Friday, November 10, 2017

BUKA TUTUP JILBAB

Berita yang sedang viral beberapa hari belakang ini yaitu seorang presenter melepas jilbabnya. Aku cuma bisa istighfar dan merasa kasian. Memang aku atau siapapun tidak boleh terlalu ikut campur, memvonis atau apapun. Hidupnya adalah tanggung jawabnya sendiri pada Allah. Dia memang berhak membuat keputusan untuk kehidupannya sendiri dengan segala alasannya. Sebagai kaum yang paham tentang kewajiban berhijab akan merasa sangat sedih dengan kondisi seperti itu. Kenapa hidayah yang sudah datang justru diingkari. Sesungguhnya Allahlah yang mebolak-balikkan hati manusia, maka wahai ukhti teruslah berdo’a memohon pada Allah untuk tetap dalam keimanan kita,

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubanaa ‘ala tho’atik” [Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“ Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.”

Di zaman yang serba canggih ini, banyak wanita yang mengaku muslimah tapi tenang-tenang saja ketika memamerkan auratnya di depan umum. Padahal agama Islam menyuruh seluruh umatnya untuk menutupi auratnya ketika di depan orang lain. Selain itu, banyak perempuan yang tidak istiqomah (berpegangan erat) dengan jilbab. Kadang-kadang mereka mengenakan hijab, kadang-kadang tidak. Padahal menutupi aurat itu hukumnya wajib, termasuk mengenakan hijab.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
"Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri orang-orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tak diganggu dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab: 59).

Lantas apa hukuman bagi wanita yang suka lepas pasang jilbab atau tidak istiqomah mengenakan jilbab? Jika diteliti lebih jauh lagi, apa bedanya perempuan yang mempermainkan jilbab dengan orang yang mempermainkan agama? Perempuan yang mempermainkan jilbab bisa dianggap sebagai orang yang munafik dan tidak patuh terhadap perintah Allah.

"Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentu kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam." (QS. An-Nissa: 140).

Allah SWT melarang umatnya memperolokan atau mempermainkan ayat-ayat yang telah diturunkan. Dalam arti lain, orang yang mengingkari atau tidak patuh terhadap ayat-ayat Alquran sama saja dengan memperolokan ayat-ayat Allah.

Kembali lagi kepada perempuan yang mempermainkan jilbab dan menganggap jilbab itu hanya hiasan, atau sekedar pakaian yang bisa dibuka kapan saja mereka mau, maka mereka sudah dianggap sebagai golongan orang munafik. Dan tempat untuk orang munafik adalah neraka Jahannam.

Sahabat muslimah, maksud lepas pasang jilbab di sini adalah perempuan yang kadang memakai jilbab ketika sedang di luar rumah, tapi sering pula mereka melepas jilbabnya ketika di luar rumah. Atau dalam beberapa kasus, ada perempuan yang mengenakan jilbab hanya untuk cari sensasi, bukan semata-mata karena Allah, sehingga bila ada kecewa, sakit hati atau masalah kehidupan wanita tersebut dengan mudah melepaskan jilbab yang selama ini sudah dikenakannya. Wahai ukhti fillah istiqomah dan taatlah dalam perintah Allah tentang berhijab, bahkan sempurnakanlah caramu berhijab. Hidup ini singkat dan sungguh kehidupan di dunia ini hanya perhiasan dan tempat tinggal sementara. Jangan sampai kita menyesal pada saat sudah di alam barzah, ketika catatan amal dan kebaikan kita dibuka. Tentu tidak mungkin kita kembali lagi untuk bisa memperbaiki diri, waktumu sudah habis. Renungkanlah saudaraku muslimah.

Teruslah perbaiki caramu berhijab ukhti fillah

Note : Artikel ini disarikan dari berbagai sumber via google searching


Sunday, October 15, 2017

SAYANGI IBUMU


وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ - ١٤-
“Dan Kami Perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tua-nya. lbunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (Luqman 14)

Ibumu yang menyediakan bahunya untuk menumpu kain penggendong,..

Cerita hikmah dimasa lalu, masa Rasulullah SAW sudah sangat sering kita dengar dari berbagai sumber baik itu para ulama, maupun diberbagai media lainnya. Menyimak dan mendalami cerita ini hendaknya kita sama-sama belajar mengingat dan mengambil contoh.

Tersebutlah seorang ahli ibadah pada masa Rasulullah SAW. Hari-hari digunakan untuk berdzikir dan mengerjakan sholat tahajjud. Ia pun senang bersedekah dan mengerjakan kebaikan-kebaikan. Orang-orang memanggilnya Alqomah. Ia tinggal di sebuah rumah bersama istri yang dicintainya. Sementara ibu Alqomah yang sudah tua tinggal sendiri di desa.

Suatu ketika Alqomah jatuh sakit. Makin lama sakitnya makin parah. Hingga ia pun tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa berbaring di atas tempat tidur. Istrinya lah yang merasa bahwa Alqomah sedang mengalami naza’ atau sakaratulmaut. Ia pun mengutus seseorang untuk melaporkan keadaan ini kepada Rasululloh SAW. Setelah mendengar cerita itu, Rasullullah SAW mengutus tiga orang sahabat yaitu Bilal, Amar dan Suhaib untuk menengok Alqomah. Beliau berpesan agar mereka mengajarkan kalimat talqin pada Alqomah.

Sesampainya di rumah Alqomah, ketiganya langsung menemui Alqomah yang sedang mengalami sakaratulmaut. Mereka lalu menuntunnya agar melafadzkan kalimat Laa ilaaha illallah. Tapi apa yang terjadi? Mulut Alqomah tidak terbuka sedikitpun, terkunci. Berkali-kali ketiga pemuda itu mengajarkan, berkali-kali pula mulut Alqomah seperti terkunci. Ketiganya heran. Padahal Alqomah adalah orang yang ahli ibadah, tapi kenapa tidak bisa membaca kalimat sesederhana itu.

Dengan menyimpan rasa tidak percaya, ketiganya pulang menghadap Rasullulah. Mereka langsung menceritakan kejadian itu.

Rasullulah bertanya.‘’Apakah orang tua Alqomah masih hidup?’’
‘’Wahai Rasullullah…Alqomah mempunyai seorang ibu yang sudah tua’’
‘’Kalau begitu pergilah kalian menemui Ibunda Alqomah. Jika ia masih kuat untuk berjalan, mintalah ia agar datang kemari. Tapi jika tidak, biar aku saja yang kesana’’

Pergilah Bilal, Amar dan Suhaib ke rumah Ibunda Alqomah. Sesampainya disana mereka langsung mengutarakan maksud kedatangan mereka. Tanpa berpikir panjang Ibunda Alqomah bergegas memenuhi panggilan Rosululloh SAW walaupun berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat.

Sesampainya di rumah Rasululah, Ibunda Alqomah diberitahu mengenai keadaan anaknya. Namun ia terlihat biasa saja mendengar berita itu seolah tidak mau tahu tentang apa yang sedang dialami oleh Alqomah, putranya. Hal ini membuat Rasulullah SAW ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi antara ibu dan anak tersebut.
“Wahai Ibunda Alqomah….Aku ingin bertanya kepadamu dan jawablah pertanyaanku dengan jujur. Bagaimana penyaksian Ibu terhadap putra Ibu yang bernama Alqomah….?”

Ibunda Alqomah diam sejenak, lalu berkata….“Alqomah adalah seorang anak laki-laki yang ahli sholat, ahli puasa dan ahli shodaqoh…Akan tetapi….”Ibu Alqomah tidak meneruskan kalimatnya. Matanya berkaca-kaca seolah memendam suatu beban perasaan yang sangat berat.
“Akan tetapi apa…Ibu…?” tanya Rosululloh SAW.
“Aku sangat marah kepadanya…”Ibu Alqomah tidak dapat membendung air matanya. Ia menangis terisak-isak dihadapan Rosululloh SAW.
“Apa masalahnya….Ibu….?”
“Semenjak Alqomah menikah dengan perempuan yang dicintainya… ia mulai melupakan aku…. meremehkan aku…. ia lebih mementingkan kepentingan istrinya daripada aku. Ia lebih mendengar kata-kata istrinya daripada nasehatku. Padahal akukan ibunya… aku sangat sakit hati, karena Alqomah tidak pernah sedikitpun menyadari kesalahannya lalu minta maaf kepadaku… sampai sekarang aku tidak ridho kepadanya…”

Rasulullah SAW telah menemukan jawaban atas keadaan yang dialami Alqomah. Kemarahan ibunyalah yang menyebabkan Alqomah mengalami beratnya sakaratulmaut, karena lisannya tidak mampu melafadzkan kalimat “Laa ilaaha illalloh…”
“Wahai Bilal…” panggil Rosululloh SAW.
“Cari dan kumpulkan kayu bakar yang banyak”

Ibunda Alqomah merasakan sesuatu yang janggal dari ucapan Rosululloh. “Untuk apakah kayu bakar itu, wahai Rosululloh…apa yang akan kau perbuat terhadap Alqomah?”
“Membakarnya” jawab Rosululloh SAW singkat.
“Apa?! Wahai Rosululloh…betapapun marahnya aku kepada Alqomah, mana mungkin aku sampai hati kalau ia dibakar api…mohon jangan lakukan itu…”
“Tahukah Ibu…Adzab Alloh lebih mengerikan dan lebih kekal. Kalau memang Ibu ingin Alloh mengampuni dosa Alqomah, maka Ibu harus mau memaafkan semua kesalahan Alqomah terhadap Ibu lalu Ibu meridhoinya…Sebab semua ibadah yang telah dikerjakan Alqomah, seperti, sholat, berpuasa dan bersedekah, semua itu tidak ada artinya bagi Alqomah selama Ibu masih memendam amarah terhadapnya..”

Walau bagaimanapun, seorang ibu tetaplah ibu yang tidak mungkin tega melihat anaknya menderita. Ibunda Alqomah pun tidak rela kalau anaknya mendapat adzab dari Alloh.

“Baiklah wahai Rosululloh, aku bersaksi kepada Alloh dan para malaikatNya. Aku juga bersaksi dihadapan orang-orang iman yang hadir disini nahwa sekarang juga aku memaafkan semua kesalahan yang pernah dilakukan oleh Alqomah terhadapku…dan aku meridhoinya…”
“Bilal…!”
“Ya, Rasulullah…”
“Pergilah ke rumah Alqomah. Lihatlah, apakah ia sudah bisa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh….aku kuwatir jangan-jangan pernyataan Ibunda Alqomah tadi tidak berasal dari dalam hatinya melainkan hanyalah sungkan kepadaku”

Berangkatlah Bilal menuju rumah Alqomah. Begitu sampai didepan rumah ia menjumpai telah banyak orang-orang berdatangan. Tiba-tiba Bilal mendengar suara Alqomah dengan Faseh dan jelas melafadzkan kalimat Laa ilaaha illalloh…Sampai didalam rumah Bilal menjumpai Alqomah telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Lalu Bilal berkata….“Wahai orang-orang yang hadir disini. Ketahuilah bahwa amarah ibunya telah menghalang-halangi Alqomah untuk membaca kalimat talkin. Dan sekarang berkat ridho ibunya ia bisa mengucapkan kalimat itu…”

Tak lama kemudian Rosululloh beserta orang-orang iman datang berta’ziyah. Mereka lalu memandikan, mengkafani dan mensholati jenazah Alqomah. Kemudian diantar beriringan oleh Rosululloh dan orang-orang iman menuju tempat pemakaman.

Pemakaman Alqomah pun selesai dilaksanakan. Sementara para pengantar masih berada ditempat pemakaman, Rosululloh SAW bersabda….“Wahai orang-orang iman, muhajir dan anshor……Siapa saja yang mengutamakan kepentingan istrinya hingga melalaikan ibunya, maka ia akan mendapatkan laknat Alloh, laknat para Malaikat dan laknat semua para manusia. Alloh tidak menerima amal ibadahnya, baik yang wajib maupun yang sunnah, kecuali jika ia bertaubat dan berbuat baik serta mencari ridho ibunya. Sebab ridho Alloh beserta ridhonya ibu dan murka Alloh beserta murkanya ibu”.

Cerita diatas menjelaskan betapa dahsyatnya ridho seorang ibu.

Hak-Hak Orang Tua

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً -٢٣- وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً -٢٤-
Dan Tuhan-mu telah Memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhan-ku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (Al-Isra’ 23-24)

Dalam ayat ini, Allah melarang kita menyakiti orang tua sekecil apapun bentuknya. Bahkan hanya dengan ucapan “ah” sekalipun.

;فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ
janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah

وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
“dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Menurut Imam Ja’far As-Shodiq, jika ada perkataan yang lebih ringan dari “ah” maka Allah akan menyebutkan kata itu. Sekecil apapun, kita dilarang keras untuk menyakiti orang tua. Mengapa Allah memberi penekanan khusus untuk berbakti kepada orang tua ketika telah lanjut usia?

Terkadang, ketika anak telah tumbuh besar, mandiri dan mampu. Dia merasa tak butuh lagi kepada orang tua. Akhirnya dia bersikap meremehkan dan merasa terganggu mendengar bermacam nasehat dan permintaan orang tuanya. Dia telah lupa bahwa dirinya yang hebat saat ini adalah berkat orang tuanya. Karena dia tidak akan lahir tanpa orang tua

Jangan sakiti orang tua kita dengan hal yang besar atau sekecil apapun. Ketahuilah, Allah swt menekankan pentingnya berbakti kepada orang tua karena bakti ini adalah hal yang sulit. Apapun perintahnya, jangan pernah kita tolak. Tetaplah menjawab mereka dengan perkataan yang sejuk dan menyenangkan.

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang”

Dan jangan lupa untuk mendoakannya di setiap waktu. Karena doa kita yang akan meringankan beban mereka ketika di Hari Pembalasan kelak. Secara mutlak, ayah dan ibu harus memperoleh penghormatan yang tinggi. Namun penghormatan kepada ibu harus lebih tinggi. Karena pengorbanan seorang ibu begitu besar untuk buah hatinya.

Dimulai dari masa kehamilan yang begitu berat. Sebagian ibu tak bisa makan, menderita saat terkena matahari dan bermacam kesulitan yang ia hadapi. Karena itu, Allah menyuruh kita untuk bersyukur kepada-Nya dan kepada orang tua. Karena seluruh kenikmatan Allah tidak akan sampai kepada kita tanpa melalui kedua orang tua.

مَا مِنْ مُسْلِمٍ لَهُ وَالِدَانِ مُسْلِمَانِ يُصْبِحُ إِلَيْهِمَا مُحْتَسِباً ، إِلَّا فَتَحَ لَهُ اللهُ بَابَيْنِ – يَعْنِي : مِنَ اْلَجَّنةِ – وَإِنْ كَانَ وَاحِدًا فَوَاحِدٌ ، وَإِنْ أَغْضَبَ أَحَدُهُمَا لَمْ يَرْضَ اللهُ عَنْهُ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ ، قِيْلَ : وَإِنْ ظَلَمَاهُ ؟ قَالَ : وَإِنْ ظَلَمَاهُ
“Tidak seorang pun dari kaum Muslimin yang mempunyai kedua orang tua beragama Islam yang berbakti kepada mereka berdua dengan mengharap pahala (dari Allah) melainkan Allah akan membukakan dua pintu –maksudnya pintu Surga- untuknya. Jika tinggal salah satu dari keduanya yang masih hidup, maka yang akan dibukakan adalah satu pintu. Jika dia menjadikan salah satu di antaranya marah, Allah tidak akan ridha (kepadanya) hingga orang tuanya ridha kepadanya.“ Lalu ada yang bertanya, “Meskipun kedua (orang tua)nya itu menzaliminya?” Ibnu Abbas menjawab, “Meskipun keduanya menzaliminya,” (Hasan dengan dua jalan. Said adalah rawi yang majhul)

Menurut Syaikh Dr. Muhammad Luqman as-Salafi, Rektor Universitas Islam Ibnu Taimiyah, Darussalam – India, dalam Syarah Adabul Mufrad menjelaskan beberapa hal terkait dengan hadits tersebut. Diantaranya: Maksud dari Wain Dzolamâhu adalah keduanya (orang tua) menzaliminya dalam berbagai perkara dunia.

Berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua adalah wajib, walaupun keduanya telah menzalimi anak dalam perkara dunia. Derajat hadits di atas dhâ’if, akan tetapi makna yang dikandungnya dapat dibenarkan. Jadi, kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua tetap harus ditunaikan meski kedua orang tua berbuat zalim.

“Dalam suatu kejadian, jika seseorang tanpa sadar lalai dan “marah” kepada kedua orangtuanya, sebagaimana kasus yang ditanyakan, maka ia harus segera memohon ampun kepada Allah Swt, serta meminta maaf dan keridhaan orangtuanya. Hati orangtua pada umumnya adalah hati yang lemah lembut dan pemurah; maka mereka pun akan mudah memaafkan kelalaian anak-anaknya, jika anak-anaknya tersebut meminta maaf kepada mereka

Dari keterangan tersebut, bisa dipahami bahwa kesalahan atau kedzaliman yang pernah dilakukan oleh orang tua kepada anaknya tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk marah kepada orangtuanya. Dengan kata lain, kita tetap wajib berbuat baik kepada kedua orangtua meski mereka pernah berbuat dzalim kepada kita anaknya. Semoga kita termasuk anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua kita . Âmîn Yâ Robbal ‘Âlamîn. Semoga aku menjadi hamba yang selalu diberi petunjuk kebenaran.

Air mata yang tak pernah berhenti mengalir dalam setiap do'anya yang beriisi kebaikan untukmu, lantas sebegitu angkuhnya dirimu melupakannya???

Monday, October 2, 2017

MENGHADAPI SENTILAN/EJEKAN KARENA BERHIJAB SYAR’I


Pagi ini aku iseng membuka sebuah akun sosmedku, kulihat ada sebuah notifikasi yang merupakan respon dari tag fotoku di upacara hari Kesaktian Pancasila yang berbarengan dengan hari Batik Nasional kemaren. Di foto itu aku memakai seragam batik, tetapi memang jilbabku sangat panjang sehingga batiknya hampir tidak terlihat. Komennya biasa saja namun jika mau didalami makna yang tersirat kalimat tersebut sebuah kritikan tentang khimarku yang terlalu panjang (alias berlebihan) sehingga blazer batikku tak nampak karenanya. Bisa jadi maknanya kalau berpakaian/berjilbab harus disesuaikan agar apa yang ingin ditampilkan nampak dipermukaan. Astaghfirullah...! Maafkan aku ya Allah ketika hati ini terasa berdetak membaca komen wanita itu.

Sambil terus beristighfar aku membalas komen tersebut “Jika manusia tak dapat melihat, biarlah Allah saja yang tahu saat itu saya memakai baju batik, karena saya sangat mencintai khimar panjangku”. Astaghfirullah...astaghfirullah...astaghfirullah. Aku terus beristighfar memohon ampun karena aku sempat terpancing emosi dengan kalimat-kalimatnya. Aku mohon ampun ya Allah. Aku mengetahui bahwa Islam tidak memberi celah sedikitpun bagi pengikutnya membalas ejekan orang lain. Walaupun demi untuk menyampaikan kebenaran, walaupun dengan alasan untuk “membela” Islam, Allah tidak pernah memberi izin untuk membalas ejekan. Al-Qur’an mengajarkan hanya ada satu cara untuk menghadapi pandangan sinis atau ejekan yaitu diam dan berpaling. Bahkan Allah melarang kita melayani orang-orang “bodoh” yang hanya bermodal cacian/ejekan.

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ -٥٥-
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, salam bagimu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.” (Al-Qashas 55)

Dan Allah berfirman lagi : 

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ -١٩٩-
“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf 199)

Memang ini bukan pertama kali aku menerima sikap agak kurang menyenangkan tentang caraku berhijab. Masih jelas dalam ingatanku saat itu aku travelling ke Turki bersama group yang terdiri dari wanita-wanita luar biasa (kaya, berkedudukan dan trendy dalam berbusana). Teringat ketika salah seorang dari mereka sempat ngomong agak keras padaku, “Echie jilbabmu itu terlalu panjang  ngeliatnya tuh riweh dan gak keren. Coba dipendekin atau dilipat begini (dia mengangkat dan melipat jilbab bagian depanku dan melampirkannya ke bahu”. Aku hanya tersenyum saja dan menurunkan kembali jilbab panjangku pada posisinya semula. 

Ini foto yang menuai komen, jilbabku terlalu panjang menutupi batiknya
Ini jilbab panjangku yang dibilang riweh dan gak keren
Lalu pernah ada kawan sekantor yang terang-terangan “nyablak” di depanku. Ihhhh...amit-amitlah aku blom mendekati mati untuk memakai jilbab panjang kayak seprai gitu. Masihlah pengen bergaya dulu. Suamiku jijik dan gak suka gaya jilbab seperti ustadzah, mirip emak-emak kampungan! Aku hanya diam dan tersenyum terhadap semua perlakuan itu. 

Ini jilbabku yang dibilang seprai
Tidak pahamkah ukhti bahwa HARAM hukumnya menghina/melecehkan/ mencibir/mengejek wanita yang berjilbab syar'i, jilbab lebar maupun bercadar, misalnya dengan sebutan ninja, setan, kemah berjalan, karung, gorden, taplak meja, seprei , kampungan, emak-emak hantu, teroris, ekstrimis,dll. Haram hukumnya menyakiti hati sesama muslim meskipun hanya bercanda, apalagi sungguh-sungguh/sengaja.

Wahai ukhti sesama muslimah, jika mau diuraikan sangat panjang proses hijrahku sampai mampu berjilbab syar’i seperti ini. Semua memerlukan usaha dan pelajaran yang banyak . Aku pernah memakai jilbab cekek, aku pernah memakai jilbab trendy ala Hijabers, mukaku selalu sempurna dengan polesan make up (alis, eyeshadow, blush on, lipstick) tetapi ketika aku sudah sangat paham landasan dalilnya inshaa Allah aku akan terus istiqomah seperti sekarang ini biarpun seperti emak-emak. Aku ikhlas meninggalkan semua yang menjadi keindahan dunia. Meski orang mengomentari mukaku pucat karena tanpa polesan make-up lagi aku tidak begitu risau. Bahkan aku dalam proses untuk mengenakan cadar/niqob. Ya Rabb...istiqomahkan hamba.

Sejarah panjang aku berhijab adalah dalam sebuah kajian aku mendengar ayat ini :

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Ahzâb/33:59].

Lantas dalam rangka terus memperbaiki diri untuk mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang sebenarnya yaitu kampung akhirat aku tak pernah lelah belajar untuk menyempurnakan hijabku. Aku mendapatkan kembali tuntunan bahwa  Allah berfirman, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak.” (An-Nur: 31)

Berdasar surat tersebut akupun kembali belajar tentang bagaimana jilbab yang sesungguhnya dipersyaratkan oleh aturan syariat Islam. Syaikh Al Albani rahimahullah pernah mengatakan, “Tujuan pakaian muslimah adalah agar tidak menggoda. Tujuan ini bisa tercapai hanya dengan wanita berbusana longgar. Adapun berbusana ketat walau itu menutupi warna kulit, namun masih menampakkan bentuk lekuk tubuh seluruhnya atau sebagiannya. Sehingga hal ini pun menggoda pandangan para pria. Dan sangat jelas hal ini akan menimbulkan kerusakan, tanpa diragukan lagi. Yang tepat adalah pakaian muslimah haruslah longgar (tidak ketat).” (Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah fil Kitab was Sunnah, hal. 131).

Dari seluruh kajian yang pernah aku dapatkan maka kesimpulannya adalah sifat hijab yang syar’i harus memenuhi aturan di bawah ini : :
1. Hijab itu hendaknya menutupi seluruh badan dari atas kepala sampai di bawah mata kaki (wanita wajib memakai kaos kaki). 
2. Jilbab itu harus luas dan longgar sehingga tidak menampakan bentuk/lekuk tubuh dan anggota –anggota badan.
3. Kain jilbab harus tebal sehingga tidak menampakkan warna kulit atau yang lainnya.
4. Tidak bersifat menghias tubuh sehingga menarik pandangan para pria, karena tujuan hijab itu adalah menuupi keindahan tubuh.
5. Tidak menyerupai pakaian pria (celana)
6. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
7. Tidak mencolok dan menarik pandangan orang.
8. Tidak memakai pewangi atau minyak wangi yang tercium baunya.

“Apapun pendapat manusia tentang hijabku bukanlah suatu masalah karena aku sudah ikhlas melabuhkannya hanya karena Allah”(my Quote)

Setiap Muslim yang beriman kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan kebenaran agama-Nya wajib meyakini bahwa semua aturan yang ditetapkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala merupakan kemaslahatan, termasuk didalamnya yang berkaitan dengan kemaslahatan, kebaikan dan penjagaan bagi kesucian diri dan kehormatan para Muslimah yaitu pakaian dan perhiasan wanita Muslimah

Seorang wanita Muslimah yang telah mendapatkan anugerah hidayah dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala untuk berpegang teguh dengan agama ini, hendaklah ia merasa bangga dalam menjalankan hukum-hukum syariat-Nya. Karena dengan itu, ia akan meraih kemuliaan dan kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Dan semua itu jauh lebih agung dan utama dari pada semua kesenangan duniawi yang dikumpulkan oleh manusia.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka (orang-orang yang beriman) bergembira (berbangga), karunia Allâh dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa (kemewahan duniawi) yang dikumpulkan (oleh manusia)”. [Yûnus/10:58]


My Quotes


 

Monday, September 4, 2017

FENOMENA JILBAB GAUL

Sebagai umat muslim kita patut bersyukur karena kesadaran memakai jilbab telah mulai tumbuh di kebanyakan wanita muslimah di tanah air. Memakai jilbab sudah bukan merupakan barang aneh atau terlarang di negeri kita. Bisa dikatakan bahwa hampir sebagian besar wanita sudah berjilbab saat ini. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan terbukanya era globalisasi, trend dan gaya berjilbab begitu luar biasa gaungnya. Baik melalui media massa maupun media sosial para perancang pakaian dan mereka yang menyebut kelompoknya sebagai hijabers menciptakan suatu tampilan berhijab trendy yang modis dan cantik. Bahkan perkembangan busana hijab sangat pesat dengan perubahan yang sangat signifikan. Modifikasi cutting dan model pakaian yang lebih mementingkan faktor keindahannya, keanggunan dan gaya. Berlomba-lomba para desainer muda menciptakan seni gaya busana hijab yang sangat luar bisa.

Sehingga mereka lupa dengan aturan berjilbab yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam surat Al Ahzab /33 :59. “ Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Sungguh syetan tak akan pernah berhenti untuk menjerumuskan manusia. Setelah manusia mempunyai kesadaran untuk mengenakan jilbab maka digodanya pula para muslimah dengan cara berpakaian jibab yang modis dan trendy yang menawarkan tampilan yang cantik dan modis untuk dianggap modern alias masa kini

Sejatinya, penutup kepala seperti itu bukanlah jilbab dalam perspektif hijab yang disyariatkan Islam. “Kerudung gaul” itu banyak sekali rupa dan bentuknya. Ada istilah jilbab cekek, ada pula pashmina yang dililit sedemikian rupa lalu dibiarkan menjuntai sehingga menyerupai rambut. Untuk model pakaianpun berbagai macam ada pakaian tipis dan transparan, atau ketat sehingga menampakkan lekuk tubuhnya. Bagi kita yang paham tentang aturan berjilbab secara syar’i akan sangat terlihat janggal tampilan muslimah yang trendy tersebut. Bayangkan saja kepala dibalut kerudung atau jilbab, namun berbaju atau kaos ketat, bercelana jeans atau legging yang full pressed body, dan lain sebagainya. Dan tidak berhenti disitu adapula fenomena punuk onta. Inner alias dalaman jilbab yang diberi sanggul menjulang ke atas menyerupai punuk onta, tujuannya agar jilab yang terjuntai akan menjadi semakin indah.


Sebagai kaum berpikir dan mau mengkaji pilihlah sesuai syariat
Evaluasilah diri kita
Salah satu fenomena lagi " Punuk onta"


Fenomena kerudung gaul atau jilbab cekek atau jilbab ala hijabers adalah fenomena yang sangat gaung saat ini, dimana seorang perempuan atau wanita muslim dalam benaknya dia ingin menutup aurat, namun juga ingin tampil pamer modis dan cantik. Sebagian mereka berkilah , “Bukankah masih mending memakai kerudung atau jilbab gaul, daripada tidak sama sekali?!” Yang lainnya menyatakan, “Ini kan masih belajar untuk menutup aurat.”

Baiklah cukup bisa dipahami jika hal tersebut dianggap sebagai sebuah proses belajar menutup aurat (ingat metamorfosis diriku juga melalui proses panjang sebelum akhirnya seperti sekarang ini), tapi sebagai seorang muslimah yang baik kita harus terus memperkaya diri tentang pengetahuan agama untuk menjadi muslimah sejati yang pada akhirnya kita mengharap ridho Allah. Kita tak boleh berhenti untuk menambah ilmu, yang bisa dilakukan dengan berbagai cara antara lain : melalui majelis taklim, membaca, atau mempelajarinya lewat media sosial yang baik. Masa iya sih usia 50 tahun masih berpenampilan dengan jilbab cekek dan baju full pressed body??? Lantas sampai kapan kita akan membenahi diri kembali pada syariat alias aturan yang digariskan Allah? Usia 50 tahunan artinya sisa umur kita untuk kembali ke kampung akhirat tinggal sedikit lagi.Kapanlagi kita akan patuh?


Apakah disaat sudah berusia 50 tahun kita masih ingin tampil dengan gaya "jilbab cekek" dan busana full pressed body???
Memang tata cara berbusana seseorang tergantung dari kebiasaan, cara pandang dan pola asuh yang diberikan oleh orang tua. Sebagai contoh sejak dari kecil orang tuaku selalu membiasakan kami untuk tidak mengenakan busana yang ketat dan pendek (maaf bukan untuk menyombongkan diri) sehingga sampai saat ini aku akan menjadi risih jika mengenakan baju pas. Saat masih belum berjilbabpun aku selalu membeli pakaian satu nomer lebih besar dari ukuran yang sebenarnya. Ada perasaan risih dan canggung bahkan berasa sesak nafas jika aku memakai baju ngepas.

Sedangkan cara pandang itu sendiri adalah persepektif masing-masing orang. Ada seorang teman yang selalu bilang jika melihat orang berpakaian longgar (mungkin juga termasuk aku yang dimaksudkannya ????) itu “ndeso”. Adalagi orang yang merasa modern dengan jilbab cekeknya,sehingga memandang orang dengan jilbab panjang dan lebar itu sebagai kampungan. Padahal di pandangan mataku, wanita-wanita yang memakai hijab syar'i itu sangat cantik. Baju panjang dan longgar dan untaian jilbabnya yang sampai kelutut terlihat sangat indah.

Mereka-mereka yang berjilbab gaul seringkali mencemooh kelompok jilbab syar’i, aku sendiri mengalami hal ini ada yang mengejek jilbabku sebagai taplak meja, ada yang bilang seprei (Hahaaa... suatu hari saat aku melipat jilbabku untuk dikenakan aku membentangkannya di ranjang, tiba-tiba aku senyum sendiri, memang tidak salah jika temanku mengejek jilbabku sebagai seprei . Lah memang jika dibentang dia bisa nutupin ranjang kok...hmmmm). Tapi itulah fenomena dunia, bahkan Rasulullah SAW sendiri sudah mengatakan “Kelak akan datang suatu masa dimana kebenaran dianggap salah, dan yang salah dianggap suatu kebenaran. Itulah tanda-tanda akhir zaman”

Padahal, jilbab yang dikehendaki syariat bermakna milhâfah, berarti baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis, atau kain (kisaa‘) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsaub) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus Al-Muhith dinyatakan bahwa ilbab itu laksana sirdab (terowongan) atau sinmar (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.Jilbab yang dikehendaki syariat bermakna milhâfah, berarti baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh.

Dalam kamus Ash-Shahhah, Al-Jauhari menyatakan, “Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut mula’ah (baju kurung). Makna jilbab seperti inilah yang diinginkan Allah ketika berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59)

Para ulama pakar tafsir pun sepakat, jilbab syar’i bermakna sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada. Hal ini membuat seorang muslimah tampak elegan, santun, bermartabat, dan tentunya berkepribadian islami.Jika seorang wanita muslimah memakai hijab (jilbab), secara tidak langsung dia berkata kepada semua kaum laki-laki, “Tundukkanlah pandanganmu, aku bukan milikmu serta kamu juga bukan milikku, tetapi aku hanya milik orang yang dihalalkan Allah bagiku. Aku orang yang merdeka dan tidak terikat dengan siapa pun, dan aku tidak tertarik kepada siapa pun, karena aku jauh lebih tinggi dan terhormat dibanding mereka yang sengaja mengumbar auratnya supaya dinikmati oleh banyak orang.”

Wanita yang mengenakan kerudung gaul itu pamer aurat dan keindahan tubuh di depan kaum laki-laki lain. Mereka mengundang perhatian laki-laki.Setiap laki-laki pun sontak berebut menikmati keindahan tubuhnya dan kecantikan wajahnya. Mata mereka akan menelanjanginya dari atas hingga mata kaki. Sehingga membuat laki-laki terfitnah, maka jadilah dia sasaran empuk laki-laki penggoda dan suka mempermainkan wanita.
Pilihlah
Inilah mengapa para pengguna kerudung gaul diibaratkan berpakaian namun telanjang. Hal ini sebagaimana disinyalir Rasulullah SAW bersabda, “Dua golongan dari ahli neraka yang tidak pernah aku lihat: seorang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang dia memukul orang-orang, dan perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggok-lenggok, kepalanya bagaikan punuk onta yang bergoyang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya, sekalipun ia bisa didapatkan sejak perjalanan sekian dan sekian. (HR. Muslim)

Wanita berpakaian telanjang adalah wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya, atau memakai pakaian ketat, sehingga terlihat lekuk tubuhnya, dan wanita yang membuka sebagian aurat yang seharusnya tidak boleh ditampakan kecuali hanya kepada mahramnya saja.

Pakaian transparan yang disebut sebagi berpakaian tapi telanjang
Ada beberapa syarat yang harus dipahami oleh wanita muslim ketika hendak mengenakan hijab atau jilbab syar’i:
PERTAMA, hendaknya menutup seluruh tubuh dan tidak menampakkan anggota tubuh sedikit pun, selain yang dikecualikan karena Allah berfirman, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak.” (An-Nur: 31)

KEDUA, hendaknya hijab tidak menarik perhatian pandangan laki-laki bukan mahram. Agar hijab tidak memancing pandangan kaum laki-laki, maka harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Hendaknya hijab terbuat dari kain yang tebal, tidak menampakkan warna kulit tubuh (transparan).
2. Hendaknya hijab tersebut longgar dan tidak menampakkan bentuk anggota tubuh.
3. Hendaknya hijab tersebut tidak berwarna-warni dan tidak bermotif.

Hijab bukan merupakan pakaian kebanggaan dan kesombongan, karena Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mengenakan pakaian kesombongan (kebanggaan) di dunia maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan nanti pada Hari Kiamat kemudian dibakar dengan Neraka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dan hadits ini hasan).

Hendaknya hijab tersebut tidak diberi parfum atau wewangian berdasarkan hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Siapa pun wanita yang mengenakan wewangian, lalu melewati segolongan orang agar mereka mencium baunya, maka dia adalah wanita pezina.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa‘i dan At-Tirmidzi, dan hadits ini Hasan). Hendaknya pakaian atau hijab yang dikenakan tidak menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian kaum wanita kafir.

KETIGA, hendaknya pakaian atau hijab yang dikenakan tidak menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian kaum wanita kafir, karena Rasulullah bersabda, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah juga mengutuk seorang laki-laki yang mengenakan pakaian wanita dan mengutuk seorang wanita yang mengenakan pakaian laki-laki. Wallahu ‘Alam..
In shaa Allah bisa seperti ini aku berhijab

Hijab Syar'i

Wahai saudariku sesama muslimah, mari kita merenung. Mengapa kita begitu tertarik dan gemar mengejar penghargaan dari makhluk, dan kebanggaan dunia saja. Padahal dunia ini hanyalah permainan dan tempat singgah sementara, sedangkan akhirat itulah kampung tempat kita kembali selamanya. Mengapa kita ingin mengejar penilaian cantik, indah dan trendy di pandangan mata manusia saja, padahal penilaian cantik, indah di pandangan mata Allah SWT itulah yang akan memberkahi kita? Saudariku sesama muslimah belajarlah, pahamilah bahwa keridhoan Allahlah yang harus kita kejar sebagai bekal untuk kembali ke kampung halaman kita yang sesungguhnya. Pakaian wanita dan jilbabnya yang menutupi dada dan tidak membentuk tubuhnya akan mendatangnya keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jangan sampai kita terlambat saudariku.

Berikut ada sebuah cerita nyata tentang seorang wanita yang terlambat untuk menutup auratnya. Simaklah dan renungkan saudariku.

Akhirnya Dia Menutup Auratnya dengan Sempurna 
Dengarkan lah cerita dariku. Mungkin kalian sering mendengar yang mirip dengan ini. Ada seorang wanita yang dilahirkan di tengah keluarga muslim. Memang dari kecil orangtuanya tidak mengajarkan bagaimana menutup aurat yang benar. Dia pun beranjak dewasa. Lalu dia mengetahui bahwa menutup aurat bagi seorang wanita itu wajib jika dia sudah baligh. Dia sering membaca tentang menutup aurat bagi seorang muslimah. Tentang hadits-hadist hijab yang benar. Tentang dosa bagi wanita yang memperlihatkan auratnya di depan bukan mahrom. Dia punya al-Qur'an di rumah Bahkan tidak sedikit teman-temannya yang menasehatinya. Tapi banyak alasan yang dia lontarkan Belum siap takut kehilangan pekerjaan. Nunggu usia sekian dan seterusnya 

Pada suatu hari akhirnya auratnya tertutup secara sempurna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Penutup auratnya pun polos, tanpa banyak motif dan hiasan. Bahkan wajahnya pun tertutup secara sempurna. Tidak terlihat sedikitpun kecantikannya dan keindahan wajahnya
Dia melewati jalan-jalan di tempat ia tinggal menuju ke sebuah masjid. Banyak orang yang memperhatikannya, bahkan keluarga nya menangis melihat auratnya yang sudah tertutup sempurna. Ada juga yang heran dengan sebab dia tiba-tiba seperti itu. Mungkin orang memperhatikan kini auratnya benar-benar tertutup sempurna. Dia seperti layaknya bunga desa menjadi pusat perhatiaan dari rumah-rumah dan orang-orang yang dilewatinya 


Sampainya di masjid, dia berada di shaf paling depan. Ternyata hari itu adalah hari pertama sekaligus terakhir auratnya tertutup secara sempurna. Dia berada di shaf paling depan untuk dishalatkan. Karena yang menyebabkan auratnya tertutup secara sempurna adalah ketika dihadapkan dengan kematian. Ya penutup auratnya adalah kain kafan.. Polos, tidak bermotif, bahkan tanpa saku (sumber cerita ini dari “Fiqih Wanita”)

Karena aku inginkan keridhoan Allah



Notes : Artikel ini diolah dengan gaya bahasaku dan point-point penting dan ilustrasi gambar diambil dari berbagai sumber : rumaysho.com, muslimah.or.id, jilbabgaul.com, jilbabsyar'i.com dan google searching.