untuk aku dan keluargaku setelah peristiwa penjarakan aku dan perebutan anak. Aku jadi lebih baik dari segala sisi. Aku bisa beribadah dengan baik, ikut majelis taklim kapanpun, keadaan ekonomi yang mapan dan sebagainya. 
 
Namun faktanya dalam dunia ini bukan hanya aku yang mengalami kedzaliman dari seorang suami. Hal ini seakan menjadi fenomena yang lumayan trending saat ini. Dalam lingkup kecil RT dilingkungan aku tinggal ada beberapa alias lumayan banyak yang mengalami hal serupa. Fakta hidup yang diakibatkan oleh keegoisan, kekejaman dan kedzaliman dari seorang makhluk yang disebut laki-laki. Ini beberapa korban yang aku tahu saja karena aku kenal dekat: 
 
1. Sebut saja Sarah yang suaminya berselingkuh dengan tantenya hanya karena CLBK (Cinta Lama Belum Kelar). Suaminya sudah berselingkuh selama bertahun-tahun dan sudah menikah secara siri bersama tantenya sejak tahun 2012. Yang lebih tega lagi malah isteri siri ini dibuatkan rumah dalam satu komplek yang sama dengan Sarah.  
 
Bertahun-tahun Sarah tidak tahu sama sekali jika dia telah diselingkuhi. Modus ini memungkinkan terjadi karena mereka memang berumah tangga secara LDR (Long Distance Relation). Sarah menetap di Palembang sedangkan karena pekerjaan suaminya menetap di Jambi. Suami hanya pulang seminggu sekali atau bahkan kadang-kadang 2 atau 3 minggu sekali dengan alasan pekerjaan. Jeda waktu yang dia tak pulang (2 - 3) minggu itulah yang dimanfaatkan oleh sang suami mengunjungi rumah isteri kedua yang juga tinggal dalam satu komplek. Jadi sebenarnya dia pulang ke Palembang tetapi tak pulang ke rumah isteri pertama melainkan menginap di rumah isteri kedua. 
 
Sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga, serapih-rapih menyimpan bangkai pasti akan tercium juga. Kedok ini terbongkar saat Satpam Komplek menyatroni rumah sang wanita kedua di saat sang suami menginap disana. Sudah lama Satpam Komplek memperhatikan ada mobil dan seorang laki-laki yang masuk ke rumah wanita kedua, padahal status wanita itu adalah seorang Janda. Akhirnya karena dipergoki oleh Satpam maka terbongkarlah semua kedok mereka. Terungkaplah bahwa mereka sudah menikah secara siri selama 7 tahun lalu. 
 
Terlalu.... ! Sarah yang syok...terpukul. Mata bengkak karena menangis berhari-hari. Badan kurus kering karena makan hati. Suami yang egois lebih mementingkan wanita kedua. Sedangkan wanita kedua merasa dia bukanlah perebut suami orang melainkan mendapatkan apa yang selayaknya memang dia dapatkan dari dulu. Karena sebenarnya sang suami dan wanita itu sejak masih SMA telah berpacaran dan saling mencintai, tetapi pihak keluarga memaksa dan menjodohkannya dengan Sarah yang notabene adalah keponakan (bukan keponakan langsung). Sarah sendiri tak pernah tahu tentang jalinan cinta mereka menerima saja perjodohan ini. 
 
Bertahun-tahun menikah dan telah mempunyai anak yang sudah sangat dewasa. Dan sang wanita kedua juga menikah dengan pria lain namun diceraikan suaminya karena tak dapat memberikan keturunan. Aku yang mendengarkan kisah ini sangat miris dan berkali-kali beristighfar. Bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diinginkan laki-laki itu...kesenangan nafsunya sematakah??? Cinta...Cinta??? Tanpa menimbang rasa perasaan isterinya yang telah memberikannya anak-anak yang sudah dewasa. 
 
Yang lebih membuat aku terharu Sarah lebih memilih diduakan dan menderita daripada bercerai karena dia hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa dan tak memiliki pekerjaan. Subhanallah..! Bertahan dalam kepedihan hanya karena takut tak punya nafkah. Berkali-kali masuk rumah sakit karena maag akut, dan suami sama sekali tak pernah pulang untuk menjenguk isteri yang sedang dirawat di RS. Terlalu kejam....! 
 
2. Lalu cerita kedua, sebut saja namanya Yani. Versi cerita hampir sama sang suami adalah laki-laki pengusaha yang kaya raya, hobby main perempuan. Sudah punya 3 isteri termasuk Yani, tetapi masih sering selingkuh. Yani sebagai isteri pertama memilih tetap bertahan hanya karena dia ibu rumah tangga yang tak punya penghasilan sama sekali. Yang penting dia bisa hidup mewah. Pakaian, tas, sepatu branded mampu dia beli dengan nafkah dari suaminya. Namun secuek-cueknya wanita, sekuat-kuatnya wanita ada titik jenuh dan bosan mengalah juga. Hingga suatu ketika dia ingin balas dendam dengan suaminya dengan cara berselingkuh juga. 
 
Baru sedetik berselingkuh kedok Yani tercium oleh suami dan kini dia sedang menghadapi tuntutan di talak oleh suaminya. Badan kurus kering, mata bengkak karena air mata, akhirnya dia tetap akan ditinggalkan oleh kedua laki-laki, suami dan selingkuhannya. Laki-laki memang egois, jika dia berbuat jahat berkali-kali bisa dimaafkan tetapi ketika wanita yang bersalah tak ada ampun lagi baginya. 
 
3. Lantas wanita ketiga yang aku kenal sebut saja Devi. Wanita yang memiliki suami pengangguran, pemabok dan kasar. Kebutuhan hidup untuk rumah tangga dan anak-anak yang sedang membutuhkan dana banyak (iyalah 2 orang anaknya duduk di bangku kuliah dan diluar kota dan 1 orang anak masih SMA. Kebayangkan biayanya ) Devi lah yang menanggung semua biaya kehidupan itu. Aku tak mau terlalu kepo dengan dia. Kulihat hidupnya yang mewah, dandanan masa kini dan tergabung dalam sosialita berkelas. Aku tak tahu dari mana dia dapat semua biaya itu. Ada yang bilang orang tuanya memang kaya dan dia punya warisan yang banyak. Ada yang bilang dia dapat uang jasa karena dekat dekat laki-laki sosialita juga. Wallahu a'lam. 
 
Yang aku ambil kesimpulan dia bertahan hidup dan menghidupi anak-anaknya dengan caranya. Apapun itu! Aku suka dengan sifatnya yang cuek dan sama sekali tak pernah gibah. Dia sempat cerita dia sudah minta dicerai oleh suaminya tapi ditolak dengan ancaman akan dibunuh jika minta cerai. 
 
4. Wanita keempat  dialah saudara sepupuku, sebut saja Yuni. Puluhan tahun bertahan, mengalah dan pura-pura tidak tahu dengan tingkah polah seorang suami yang doyan dengan wanita lain. Baik itu rekan kantor, maupun wanita penghibur. Yuni tahu semua perbuatan suaminya. Namun dia menutup mata dan pura-pura tidak tahu hanya karena tidak mau ribut besar dengan suami yang temperamen. Suaminya adalah laki-laki ular berkepala 2. Dimata semua orang terlihat sebagai laki-laki baik, soleh dan sejuta kebaikan palsu yang dia tampilkan. Padahal tak lebih sebagai laki-laki pelacur yang meniduri isteri orang dan wanita penghibur. Sebenarnya bukan cuma Yuni yang mengetahui belang laki-laki ini. Rekan sekantor, tetangga, teman dekan sudah sering sekali memperingatkan atau menginfokan hal ini pada Yuni. namun Yuni tak pernah menanggapi bahkan menepis aduan mereka dengan senyum manis meskipun dia juga sudah tahu pula. 
 
Sampai seluruh orang mengatakan Yuni "bodoh". Sakit dan air mata darah yang disimpannya. Sampai titik kulminasi itu tiba, lelaki ini tergila-gila dan menjalin ikatan mesum dengan mantan rekan SMA nya yang ditemukannya saat reunian (kembali lagi cerita CLBK). Dalam kasus ini rumah tangga Yuni benar-benar diujung tanduk. Kacau dan hancur. Dia minta cerai namun sang suami tak mau menceraikan. Selain itu instansi tempat mereka bekerja tidak mudah mengeluarkan izin untuk mengajukan perceraian. 
 
Namun Allah mengakhiri kemelut ini dengan caraNya. Suatu hari saat laki-laki ini sedang berbuat mesum dengan wanita selingkuhannya ini didalam mobil pribadinya yang diparkir dipinggiran jalan yang sepi. Tiba-tiba anak laki-laki sang wanita yang sudah sejak lama mengintai perbuatan mereka memergoki denngan menghantam kaca mobil. Fakta ini mengehbohkan. Surat kabar daerah memberitakannya, betapa tidak sang laki-laki alias suami Yuni adalah pejabat di suatu instansi. 
 
Dengan fakta ini dengan sangat mudah pimpinan si laki-laki maupun Yuni (mereka bekerja dalam satu intansi) membubuhkan tanda tangan setuju di surat pengajuan gugat cerai yang dibuat Yuni. Beakhir sudah kepahitan yang dirasakan Yuni. meski di awal kondisi fisik dan psikis Yuni dan anak-anaknya terpuruk, namun seiring waktu semua sudah terecovery saat ini. 
 
Dari berbagai cerita yang aku alami dan aku dapat di depan mata aku melihat sekarang sepertinya sudah menjadi trend dan suatu kebiasaan seorang laki-laki menjadi tulang rusuk isteri, dan isteri menjadi tulang punggung keluarga. Terlalu banyak diluaran sana seorang wanita bertahan dijajah, disakiti, diselingkuhi hanya karena tak mampu mencari nafkah. Betapa banyak laki-laki yang tidak punya rasa malu menjadikan isterinya sapi perah dan tulang punggung keluarga. Betapa banyak wanita bertahan dalam kesakitan dan kepedihan hanya karena takut dan malu jika harus bercerai. 
 
Dalam Al-Qur’an Surat An- Nisa’ ayat 34 disebutkan, bahwasannya kaum lelaki (suami) adalah pemimpin bagi kaum wanita (istrinya). Seorang suami dituntut untuk bisa mendidik, melindungi, serta selalu menegakkan kebenaran dalam kehidupan rumah tangganya. 
 
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassama pernah bersabda yang artinya “Yang terbaik dari kalian adalah yang terbaik akhlaknya atau perlakuannya terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi) 
 
Imam Baqir pernah berkata, “Barangsiapa menikahi seorang perempuan maka wajib baginya memuliakannya, sebab istri seseorang dari kalian adalah sarana kebahagiaan kalian. Oleh karena itu istri tidak boleh direndahkan dan dirusak dengan mengabaikan hak-haknya untuk mendapat pemuliaan.” [Bihar al Anwar, jilid 103, hal. 224) 
 
Ada dua dosa yang disegerakan azabnya oleh Allah SWT kata Nabi yaitu Al-Baghyu dan durhaka kepada orangtua. Apa al baghyu itu? Al baghyu adalah berbuat zalim dan sewenang-wenang, menindas dan menganiaya orang lain. Dan Al Baghyu yang paling dimurkai adalah zalim terhadap isteri sendiri. 
 
Diantara bentuk Al Baghyu adalah menelantarkan istri dengan tidak memberikan nafkah, menyakiti dan meremukkan hatinya, merampas kehangatan cintanya, melecehkan dan merendahkan kehormatannya, mengabaikan keinginan-keinginannya, menyingkirkannya dalam pengambilan keputusan dan mencabut haknya untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama kita. Tidak sedikit dari kita yang menjadi saksi mata akan bukti nyata ampuhnya hadits Nabi tersebut, bahwa mengabaikan hak istri akan disegerakan azabnya. Nauzubillah! 
 
Rumah tangga yang harmonis dimulai dari kesadaran oleh seorang suami bahwa sangat tidak terhormat seorang laki-laki yang tidak mampu menghormati perempuan, sebagaimana yang pernah disabdakan Nabi. Hormati istri kita, agungkan, muliakan, jangan abaikan haknya untuk memperoleh kehangatan dan kebahagiaan, jangan rampas cintanya, jangan patahkan hatinya, jangan hancurkan harapannya untuk terus hidup bahagia bersama kita. 
 
Kehidupan rumah tangga dalam Islam seharusnya jauh dari kekerasan yang bisa menyakiti pasangan. Kekerasan yang dimaksud bukan hanya kekerasan fisik, melainkan kekerasan psikis (menyakiti hati pasangan) dan kekerasan verbal (dengan mencaci maki). Suami yang mengabaikan istri dan tidak bertanggung jawab penuh terhadap kehidupan istrinya adalah suami yang zalim. Padahal sudah menjadi kewajiban suami memenuhi semua kebutuhan istrinya. Namun masih ada saja suami yang berbuat zalim dengan lepas tangan setelah menikahi seorang wanita. 
 
Dan teruntuk para wanita, aku pernah mendengar ceramah ustadz Syafiq Riza Basalamah, yang membahas materi serupa dengan cerita yang telah kutuliskan diatas. Pesan yang disampaikannya adalah Pesan untuk para wanita yang jika terdzolimi oleh suami secara terus menerus jangan takut ambil keputusan. 
 
Bagi para wanita yang mendapati suaminya tidak sholat, melakukan kemaksiatan seperti berzina dan sebagainya, namun dia bertahan karena dia takut menjadi janda adalah langkah yang salah. Seharusnya dia takut Allah murka. Karena kebanyakan wanita jika berbicara masalah perceraian, maka akan berbicara mengenai masa depan dirinya. Jika dia seorang wanita dia akan menjadi janda. Jika dia mempunyai anak dia akan berpikir tentang masa depan anaknya. 
 
Tapi terkadang perceraian harus terjadi karena perkara-perkara yang tidak bisa dihindari. Yang harus diutamakan adalah bertaqwa kepada Allah. Jangan khawatirkan masa depan karena Allah yang akan menentukan, Allah yang akan menjamin. Jika bicara gaji itu rezeki yang tidak disangka-sangka dan jika bicara pemberian oleh suami itu rezeki yang disangka-sangka. 
 
Jadi wahai wanita yang dalam kepahitan dan penderitaan panjang. Bermunajatlah pada Allah. Namun jangan sampai kalian mempertahankan kepahitan dan kesakitan ini hanya karena khawatir tentang nafkah, dan rezeki. Sandarkanlah semua pada Allah. Aku telah membuktikannya dalam pengalaman hidup, perceraian memang hal yang sangat dibenci oleh Allah, namun kadangkala perceraian adalah hal terpaksa yang harus diambil untuk keadaan yang lebih baik. Dan soal rezeki jangan takut dan khawatir Allah akan menjamin. Wallahu' alam bissawab!
 
 

Monday, February 11, 2019

TANDA-TANDA RIZKI YANG BERKAH

Selalu ada pemicu yang menjadi sebab aku menulis sebuah artikel. Yah artikel ini aku tulis karena rasa nelangsa dan sedih yang menyentak batinku secara mendalam. Ceritanya hari itu Kamis, menjelang jam pulang kantor aku dipanggil oleh bos kantorku. Seorang milenial yang masih muda banget. Tanpa kuduga beliau mengkritik, menegur aku karena setiap istirahat siang selalu lebih awal dari ketentuan perusahaan. Aturan perusahaan istirahat siang itu start jam 12.00 - 13.00. Sedangkan aku selalu meninggalkan kantor jam 11.30 dan masuk kembali jam 2 kurang seperempat bahkan kadang-kadang jam 2.

Aku yang semula diam saja, menjadi agak mengemukakan argumen melihat gaya dan intonasi bicaranya yang kurang menyenangkan. Aku kemukakan bukankah sepanjang jam kerja aku hampir tidak pernah keluar-keluar kantor alias izin-izin, sedangkan dia aku amati tak terbatas sering sekali izin-izin keperluan pribadi. Sebagai sifat atasan barangkali dia tak mau disudutkan (meski gaya bicaranya menyudutkan orang lain), lantas dia berdalih kalau dia izin-izin maka dia akan membayarnya dengan cara pulang kantor lebih telat lantas masuk di hari libur hari Sabtu. Meskipun di dalam hati aku menyangsikan kebenaran pembelaan itu. Pulang kerja kulihat dia gak jauh berbeda dengan aku. Hari Sabtu masuk? Ya iyalah dia masuk Sabtu karena ikut TA, bukankah TA itu dibayar dengan imbalan yang besar?

Lalu kembali aku kemukakan argumen kembali, bukankah jam 11.15 itu seluruh staf di bagian aku yang nota bene tak pulang ke rumah di jam istirahat karena rumah mereka jauh, sudah menyantap makan siang mereka. Bukankah itu sama artinya dengan istirahat. Apa bedanya dengan aku. Aku agak protes mengapa hanya aku yang begitu gencar dia adili. Padahal selama ini aku sangat menjaga bahkan takut sekali untuk meninggalkan jam kantor (bahkan untuk izin ke apotik untuk beli inhaler obat Asthma aku saja aku berpikir ulang ratusan kali). Dia terus membela diri toh staf yang lain itu tidak meninggalkan area perusahaan. Alasannya macam-macam takut terjadi kecelakaan saat aku menuju rumah padahal itu belum masuk jam istirahat kantor.

Entahlah semua alasan yang dia kemukakan tak masuk akal, hanya alasan yang dibuat-buat untuk menghakimi aku. Sampai akhirnya karena tak ada cara lagi bagi dirinya buat menyudutkan aku dia langsung memojokkan aku dengan dalih-dalih agama. Ibu kan sholeha, pernah mendengar tausiyah Ustadz Khalid Basalamah tidak ? Yang bahasannya terkait masalah keberkahan rezeki. Bukankah kita punya kontrak kerja dari Jam 7.30 - 12 dan 13 - 16.30. Jika ibu memperpanjang jam istirahat ada jam yang di ambil sehingga rezeki menjadi tidak berkah.

Aku sangat tersentak dengan ucapan dia. Aku tegas dan agak keras mengatakan " Baik! Bapak sangat benar! Aku tahu tentang aturan itu, aku pernah dengar tausiyah itu. Begini saja pak, mulai hari ini aku akan ikuti aturan itu. Aku usahakan sebisanya. Namun jika aku tak bisa mencukupi waktu kerjaku, pada saat penilaian prestasi kerja tolong untuk nilai Disiplin nilai saya dengan nilai D. Supaya insentif saya dipotong. Demi Allah saya ikhlas".

Dalil dia memang benar, namun karena apa yang disampaikannya dengan fakta kepribadiannya sangat bertolak belakang membuat aku agak sinis. Janganlah menakar keberkahan rezeki seseorang seperti Allah, jika diri sendiri masih terlalu sering banyak melakukan pelanggaran. Yah.. itulah sejak itu aku selalu tergopoh-gopoh di jam istirahat. Keluar kantor tepat jam 12.00 sampai di parkiran saja jam 12.08. Sampe rumah jam 12.15. Makan sekitar 20 menitan, Sholat Dzhuhur 30 menitan. Sulit untuk bisa sampai di kantor jam 13.00 tepat. Paling berkisar antara jam 13.15 - 13.20. Dan untuk membayarnya aku pulang lebih telah 15 menitan. Demi keberkahan yang dia lontarkan. Aku lebih banyak diam sekarang, dan kadang tersenyum sendiri melihat beliau sering salah tingkah sendiri untuk mengkamuflase kepentingan pribadinya menggunakan jam-jam kantor. Capek sendiri dia menjaga citra diri atas kalimat-kalimatnya. Semoga Allah mengampuni aku.

Untuk mengobati rasa ketersinggungan aku berusaha terus belajar mengkaji lebih jauh. Dan dari beberapa sumber pencarianku aku tuliskan di dalam artikel ini.

Apa itu Berkah (Keberkahan) ?
Banyak orang yang menginginkan agar kehidupannya mendapatkan keberkahan. Tak hanya orang yang beriman, namun mereka yang jauh dari Allah pun sebenarnya ingin hidupnya diberkahi.Meski begitu, banyak yang menyalah artikan tentang keberkahan dimana sering diarahkan kepada berlimpahnya harta, kehidupan yang serba menyenangkan dan segala kenikmatan dunia yang terus bertambah.

Padahal keberkahan bukan hanya sekedar tercukupi saja, melainkan sejauh mana bertambahnya ketaatan kita kepada Allah dalam segala keadaan, baik ketika berkelimpahan atau sebaliknya. Jika didefinisikan maka berkah adalah “Albarokatu tuziidukum fi thoat” yang artinya “Berkah menambah taatmu kepada Allah.”

Ketahuilah bahwa keberkahan dalam hidup tidak hanya dirasakan saat sehat. Namun ketika sakit pun seorang muslim bisa mendapatkan berkah sebagaimana Nabi Ayyub yang menjadikan sakitnya sebagai penambah ketaatan kepada Allah. Umur yang berkah tidak selalu merujuk pada lamanya usia karena umur yang pendek namun dipenuhi dengan ketaatan pun termasuk berkah, sebagaimana kehidupan Mus’ab bin Umair.

Tanah yang subur dengan panorama yang indah tidak selalu dikategorikan sebagai tanah yang berkah, karena tanah yang tandus seperti di Mekkah memiliki keberkahan dan keutamaan yang tidak tertandingi di hadapan Allah. Makanan yang berkah pun tidak hanya terdiri dari komposisi gizi yang lengkap, karena makanan yang sederhana namun mampu mendorong pemakannya untuk lebih taat kepada Allah juga termasuk makanan yang berkah.

Ilmu yang berkah bukanlah karena banyaknya riwayat atau catatan kakinya, melainkan ilmu yang menjadikan seseorang bisa berjuang dan beramal karena Allah tanpa kenal lelah hingga darah penghabisan.

Gaji atau penghasilan yang berkah bukanlah karena bertambah jumlahnya, namun sejauh mana gaji yang dimiliki dapat memberikan jalan rezeki bagi orang lain dan banyak yang terbantu karena gaji tersebut.

Terakhir, anak-anak yang berkah bukanlah anak yang lahir ke dunia dengan lucu dan imut serta tumbuh dewasa dengan sukses kemudian mendapatkan jabatan yang hebat. Namun anak yang berkah adalah anak yang saleh dan tak henti-hentinya mendoakan kedua orangtuanya.
Apa itu rezeki yang berkah

"Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik."(H.R.Bukhari Muslim). Rezeki yang berkah adalah rezeki yang diperoleh dari sumber-sumber yang halal dan dipergunakan untuk kebaikan di jalan Allah. Untuk mengetahui apakah rezeki kita termasuk rezeki yang berkah dapat diketahui melalui tanda-tanda umum berikut ini

1. Hati semakin dekat dengan Allah dan jiwa tenang. "Tidak sama yang buruk (rezeki yang haram) dengan yang baik (rezeki yang halal) meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal agar kamu mendapat keberuntungan." (Q.S. Al Maidah : 100). Ayat ini menunjukkan hubungan rezeki yang berkah dengan keberuntungan. Rezeki yang berkah bersumber dari sesuatu yang halal akan membuat hati merasa dekat dengan Allah karena telah dilimpahkan begitu banyak nikmat. Setiap kebaikan yang dilakukan termasuk rezeki yang dimanfaatkan untuk kebaikan akan membuat perasaan senang, tenang dan damai karena telah berbuat manfaat bagi diri dan orang lain

2. Mudah memberi sedekah dan menunaikan zakat. Orang yang menyadari bahwa dalam rezekinya terdapat hak orang lain dan bahwa hartanya hanya titipan semata dengan mudah menunaikan zakat dan sedekah. Rasa ikhlas berbagi dan memberi pada orang lain adalah sifat mulia yang hanya dimiliki oleh orang yang diberkahi rezekinya.

3. Keluarga harmonis dan dikaruniai anak yang saleh/salehah."Hai para rasul makanlah yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal saleh".(Q.S.23 : 51). Secara mentalitas dan psikologis makanan yang kita makan dapat mempengaruhi hati manusia. Termasuk juga dengan rezeki yang kita peroleh secara haram akan mempengaruhi kualitas anak-anak dan istri yang memakannya. Anak-anak akan menjadi jauh dari Allah dan bisa jadi rumah tangga penuh dengan pertengkaran yang bisa berujung perceraian.

4. Senantiasa merasa cukup dan syukur."Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah. Ayat ini menunjukkan bahwa hanya rezeki yang halal yang bisa membuat orang bersyukur. Rezeki haram akan membuat orang merasa kurang dan semakin tamak, rakus dalam menumpuk harta untuk kepentingannya semata karena merasa semua itu adalah rezeki yang diperoleh karena hasil usahanya sendiri.

Jika dalam perjalanan hidup anda merasakan yang sebaliknya seperti hati jadi menjauh dari Allah, selalu was-was dan tidak tenang, susah untuk berbagi, anak-anak jadi liar, nakal, tukang cari masalah dan istri yang tidak taat, serta selalu merasa kurang, maka waspadalah mungkin rezeki anda tidak berkah. Segera introspeksi, mohon ampun kepada Allah dan benahi diri sebelum terlambat karena ajal sudah menjemput. Wallahu alam.

Semoga Allah memberikan keberkahan dalam setiap sendi kehidupan kita semua untuk menuju keridhoan-Nya. Aamiin



Sunday, February 10, 2019

STANDING PARTY

Artikel ini kususun setelah aku mencoba mengumpulkan berbagai informasi dan sumber hukum secara Islam tentang standing party dan makan minum secara berdiri. Aku gigih sekali mengumpulkan risalah dari berbagai sumber, untuk dapat menetralisir perasaan bersalah dan berdosa karena saat aku menghadiri pesta pernikahan anak seorang rekan kantor.

Kita pasti sudah sangat mahfum tentang trend kekinian yang melanda kehidupan jaman modern. Trend pesta berdiri alias "Standing Party" sudah menjadi sangat biasa, padahal bagiku belum bisa membiasakan diri bahkan jika aku tahu sebelumnya tipe resepsi adalah "Standing party", aku lebih memilih untuk tidak datang saja. Mengapa? Pertama, yang paling jelas aku sudah mulai memasuki usia manula. Berdiri dalam waktu yang relatif lama dengan sandal pesta yang ber hak 5 cm, adalah hal yang sangat menyiksa. Aku pernah hadir di pesta pernikahan jenis ini, pulang kondangan tungkai kaki terlebih dipergelangan paha bahkan pinggangku sakit dan nyeri sampai seminggu. Disamping itu makan dan minum sambil berdiri itu bukanlah kebiasaan baik bagi aku.

Yang aku pahami adalah makan dan minum sambil berdiri itu haram, dan sangat tidak baik bagi kesehatan. Nah karena pemahaman ini pulalah rasa berdosa kemaren itu sangat mengganggu ketenangan jiwa. Kemaren itu memang tak ada celah untuk mencari tempat duduk, jongkok bahkan bersenderpun tak ada tempat. Sementara teman ke pestaku juga agak kurang pemahaman dan kurang toleransi ke aku. Jadilah aku tergopoh-gopoh menyantap makanan sambil berdiri dan tanpa dikunyah. Aku mengejar-ngejar dia yang sangat lincah bergerak dari meja kemeja hidangan yang sangat banyak. Dia sudah sangat "terbiasa dan nyaman" makan sambil berdiri. Aku mikir kalau aku pergi sama Atik adekku pastilah kami tidak makan dan langsung pulang dengan kondisi seperti ini.

Standing party tidak semata-mata hanya urusan makan atau minum sambil berdiri, tetapi ada istilah party, yaitu pesta. Maka jelas ada beda antara standing party dengan sekedar makan atau minum sambil berdiri. Setidaknya, sebuah standing party sejak awal memang diniatkan agar para tamu sengaja tidak duduk ketika makan dan minum. Sedangkan makan dan minum sambil berdiri, bisa saja dilakukan karena kebetulan, bukan semata-mata disengaja sejak awal.

Hukum Makan dan Minum Sambil Berdiri
Dari umumnya tulisan para ulama dan literatur yang kita baca di mana-mana, kalau ada pertanyaan seperti itu, jawabannya mudah ditebak. Ya, benar, hukumnya haram. Dan dalilnya adalah dalil yang juga sering kita temukan dalam berbagai situs keIslaman. Salah satunya adalah dalil berikut ini:

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sambil minum berdiri. (HR Muslim no. 2024, Ahmad no. 11775 dll)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang minum sambil berdiri. (HR Muslim no. 2025)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian minum sambil berdiri. Barang siapa lupa sehingga minum sambil berdiri, maka hendaklah ia berusaha untuk memuntahkannya.” (HR Ahmad No: 8135)

Sehingga dengan banyaknya literatur yang menyebutkan keharaman makan dan minum sambil berdiri, keseringan kita pun juga akan mengatakan hal yang sama, yaitu makan dan minum sambil berdiri hukumnya haram.

Hadits-hadits Yang Membolehkan
Ternyata setelah ditelurusuri baik-baik di beberapa kitab hadits, kita menemukan juga hadits-hadits yang sekiranya malah membolehkan makan dan minum sambil berdiri. Dan hadits itu juga kuat dari segi sanadnya. Antara lain:

Dari Ibnu Abbas beliau mengatakan, “Aku memberikan air zam-zam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau lantas minum dalam keadaan berdiri.” (HR Bukhari no. 1637, dan Muslim no. 2027)

Dari An-Nazal, beliau menceritakan bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu mendatangi pintu ar-Raghbah lalu minum sambil berdiri. Setelah itu beliau mengatakan, “Sesungguhnya banyak orang tidak suka minum sambil berdiri, padahal aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sebagaimana yang baru saja aku lihat.” (HR Bukhari no. 5615).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Dahulu kami makan di zaman Rasulullah SAW sambil berjalan, juga kami minum sambil berdiri. (HR At-Tirmizy 4/300 dengan status Hasan Shahih)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata, "Nabi SAW minum air zamzam dalam keadaan berdiri (HR At-Tirmizy 4/301 dengan status Hasan Shahih). 

Maka kalau kita simpulkan, ternyata memang ada hadits-hadits yang menyebutkan bahwa para shahabat makan sambil berjalan, atau minum sambil berdiri. Bahkan Rasulullah SAW pun disebutkan minum air zamzam sambil berdiri.

Lepas dari masalah pro dan kontra, kenyataannya hadits-hadits itu memang nyata ada. Dan At-Tirmizy yang meriwayatkannya tegas menyatakan bahwa statusnya adalah Hasan Shahih.

Maksudnya.....???? Menurut sebagian ulama, kalau Al-Imam At-Tirmizy mengatakan suatu hadits berkekuatan hasan shahih, maka ada dua kemungkinan.
1. Kemungkinan pertama, hadits itu punya 2 sanad. Sanad pertama hasan dan sanad kedua shahih.
2. Kemungkinan kedua, hadits itu punya 1 sanad saja, oleh sebagian ulama dikatakan hasan dan oleh ulama lain disebut shahih.

Hadits Lainnya
 Dalam riwayat Ahmad dinyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib mengatakan:
 “Apa yang kalian lihat jika aku minum sambil berdiri. Sungguh aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah minum sambil berdiri. Jika aku minum sambil duduk maka sungguh aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk.” (HR Ahmad no 797)

Dari Ibnu Umar beliau mengatakan, “Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kami minum sambil berdiri dan makan sambil berjalan.” (HR Ahmad no 4587 dan Ibnu Majah no. 3301 serta dishahihkan oleh al-Albany)

Di samping itu Aisyah dan Said bin Abi Waqqash juga memperbolehkan minum sambil berdiri, diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Zubaer bahwa beliau berdua minum sambil berdiri. (lihat al-Muwatha, 1720 - 1722)

Beda Pendapat 
Mungkin anda akan balik bertanya, kenapa kalau bertanya di rubrik ini, selalu malah tambah bingung, karena selalu disuguhi dengan perbedaan pendapat dan dalil yang saling bertentangan. Kenapa tidak ditampilkan satu dalil saja yang paling kuat lalu yang lain ditolak? Juga kenapa tidak diambil satu pendapat saja, lalu yang lain dibuang, biar tidak selalu dalam keadaan bimbang? Jawabnya, kami tidak pernah dididik untuk membuang suatu dalil yang sekiranya masih dijadikan landasan oleh para ulama. Kami juga tidak diajarkan untuk terlalu mudah menafikan jawaban para ulama.

Rupanya pendidikan di Fakultas Syariah LIPIA selalu mengajarkan bahwa kita harus jujur dengan ilmu. Apa yang memang dikatakan oleh para ulama, lepas apakah kita sepakat atau tidak dengan pendapat mereka, harus secara ikhlas kita sampaikan. Bahwa kemudian kita sepakat dengan pendapat mereka, atau tidak sepakat, lain urusannya. Tentunya kami pun tahu bahwa sekian banyak pembaca rubrik tercinta ini terdiri dari beragam latar belakang paham dan mazhab fiqih. Rasanya bukan pada tempatnya untuk menggiring opini pribadi kepada suatu pendapat pribadi.

Mungkin hal itu memang tidak bisa dihindari 100%, namun setidaknya upaya untuk bersikap seimbang, balance, dan adil, tetap harus dijunjung tinggi.

Pendapat 4 Ulama Mazhab Tentang Makan dan Minum Sambil Berdiri
1. Mazhab Al-Hanafiyah
Menurut pandangan mazhab ini, makan dan minum sambil berdiri hukumnya adalah karahah tanzih. Maksudnya dibenci atau tidak disukai. Namun mazhab ini mengecualikannya dengan mengatakan bahwa dibolehkan minum air zamzam atau air bekas wudhu sambil berdiri. Pendapat mazhab ini bisa kita lihat dalam Ibnu Abidin jilid 1 halaman 387.

2. Mazhab Al-Malikiyah
Dalam pandangan mazhab ini, hukum makan dan minum sambil berdiri dibolehkan, tidak ada larangan. Jadi siapa pun boleh untuk makan atau minum sambil berdiri. Kalimat ini tercantum dalam kitab Al-Fawakih Ad-Dawani jilid 2 halaman 417 dan Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 288, maka kita akan dapat keterangan seperti itu.

3. Mazhab As-Syafi'iyah
Mazhab ini mengatakan bahwa minum sambil berdiri adalah khilaful aula (menyalahi keutamaan). Jadi bukan berarti haram hukumnya secara total. Silahkan periksa kitab Asy-Syafi'iyah, semisal kitab Raudhatuttalibin jilid 7 halaman 340 dan kitab lainnya seperti Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 250.

4. Mazhab Al-Hanabilah
Dalam pandangan salah satu riwayat mazhab ini, dikatakan bahwa mazhab ini cenderung tidak mengatakan ada karahah (kebencian) untuk minum dan makan sambil berdiri. 

Namun dalam riwayat yang lain malah disebutkan sebaliknya, yaitu mereka mengatakan justru ada karahah (kebencian). Silahkan periksa Kitab Kasysyaf Al-Qinna' jilid 5 halaman 177 dan juga kitab Al-Adab Asy-Syar'iyah jilid 3 halaman 175-176. 

Lalu bagaimanan kita menyikapi tentang makan minum sambil berdiri. Mari kita lanjutkan ulasan tentang beberapa mazhab berkaitan dengan makan minum. Mazhab pertama adalah mazhab Al-Hanafiyah. Menurut mazhab ini, tindakan ini hukumnya karahah tanzih atau dibenci dan tidak disukai. Tetapi mazhab ini mempunyai pengecualian untuk minum air zam-zam dan air bekas wudhu sambil berdiri.

Mazhab kedua adalah mazhab Al-Malikiyah. Mazhab ini memperbolehkan makan minum sambil berdiri. Sedangkan mazhab As-Syafi’iyah, menyatakan bahwa perilaku tersebut menyalahi aturan. Mazhab keempat adalah mazhab Al-Hanabilah yang menyatakan bahwa makan dan mium sambil berdiri adalah karahah atau ada kebencian.

Setelah membaca keempat mazhab tersebut, ternyata hanya satu mazhab saja yang memperbolehkan makan dan minum sambil berdiri. Sehingga bisa disimpulkan bahwa makan minum sambil berdiri adalah tidak sesuai dengan adab islami meskipun hukumnya tidak sampai haram.

Rasululllah pun minum air zam-zam sambil berdiri karena pada saat itu ada banyak orang yang sedang inum, kemudian beliau meminta untuk diambilkan air zam-zam. Setelah diambilkan, beliau langsung meminumnya. Begitupula dengan makan, Nabi juga pernah makan sambil berdiri hanya dalam posisi darurat saja, seperti dikutip dari Shubhi Sulaiman. Sehingga tidak dijadikannya sebegai kebiasaan. Hal ini senada dengan tausiyah seorang ustadz yang aku dengar dari radio Islami di tape recorder mobilku (aku lupa mengingat nama ustadznya), TVone juga (lupa nama ustdznya tapi ustadz yang logat Sundanya khas, suka agak nyanyi-nyanyi lucu) yang mengatakan makan minum sambil berdiri tidaklah berdosa namun hendaklah membencinya dan tidak menjadikan hal ini sebagai kebiasaan yang lazim.

Dikutip dari Shubhi Sulaiman, Dr. Abdurrazaq Al-Kailani memaparkan bahwa makan dan minum lebih menyehatkan, enak, dan aman, ketika dilakukan dengan duduk agar makanan dan kinuman dapat melewati didnding perut dengan pelan. Hal ini dikarenakan, ketika seseorang berdiri, air akan jatuh ke dasar perut dengan keras. Oleh karena itu makan minum sambil berdiri bisa merusak kesehatan. Jika hal ini dilakukan secara terus-menerus, perut akan longgar dan lemah yang menyebabkan perut akan sulit melakukan pencernaan. Dengan demikian, hendaknya kita mengikuti adab yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Wallahu a'lam bisshowab.

NB : Dirangkum dari berbagai sumber



Thursday, January 10, 2019

BERTAMU DAN MENGINAP DI RUMAH ORANG LAIN

Aku sengaja mencari sumber tentang adab menginap di rumah orang lain karena beberapa waktu lalu aku mengalami sedikit trauma ketika bertamu dan diminta menginap. Sebenarnya dalam prinsip hidup aku tak pernah mau menginap di rumah orang meski saudara sekalipun. Bagaimanapun lebih baik tinggal di hotel, bahkan aku ingat ketika aku menemani papa untuk silahturahim dengan keluarga di Jakarta, susah payah aku membujuk papa untuk menginap di hotel saja. Tapi tak berhasil akhirnya kami tetap menginap di rumah adek kandungku di Cilegon.

Banyak penyebab yang membuat aku tidak mau menginap. Diantaranya :
  1. Tinggal di rumah orang itu kagok dan tak bebas. bukankah di saat travelling kita pasti capek seharian, pasti ingin langsung selonjoran/tidur? Nah hal ini tidak mungkin bisa kita lakukan jika kita numpang dan menginap di rumah orang entah itu saudara, teman atau siapapun. Minimal harus berbasa-basi cerita.
  2. Risih. Sebagai seseorang yang sudah berhijab syar'i, menginap di rumah orang akan sulit dalam menjaga hijab, yang paling pasti kita harus seharian benar pakai jilbab tanpa dilepas, kebayang gak sih harus seharian pakai jilbab, bahkan sampai di kamar sekalipun.
  3. Rasa was-was ada sesuatu yang bisa menjadi fitnah, jika teman kita tersebut punya suami, anak laki-laki atau ayah.

Mungkin hanya 3 item di atas yang bisa disebutkan, tetapi sebenarnya masih banyak hal-hal kecil lain yang tak dapat aku tuliskan, misalnya saja membuat tuan rumah jadi sibuk dsb.

Jadi aku sudah 3 kali menginap di rumah teman, karena ditawari dan setengah terpaksa juga.
1. Aku menginap di rumah teman SMA, seorang muslimah sejati yang tahu betul tentang adab-adab menerima tamu. Aku dilayani seperti ratu. Semuanya dilayani sempurna. Aku sendiri merasa kagok dengan pelayanan ini. Jadi gak enak hati.

Kenapa aku sampai menginap di rumahnya, ceritanya begini. Sejak lulus SMA hanya akulah dari alumni kami yang sekalipun tak pernah hadir di dalam pertemuan reuni. Temanku ini berkali-kali menawari ikut dan aku selalu punya beribu alasan untuk menolak (alasan akupun bukan dibuat-buat semua fakta). Namun pada kali ini aku sedang tak punya alasan lagi. Kebetulan aku sudah merencanakan cuti dan ingin liburan ke Bogor dengan teman yang lain lagi. Sehingga hari yang ditentukan untuk reuni dan liburan itupun matching banget.

Pada awalnya aku ragu dan khawatir sekali untuk menginap di rumahnya karena dia kan punya suami dan punya anak laki-laki. Hal ini menjadi hambatan besar buatku. Aku galau dan berpikir keras bagaimana untuk menolak tawarannya. Akhirnya aku keceplosan juga menolak dan aku kemukakan alasan keberatanku, salah satunya tak enak dan risih sama suaminya. Termasuk tentang jaga hijab dsb.

Saat itu dia bilang tak usah khawatir Esi, suaminya buta karena mengidap diabetes akut. Ohh... ..? Akhirnya jadilah aku menginap

2. Pengalaman kedua adalah menginap di rumah teman yang tadi aku ceritakan ingin berlibur dengannya. Agak nyaman sih, karena temanku ini masih single dan dia punya rumah sendiri. Namun gak nyaman-nyaman banget juga sih. Karena pola hidup orang lain kan berbeda dengan diri kita.

3. Ketiga kali aku kembali diajak menginap oleh teman yang no 2 di atas. Efek liburan 1 hari di kawasan puncak bulan Juli lalu menyenangkan maka kami kembali merencanakan libur dan rekreasi ke Bandung. Aku mau saja diajak menginap. Namun diluar prediksi aku tidak tidur di rumahnya sendiri melainkan menginap di rumah orang tuanya. Aku kaget dan sebenarnya agak kecewa, namun dia pasti punya alasan tersendiri mengapa aku tidak diajak ke rumahnya. Entahlah...

Inilah pengalaman menginap yang paling membuat aku trauma. Aku ditempatkan tidur di lantai bawah rumahnya, sedangkan dia bersama ibu, dan 3 saudara perempuannya di lantai atas. Pada awalnya aku hanya ngeri dan takut sendiri. Jadi tak nyenyaklah tidurku. Untung hanya 1 malam karena keesokan harinya kami berangkat ke Bandung dan menginap selama 2 malam.

Sepulang dari Bandung aku kembali menginap di rumahnya. 2 malam pula, karena aku tidak memprediksi kalau aku akan menginap di rumah orang tuanya. Disinilah tragedi itu terjadi. Aku baru tahu bahwa kamar yang aku tempai itu adalah kamar bapaknya. Pas aku kaget, kakak perempuannya bilang nanti gantian "Abah" yang menginap di rumahnya. Ternyata itu cuma omongan saja. Ketika tengah malam aku bangun ke kamar mandi buat wudhu untuk Tahajud aku kaget melihat Abahnya tidur di kursi ruang tamu. Jadi dilantai bawah ini hanya ada aku dan Abah,. Ini hal yang paling aku takuti. Aku berasa jijik tidur di kamar yang peruntukan laki-laki. Menghabiskan 2 malam itu rasanya beban sekali bagiku.

Dimalam terakhir aku menginap ibunya yang mengidap gangguan jiwa menjadi kambuh berat. Sejak menjelang Ashar dia ngamuk, berteriak-teriak, ngoceh dan menceracau tak jelas, sehingga suara TV, pembicaraan tak terdengar lagi. Suasana menjadi sangat tegang dan aku sesak rasanya. Aku bicara pada temanku itu , "Kok mama jadi kacau ya seharian ini. Sepertinya ada sesuatu yang membuat dia sangat tertekan sehingga emosinya semakin tak terkendali". Temanku dan saudara-saudaranya cuma bilang ahhh sudah biasa kok. Loh bukankah di malam pertama tidak seperti ini kondisinya. Malam itu mungkin sampai hampir jam 2 malam aku tertidur juga karena lelah. Bangun subuh kembali aku mendengar ceracau mamanya. Artinya dia gak berhenti dong!

Ini hari terakhir aku di rumahnya. Jam 12 siang aku akan pulang. Dan aku kaget setelah ku dengar secara rinci apa yang diocehkan oleh mamanya. Ada kata pelacur, sundel bolong dsb. Dia seperti kesal kepada wanita, dan menurut cerita kakak perempuan temanku bahwa mamanya mengidap gangguan jiwa disebabkan oleh kecemburuan tak berujung pangkal pada abahnya. Aku cuek saja .... Tapi tanpa sengaja kakak temanku bilang bahwa mamanya ngamuk karena dia menuduh aku istri simpanan abahnya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun....

Apa yang aku khawatirkan terjadi. Fitnah dan tuduhan itu... padahal tidak terjadi apa-apa antara aku dan abah. Namun aku berpikir logis, wajar saja mamanya cemburu. Aku di lantai bawah hanya berdua dengan abah, dan aku ditempatkan di kamar tidur abah. Wajar... Temanku itu saja yang tak wajar menempatkan aku. Sejak hari pertama aku tahu bahwa abah itu tidak pindah ke rumahnya temanku bahkan aku tahu beliau malah tidur di ruang tamu yang juga berada di lantai bawah, aku sudah sangat takut dan sangat tidak nyaman. Aku tak bisa protes dan tidak berani bicara. Aku hanya menghitung jam agar hari segera berlalu dan ingin cepat pulang.

Sebelum ini aku sudah sangat sering membaca, atau mendengar tausiyah tentang adab menginap dan bertamu ke rumah orang lain. Jadi itulah mengapa aku tak pernah mau menginap di rumah orang lain bahkan saudara atau family sekalipun. Selama ini aku selalu ke hotel, dan kejadian buruk ini terjadi untuk menjadi pelajaran bagi aku. Hal ini membuat aku sangat trauma, meskipun yang memaki itu orang gila namun kata-katanya sangat menyakitkan dihatiku. Pelacur, sundel bolong. Astaghfirullah...! Ya Allah.....!  Lain kali harus bersikap tegas dan berani berkata "TIDAK", serta selalu percaya dengan suara hati nurani. Bila ragu batalkan!

Add caption