Wednesday, June 27, 2018

4 GOLONGAN MANUSIA YANG HARAM TERSENTUH API NERAKA


Tadi pagi aku menonton acara televisi di Indonesiar,”Mamah dan Aa”, isi tausiyahnya sangat menyentuh hatiku. Aku terpekur dan melihat lagi ke dalam diriku. Adakah 4 dari kriteria tersebut di dalam diriku. Meski ada hanyalah setengah-setengah tidak sempurna seperti dalam tausiyah Mamah Dedeh. Sifat duniawi, sifat manusiawi yang kadang naik/turun, on/off. Hatiku meringisagak nelangsa ya Allah...diri ini masih jauh dari sempurna, masih jauh dari baik, masih jauh dari soleha. Aku mohon padaMU semakin istiqomahkan aku dalam kebaikan, berikan aku keridhoanMU untuk terus berjalan dalam muslimah yang baik sesuai tuntunanMU ya Rabb....

Ini aku sampaikan secara ringkas isi tausiyah Mamah Dedeh tadi pagi sesuai versi aku dan insyaa Allah intinya tak akan melenceng jauh.

ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ، ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ،ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻛُﻢْ ﺑِﻤَﻦْ ﺗُﺤَﺮَّﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ؟ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﺑَﻠَﻰ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻫَﻴِّﻦٍ، ﻟَﻴِّﻦٍ، ﻗَﺮِﻳﺐٍ، ﺳَﻬْﻞٍ.

Nabi Saw berkata, “Maukah kalian aku tunjukkan orang yang haram (tersentuh api) neraka? Para sahabat berkata, “Iya, wahai Rasulullah. Beliau menjawab, “(Haram tersentuh api neraka) orang yang Hayyin, Layyin, Qorib, Sahl.”
(HR. At Tirmidzi & Ibnu Hibban)


Lantas apa yang disebut dalam istilah 4 golongan tersebut, berikut adalah penjelasannya :

HAYYIN
Orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan dzahir maupun batin. Tidak labil gampang marah, grusah-grusuh dalam segala hal, penuh pertimbangan. Tidak gampangan memaki, melaknat dan ngamuk tersulut berita yang sampai padanya.Teduh jiwanya

 Layyin.
Orang yang lembut dan kalem, baik dalam bertutur-kata atau berbuat. Tidak kasar, main cantik sesuai aturan, tidak semaunya sendiri, segalanya tertata rapi. Tidak galak yang suka memarahi orang yang berbeda berbeda pendapat denganya. Identik tidak suka melakukan pemaksaan pendapat. Lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk saudaranya sesama muslim.

QORIB
Bahasa jawanya “gati”, sunda “deudeuh” akrab, ramah diajak bicara, menyenangkan orang bagi yang mengajak bicara. Tidak acuh tak acuh, cuek-bebek, gampang berpaling. Biasanya murah senyum jika bertemu dan wajahnya berseri-seri dan enak dipandang. Mudah untuk diajak berteman. Dan gampang akrab dengan orang yang baru dikenalnya

SAHL
Orang yang gampangan, tidak mempersulit sesuatu. Selalu ada solusi bagi setiap permasalahan. Tidak suka berbelit-belit, tidak menyusahkan dan membuat orang lain lari dan menghindar

Inilah do’a Yang Allah ajarkan dan sering sekali dibacakan oleh Rosulullah SAW. Di Indonesia masyarakat mengenalnya dengan do’a Sapu Jagat. Do’a ini adalah harapan tertinggi yang ingin dicapai oleh seluruh umat muslim, yaitu Kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat dan terbebaskan dari
siksa api neraka yang teramat pedih dengan kata lain Allah masukkan kita kedalam syurga-Nya dengan berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya.

"RABBANAA AATINAA FIDDUNNYAA HASANAH, WA FIL AAKHIRATI HASANAH, WAQINAA ‘ADZAA BAN NAAR"

Artinya : Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka.


Semoga Allah selalu memberikan petunjuk kepada kita dan menuntun dalam jalan kebaikan yang di ridhoinNYA. Yaa Allah, mudahkanlah aku dalam ketaatan pada-MU. Aamiin...

Dahsyatnya api neraka... Ya Allah jauhkan kami dari siksa neraka 


Sunday, June 17, 2018

JABAT TANGAN DENGAN LAWAN JENIS NON MAHRAM

Terkait dengan moment Idul Fitri 1439 H yang masih begitu jelas di depan mata, karena ini hari ketiga Syawal. Sejak beberapa hari sebelum hari H begitu banyak broadcast, sharing artikel baik itu di WA group, Facebook, Instagram dsb tentang untuk berhati-hati terhadap kebiasaan yang lazim berlaku di tengah masyarakat kita namun sesungguhnya menyimpang dari syariat, yaitu berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram. 

Saya bahkan sudah sejak 2004, sejak  pertama kali berjilbab saya sudah mematuhi larangan untuk tidak berjabat tangan dengan laki-laki yang bukan mahram. 14 tahun lalu semua masih terasa aneh, masih terlalu banyak tantangannya, sikap aneh, tatapan mata aneh atau bisik-bisik aneh melihat sikap saya yang hanya menangkupkan kedua telapak tangan di dada saat seorang laki-laki menjulurkan tangan untuk bersalaman. Tapi demi sami’na wa atho’na aku mengacuhkan semua sikap tak nyaman tersebut. 

Namun saat ini aku sangat bersyukur sudah begitu banyak sharing ilmu tentang hukum berjabat tangan dengan lawan jenis non mahram. Baik itu melalui broadcast group WA, video ulama seperti Ust Abdul Somad, Khalid Basalamah, Syafik Basalamah dsb di FB, Instagram. Bahkan dengan sangat detil memaparkan siapa mahram dan non mahram kita, sehingga kita bisa lebih berhati-hati untuk menjaga hijab kita sebagai akhwat untuk tidak bersalaman dengan kelompok non Mahram tersebut. 

Berjabat tangan dengan sesama saudara seiman memiliki banyak keutamaan, antara lain: 

1. Orang yang berjabat tangan akan diampuni dosanya.  Hudzaifah radhiallahu ‘anhu menyampaikan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: 

إِنَّ الْـمُؤْمِنَ إِذَا لَقِيَ الْـمُؤْمِنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ، تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرِ 

“Sesungguhnya seorang mukmin apabila bertemu dengan mukmin yang lain, lalu ia mengucapkan salam dan mengambil tangannya untuk menjabatnya, maka akan berguguran kesalahan-kesalahan keduanya sebagaimana bergugurannya daun-daun pepohonan.” (HR. Al-Mundziri dalam At-Targhib 3/270, Al-Haitsami dalam Al-Majma’ 8/36, lihat Ash-Shahihah no. 526) 

2. Berjabat tangan bisa menjadi sebab hilangkannya kebencian dalam hati. 

3. Berjabat tangan merupakan ciri orang-orang yang hatinya lembut.
Ketika penduduk Yaman datang, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Penduduk Yaman telah datang, mereka adalah orang yang hatinya lebih lembut dari pada kalian.” Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkomentar tentang sifat mereka: “Mereka adalah orang yang pertama kali mengajak untuk berjabat tangan.” (HR. Ahmad 3/212 & dishahihkan Syaikh Al Albani, As Shahihah, 527). 

Berjabat tangan telah jelas kebaikannya. Namun bagaimana kalau laki-laki dan perempuan yang bukan mahram saling berjabat tangan, apakah suatu kebaikan pula? Tentu saja tidak. Walaupun menurut pandangan masyarakat kita, tidaklah beradab dan tidak punya tata krama sopan santun, bila seorang wanita diulurkan tangan oleh seorang lelaki dari kalangan karib kerabatnya, lalu ia menolak untuk menjabatnya. Dan mungkin lelaki yang uluran tangannya di-”tampik” itu akan tersinggung berat. Sebutan yang jelek pun akan disematkan pada si wanita. Padahal si wanita yang menolak berjabat tangan tersebut melakukan hal itu karena tahu tentang hukum berjabat tangan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. (Asli ini pengalaman hidup saya...:)). 

Dalam hubungan pergaulan laki-laki dan perempuan, Islam telah memiliki satu aturan yang menjadi bagian dari syariatnya. Setiap muslim wajib tunduk dan patuh terhadapnya. Ia wajib menerima dan menjalankannya.  Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, 

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka[1045] ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Mukminun: 51) 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai qudwah kita, tak pernah mencontohkan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Bahkan beliau mengharamkan seorang lelaki menyentuh wanita yang tidak halal baginya. Beliau pernah bersabda: 

Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ 

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). 

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini ada ancaman yang keras bagi lelaki yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya. Dan juga merupakan dalil haramnya berjabat tangan dengan para wanita, karena jabat tangan tanpa diragukan masuk dalam pengertian menyentuh. 

Namun kebanyakan kaum muslimin di zaman now ditimpa musibah dengan kebiasaan berjabat tangan dengan wanita (dianggap sesuatu yang lazim dan bukan suatu kemungkaran). Bahkan meski banyak orang yang paham tentang haramnya berjabat tangan dengan lawan jenis, mereka hanya mampu mengingkari hal itu hanya di dalam hati saja, tak mampu menegur secara lisan, sehingga kebiasaan berjabat tangan dengan lawan jenis seolah menjadi hal biasa. 

Dalam membaiat para shahabiyyah sekalipun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjabat tangan mereka. Aisyah radhiallahu ‘anha istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan: 

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ كَانَ يَمْتَحِنُ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِ مِنَ الْـمُؤْمِنَاتِ بِهَذِهِ الْآيَةِ بِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى {ياَ أيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْـمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ} إِلَى قَوْلِهِ {غَفُورٌ رَحِيمٌ} قَالَ عُرْوَةُ: قَالَتْ عَائِشَةُ: فَمَنْ أَقَرَّ بِهَذَا الشَّرْطِ مِنَ الْـمُؤْمِنَاتِ، قَالَ لـَهَا رَسُولُ اللهِ: قَدْ باَيَعْتُكِ؛ كَلاَمًا، وَلاَ وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ فِي الْـمُبَايَعَةِ، مَا يبُاَيِعُهُنَّ إِلاَّ بِقَوْلِهِ: قَدْ باَيَعْتُكِ عَلَى ذَلِكَ 

"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji kaum mukminat yang berhijrah kepada beliau dengan firman Allah ta’ala: “Wahai Nabi, apabila datang kepadamu wanita-wanita yang beriman untuk membaiatmu….” Sampai pada firman-Nya: “Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” Urwah berkata, “Aisyah mengatakan: ‘Siapa di antara wanita-wanita yang beriman itu mau menetapkan syarat yang disebutkan dalam ayat tersebut’.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepadanya, “Sungguh aku telah membaiatmu”, beliau nyatakan dengan ucapan (tanpa jabat tangan).” Aisyah berkata, “Tidak, demi Allah! Tangan beliau tidak pernah sama sekali menyentuh tangan seorang wanita pun dalam pembaiatan. Tidaklah beliau membaiat mereka kecuali hanya dengan ucapan, “Sungguh aku telah membaiatmu atas hal tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 4891 dan Muslim no. 4811) 

Umaimah bintu Ruqaiqah berkata: “Aku bersama rombongan para wanita mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membaiat beliau dalam Islam. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami membaiatmu bahwa kami tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, tidak akan mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak melakukan perbuatan buhtan yang kami ada-adakan di antara tangan dan kaki kami, serta kami tidak akan bermaksiat kepadamu dalam perkara kebaikan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesuai yang kalian mampu dan sanggupi.” Umaimah berkata, “Kami berucap, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih sayang kepada kami daripada sayangnya kami kepada diri-diri kami. Marilah, kami akan membaiatmu wahai Rasulullah!’.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata: 

إِنِّي لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ، إِنَّمَا قَوْلِي لـِمِائَةِ امْرَأَةٍ كَقَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ 

“Sesungguhnya aku tidak mau berjabat tangan dengan kaum wanita. Hanyalah ucapanku kepada seratus wanita seperti ucapanku kepada seorang wanita.” (HR. Malik 2/982/2, An-Nasa`i dalam ‘Isyratun Nisa` dari As-Sunan Al-Kubra 2/93/2, At-Tirmidzi, dll. Lihat Ash-Shahihah no. 529) 

Dari hadits-hadits yang telah disebutkan di atas, jelaslah larangan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram. Karena seorang lelaki haram hukumnya menyentuh atau bersentuhan dengan wanita yang tidak halal baginya. Al-Imam Asy-Syinqinthi rahimahullah berkata, “Tidaklah diragukan bahwa sentuhan tubuh dengan tubuh lebih kuat dalam membangkitkan hasrat laki-laki terhadap wanita, dan merupakan pendorong yang paling kuat kepada fitnah daripada sekedar memandang dengan mata. Dan setiap orang yang adil/mau berlaku jujur akan mengetahui kebenaran hal itu.” (Adhwa`ul Bayan, 6/603) 

‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata “Demi Allah, segala hal yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam tetapkan bagi wanita, maka hal itu adalah perintah dari Allah Ta’ala. Dan tangan Rasulullah tidaklah menyentuh tangan wanita. Dan perlu diketahui, bahwa menyentuh dan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram akan menimbulkan kerusakan yang sangat banyak. Diantaranya akan menimbulkan syahwat (nafsu) atau keinginan negatif dan hilangnya rasa malu. Karena barang siapa wanita yang bermudah-mudahan dalam menjulurkan tangannya kepada laki-laki yang bukan mahram, maka ia tidak akan segan untuk melakukan yang lebih hina dari itu”. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَزِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka.” (QS. Al-Nur: 30-31) 

Hal-hal yang saya tulis diatas hanyalah dalil pendukung tentang larangan berjabat tangan dengan laki-laki non mahram didapat dari berbagai cuplikan yang saya ambil dari berbagai sumber dengan tujuan untuk semakin menguatkan saya untuk patuh pada larangan ini. Insyaa Allah... saya akan patuh dan ta’at (sami’na wa atho’na) dalam kebenaran. 

Bagi setiap muslim atau muslimah wajib tunduk kepada ketetapan Islam, baik yang dirasa sesuai dengan kebiasaannya atau tidak. Karena inti dari makna Islam adalah tunduk dan menyerah kepada katetapan Allah Ta'ala. Sehingga Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Tidak beriman salah seorang kalian sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa." 

Wallahu a’lam bishowab.

Sorry.....but thanks for not touch me and not touch my hands please...



Wednesday, June 6, 2018

SKENARIO ALLAH ITU INDAH

Semalam setelah beberes menjelang tidur aku sedikit merenung, karena barang-barang yang dibereskan adalah barang-barang lama di masa lalu, seperti pianika, tas sekolah Naufal dan Caca menyebabkan aku melambung ke masa-masa penuh mencekam itu. Tapi semua menjadi manis ketika aku kenang saat ini, padahal saat aku menjalani kehidupan masa lalu, dulu aku sangat tertekan dan menderita. 

Dengan mengenang dan merenung aku semakin menyadari bahwa Allah itu sungguh Maha Kuasa, skenario Allah sangat sistematis dan indah. Terbayang kembali runutan perjalanan hidup yang aku jalani sehingga aku sampai ke titik sekarang ini. Bagaimana Allah merangkai peristiwa dalam rangka membentuk diriku menjadi seorang wanita yang tangguh,kuat dan tegar. Bahkan jika dibandingkan dengan kakak-kakak saudara kandungku aku menjadi paling kuat, menjadi tumpuan jika keluarga ada masalah, menjadi seorang yang berani tampil kedepan dan mengorbankan diri dalam masalah keluarga besarku. 

Hmmmm..... aku yang dulu di masa gadis adalah seorang wanita yang sangat lemah dan selalu dibantu. Aku masih sangat ingat meskipun aku sudah bekerja (artinya sudah gede), jika tengah malam aku ingin buang air kecil aku selalu gedor pintu kamar Papa/Mama minta ditemani. Bayangkan penakutnya aku. 

Mama/Papa juga selalu memprotect aku dengan sangat ketat, jika ada keperluan kemanapun adek laki-lakiku Oyan atau Arie disuruh mengantar. Tak terlupakan saat Mama berdiri di pinggiran jalan depan gang Perumahan Rakyat dengan mata jeli menatap setiap angkot ijo yang berhenti, menunggu aku jika aku pulang telat dari biasanya. Ahh... betapa luar biasanya kasih sayang Mama/Papa terhadap aku. Aku seorang gadis manja yang ditimang sampai dewasa. Bukan hanya oleh Mama/Papa melainkan oleh seluruh keluarga besar. Mengapa mereka sangat mengkhawatirkan aku? Karena sejak bayi aku memang lemah, aku mengidap penyakit astma akut. Aku tak boleh capek. Jika capek maka aku akan bengek. Dan inilah penyebab aku dijaga seperti porselen oleh seluruh keluarga besarku. Aku selalu ingat saat malam takbiran atau hari “bemasak” (sehari sebelum Idul Fitri/Adha), disaat 5 orang anak perempuan Mama berjibaku sibuk memasak di dapur untuk mempersiapkan hidangan lebaran, semua saudara perempuanku plus Mama akan dengan kompak mengusir aku jika masuk dapur. “Esi...heit gak usah ke dapur... kamu bagian luar sana...bagian menata ruang tamu saja”. Yah...jadi aku memang anak emas yang diistimewakan. 

Lantas pada akhirnya “Qadarullah” aku menikah dengan seorang laki-laki bengis, kasar, egois dan tidak punya perasaan. Hari pertama setelah pernikahanpun aku sudah menerima kekerasan dari dirinya ataupun keluarga besarnya. Hari minggu malam setelah resepsi di hari minggunya aku langsung diajak paksa ke rumahnya, dibentak, disindir dengan kata-kata kasar, keesokan paginyapun disuruh seharian di dapur membersihkan ikan, cuci piring sampai tangan keriput karena terendam air. Bahkan jika Idul Fitri aku akan berkumpul dengan keluarga besarnya, dimana aku pasti diperlakukan  seperti upik abu oleh seluruh keluarga besarnya. Sesuatu hal yang tidak pernah aku lakukan seumur hidupku selama ini. 

Dan di awal-awal pernikahan aku sudah harus terbiasa menunggu rumah sendiri. Hal ini disebabkan oleh karena dia adalah seorang karyawan Rumah Sakit dengan sistem shift, juga disebabkan karena pada akhir pekan atau saat dia Off, dia akan pulang ke kampung halamannya. Tinggal sendiri di rumahnya yang menurut tetangga memang penuh dengan suasana mistis dan seram. Aku ingat minggu awal aku tinggal di sana. Saat itu bulan Ramadhan. Apabila dia mendapat giliran shift sore maka menjelang Maghrib aku bergegas masak dan menyiapkan santapan untuk buka puasa. Lalu setelah selesai aku menata masakan di meja kecil didalam kamar tidur. Dengan rinci dan teliti karena aku tak ingin ada perlengkapan makan yang kurang sehingga aku harus keluar lagi ke dapur (aku sangat takut karena suasana mistis itu memang ada di ruang dapur). Aku menyantap makan, melakukan aktifitas sambil menunggu dia pulang kerja tengah malam hanya di ruang kamar yang berukuran 2x3 m itu saja. Itulah cara aku mengatasi rasa takutku. 

Waktu terus berjalan dan hanya perlu waktu sebulan lebih aku sudah terbiasa melintasi seisi rumah besar yang seram itu sendiri (aku memang lebih sering ditinggal sendiri karena dia terlalu banyak aktivitas di malam hari kalau tidak pulang ke kotanya, dia ke diskotik, main bowling, karaoke, main canasta). Disamping itu jika ingin bepergian ke mana-mana (kantor, pasar, kampus kuliah, LB LIA English course) aku harus naik angkot, becak sendiri. Bahkan check up control kehamilanpun aku sendiri. Subhanallah ...begitulah skenario Allah melatih aku menjadi pribadi yang mandiri dan kuat, 

Sampai akhirnya untung tak dapat diraih malang tak dapat dicegah “Perceraian”pun terjadi. Bersyukurnya aku sudah terbentuk menjadi pribadi yang sangat tangguh dan terbiasa melakukan apapun sendiri. Bahkan karena kondisi yang mendesak aku akhirnya bisa menyetir mobil sendiri, padahal aku sangat penakut naik motor atau sepedapun tak berani. Dengan pandai menyetir mobil aku tidak harus bersusah payah kesana kemari (mengantar anak sekolah, tempat terapi autis Caca, ke pasar, manasik haji). Saat memiliki mobil pribadipun waktunya tepat yaitu menjelang aku berangkat haji, sehingga saat manasik yang tempatnya jauh dan harus berkali-kali naik angkot sudah tidak menjadi masalah bagiku. Terbayang jika aku tak punya mobil berapa banyak waktu yang aku butuhkan untuk sampai ke tempat manasik,apalagi saat pulang aku harus bergegas untuk segera mengurus anak-anak yang kutinggal.

5 tahun berselang episode kehidupankupun belum selesai, aku masih harus menjalani sebuah skenario lagi yaitu perebutan hak asuh anak, dipenjarakan, dipisahkan paksa dari darah daging yang pernah aku semaikan dalam rahim, dan pada akhirnya aku tinggal di rumah besarku sendiri lagi. Aku sudah sangat kukuh. Terbiasa dengan kesendirian, terbiasa dengan fitnah yang disebar sang mantan dan anak kandungku. Aku percaya setiap episode kehidupan yang telah di skenariokan Allah untuk aku perankan ini adalah terbaik dan penuh pembelajaran bagi aku sebelum aku menjalani kehidupan yang kekal nanti . 

Semua kejadian mulai awal penciptaan hingga hari kiamat, semuanya telah diketahui Allah berdasarkan ilmu-Nya yang tertulis dalam Lauh Mahfuudh. Allahta’ala berfirman : 

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ 

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuudh)” [QS. Al-An’aam : 59]. 

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا 

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya” [QS. Al-Hadiid : 22]. 

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ 
“Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena (qalam). Lalu Allah berfirman kepadanya : ‘Tulislah’. Pena berkata : ‘Wahai Rabbku, apakah yang harus aku tulis ?’. Allah berfirman kepadanya : ‘Tulislah taqdir-taqdir segala sesuatu hingga terjadinya hari kiamat” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4700, At-Tirmidziy no. 2155 & 3319, Ahmad 5/317, dan yang lainnya; At-Tirmidziy berkata : “Hadits hasan shahih ghariib”]. 

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ 
“Allah telah menuliskan taqdir para makhluk 50.000 tahun sebelum Ia menciptakan langit-langit dan bumi” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2653]. 

Apa yang dikehendaki Allah ta’ala dalam ketetapan taqdir-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak mungkin terjadi.  Allah ta’ala berfirman : 

وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ 
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” [QS. At-Takwiir : 29]. 

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ 
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit” [QS. Al-An’aam : 125]. 

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا 
“Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami" [QS. At-Taubah : 51]. 

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ 
“Ketahuilah, bahwa jikalau ada seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfa’at bagimu, maka mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu, dan jikalau mereka berkumpul untuk merugikanmu (membahayakanmu) dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa melakukan itu kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena (pencatat) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2516, dan ia berkata : “Hadits hasan shahih”]. 

Bencana atau ujian yang aku hadapi ini membuat aku mengoreksi diri, menyadari lalu aku mengalihkan rasa pedih, rasa dukaku dengan jalan rajin ke majelis ilmu. Ya Rabb kalau bukan karena rahmatMU mungkin aku tak mampu mencari pelarian/pengalihan rasa duka ke sisi jalan yang saat ini aku tempuh. Aku sangat percaya Allah selalu mempunyai hikmah, makna di balik segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini, asal kita mampu menelaah, membaca dan mengambil pengalamannya. Insyaa Allah aku mampu , agar kelak ketika aku wafat aku akan diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah Aamiin....Allahumma Aamiin...






Tuesday, May 29, 2018

FENOMENA BUKA BERSAMA DI BULAN RAMADHAN

Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan yang dinantikan oleh seluruh umat Islam, karena banyak sekali keutamaan dan keistimewaan di bulan ini. Setiap muslim pasti sangat berharap bisa bertemu dengannya karena keutamaannya yang banyak sekali, diantaranya: 

1.Bulan Diwajibkannya Puasa 
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ 
“Bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi telah datang kepada kalian. Di bulan itu Allah mewajibkan puasa kepada kalian.” [Shahih An Nasaa-i, no. 2105] 

2.Bulan Yang Penuh Berkah 
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْهِ لَيْلَةٌ هِيَ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ 
“Bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi telah datang kepada kalian. Di bulan itu Allah mewajibkan puasa kepada kalian.. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup dan setan-setan durhaka dibelenggu. Di bulan itu terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa dihalangi mendapatkan kebaikannya, maka ia telah terluput.” [Shahih An Nasaa-i, no. 2105] 

3.Pintu-pintu Surga Dibuka dan Pintu-pintu Neraka Ditutup 
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ – وَفِيْ رِوَايَةٍ : أَبْوَابُ الْجَنَّةِ – وَفِيْ رِوَايَةٍ: أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ “ 
Apabila masuk Bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu langit –dalam satu riwayat dikatakan: ‘Pintu Surga’. Dan dalam riwayat lainnya: ‘Pintu-pintu rahmat’. – Dan ditutup Pintu-pintu Jahannam dan para setan dibelenggu.” [HR. Al Bukhari, no.1899 dan Muslim, no. 1079] 

4.Bulan Diturunkan Al Qur-an 
Allah berfirman, “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” [QS. Al Baqarah: 185] 

5.Bulan Pembebasan dari Api Neraka 

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجِنَانِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَنَادَى مُنَادٍ : يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَللَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُل لَيْلة 
“Bila malam pertama bulan Ramadhan telah tiba, maka seluruh setan dan jin gentayangan dibelenggu. Seluruh pintu neraka ditutup dan tidak ada satupun yang terbuka. Sebaliknya, seluruh pintu surga dibuka dan tidak ada satupun yang tertutup. Dan seseorang akan menyeru, ‘Wahai para pencari kebaikan bergegaslah dan wahai pencari kejelekan berhentilah!. Dan pada setiap malam Allah membebaskan sebagian hambanya dari siksa neraka” [Shohih Ibnu Majah, no. 1339] 

6.Di Dalamnya Terdapat Malam ‘Lailatul Qadar’ Diantara keistimewaan Bulan Ramadhan adalah karena di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu malam, yaitu Malam Lailatul Qadar. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِيْ سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِيْ خَامِسَةٍ تَبْقَى 
“Carilah (Lailatul Qadr) pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, pada sembilan malam tersisa, pada tujuh malam tersisa, pada lima malam tersisa!” [HR. Al Bukhari, no. 2021] 

Jika kita memahami keistimewaan bulan Ramadhan seharusnya yang kita lakukan adalah mengoptimalkan amal dan ibadah kita untuk meraih semua kenikmatan. Pahala dan keistimewaan yang telah ditawarkan oleh Allah SWT. Namun seiring dengan perkembangan zaman banyak sekali fenomena yang terjadi di bulan Ramadhan ini. Dan yang paling “trend”, paling “kekinian” adalah fenomena “Buka Bersama alias BUKBER”. 

Bukber seakan menjadi sebuah prestise tentang “kekinian” yang seakan dibungkus dengan sebuah motif yang sangat baik yaitu memanfaatkan Ramadhan menjadi sebuah kesempatan untuk saling bersilaturahim dengan teman, komunitas sosial, komunitas kantor, kerabat yang lama tak bersua. Bahkan hampir tiap akhir pekan di bulan Ramadhan jadwal Bukber sudah sangat penuh. Bukber teman kantor, Bukber teman SD, Bukber teman SMP, Bukber bersama teman SMA, Bukber teman pengajian. 

Bukber menjadi sebuah ajang yang menaikkan gengsi suatu komunitas dengan menyelenggarakannya di hotel ataupun resto mewah. Apalagi mereka yang hobi tergabung dalam komunitas tertentu. Biasanya mereka pun memiliki acara BukBer yang tak kalah hebohnya dengan grup-grup lainnya dan pastinya mereka akan men”share” ke media soaial. 

Bukber harusnya bisa menjadi momen yang menyenangkan manakala kita menikmati buka puasa tersebut dengan tetap menjalankan kewajiban kita kepadaNYA. BukBer itu sendiri hakikatnya adalah mensyukuri rizki yang telah Allah berikan kepada kita sehingga kita masih bisa menikmati hidangan buka puasa serta menjalin tali silaturahim yang tentunya memiliki pahala tersendiri bagi kita.

Namun sebagai muslim/muslimah kegiatan serupa ini perlu dicernai dan diwaspadai. Kenapa? Karena bisa jadi “Bukber” yang tujuan utamanya untuk ajang menjalin silahturahim antar teman, kerabat atau kolega akhirnya menjadi sesuatu yang mudharat bahkan berdosa. Jika dengan terselenggaranya Bukber membuat kita melalaikan kewajiban kita seperti sholat Maghrib, Isya dan kehilangan kesempatan tarawih yang hanya kita dapat setahun sekali. 

Secara pribadi aku memang kurang begitu antusias bila diundang untuk acara buka puasa bersama. Banyak alasan keberatan dalam diriku. Pertama, mau pergi ke lokasi itu sendiri sangat ribet. Harus berkendara menjelang maghrib yang notabene jalanan macet padat, karena begitu banyak manusia yang justru pergi keluar rumah menjelang bedug maghrib itu, entah untuk buka puasa bersama teman/group di hotel, cafe, resto, mall, atau sekedar jalan-jalan sore “ngabuburit”. 

Aku pernah mengalami hal ini ketika diundang buka bersama teman alumni SMP beberapa tahun yang lalu. Niatnya buka bersama eh ujung-ujungnya malah telat sampe ke lokasi karena saat adzan maghrib aku masih dijalan. Buka puasa terlambat dan sholat Maghribpun telat. 

Kedua, saat buka bersama seringkali membuat sholat maghrib menjadi sekadarnya. Itupun apabila lokasi buka bersama menyediakan mushollah, bila tidak maka sholat maghrib menjadi wassalam alias lewat. Alangkah sayangnya karena sehabis maghrib banyak amalan yang dapat dilakukan seperti berdoa, berdzikir dan mengejar target bacaan Al-Qur’an agar bisa khatam menjadi hilang. 

Ketiga, jelas sekali apabila sholat maghrib saja sekedarnya atau bahkan terlewat maka sholat Isya’ juga sekedarnya dan tarawih bisa bablas. Memang sholat Isya’ dan taraweh bisa dikerjakan nanti dirumah, tetapi karena sudah terlalu capek pasti akan menjadi sekedarnya saja pula, disamping itu target bacaan Al – Qur’an pun kurang juga. 

Mengapa esensi ibadah puasa yang kita jalani selama Ramadhan dengan penuh tawadhu untuk meraih pahala dan catatan amal yang telah dilipatgandakan oleh Allah harus dinodai dengan kealfaan kita karena terbuai dengan suasana kemeriahan Bukber? Apalah artinya Bukber dengan aneka makanan yang nikmat dan tempat acara BukBer yang mewah bila kita meninggalkan sholat? 

Tapi tidak semua acara Bukber mempunyai tema seperti di atas, ada juga Bukber yang isi acaranya sangat baik dan jelas. Misalnya beberapa jam sebelum adzan Maghrib diawali dengan pembacaan Al-Qur’an, Kultum, buka puasa, sholat Maghrib berjamaah, makan malam, sholat Isya’ dan tarawih berjamaah lalu pulang. Jika acara Bukber dengan schedule seperti ini so pasti aku mau datang. 

Berangkat dari pengalamanku yang pernah menghadiri undangan Bukber ada beberapa saran yang aku berikan untuk penyelenggara Bukber. Bagi para panitia dan peserta acara Bukber, alangkah indahnya jika niat bersilaturahmi ini tidak melupakan hal-hal yang mungkin terdengar sepele namun sangat penting agar kita tak tidak meninggalkan ibadah yang sesungguhnya: 

1. Pilihlah tempat acara Bukber yang menyediakan tempat sholat yang memadai. 
Ada banyak tempat makan atau restoran yang menyediakan musholla atau tempat khusus agar pengunjung bisa mengerjakan sholat. Perhatikan pula kebersihan tempat sholat serta atribut sholatnya seperti sajadah dan mukenah. 

2. Tulis schedule yang jelas dengan mencantumkan sholat Maghrib berjamaah, atau jika acaranya sampai malam schedulekan pula untuk sholat Isya dan taraweh berjamaah. 

3. Saling mengingatkan teman untuk menunaikan sholat. 

Menikmati kebersamaan saat berbuka puasa dengan sahabat atau handai tolan memang tak ada salahnya. Namun alangkah indahnya bila kebersamaan tersebut dihiasi dengan itikad saling mengingatkan satu sama lain untuk menjalankan sholat maghrib agar tidak tertinggal waktu sholat. Selain keakraban terjalin, tentulah pahala yang besar akan kita dapatkan. 

Tulisan ini tidak bermaksud menggurui atau menyinggung siapapun, namun lebih ke arah pengingat untuk diri pribadi untuk lebih waspada terhadap fenomena yang menggugurkan pahala yang bisa diraih sebagai bekal pulang ke kampung akhirat. Manfaatkanlah Ramadhan ini semaksimal mungkin untuk terus melakukan ibadah dan amal kebaikan untuk meraih ridho Allah. . Kita takkan pernah tahu apakah kita akan berjumpa dengan Ramadhan di tahun depan? 

Segala perbuatan baik belum tentu bisa menjadi baik, kadang perbuatan baik yang tadinya harus menjadi pahala malah bisa mengakibatkan dosa dan diharamkan, perkara apakah itu?? yaitu perkara berlebihan dan lalai. Bagi diriku tidak semua undangan/ajakan bukber harus dipenuhi. Terutama bila acara Bukber tersebut tidak memiliki schedule yang jelas bahkan di tempat-tempat yang sangat minim sekali kemungkinan untuk melakukan sholat Maghrib secara baik. Wallahu a’lam bishowaf.




Monday, May 21, 2018

MENJAGA HATI

Beberapa hari lalu aku sempat menyimak ceramah Aa Gym di I News TV. Tak terasa air mataku menetes. Aku sadar, aku takut karena aku belumlah cukup bekal untuk kembali. Hatiku masih belum bersih, belum ikhlas. Aku tak tahu apakah amalanku akan diterima dan dicatat sebagai bekal akhiratku,aku sangat takut dan khawatir jangan-jangan apa yang aku lakukan selama ini masih belum bersih, masih ada pamrih, masih ada niat untuk dianggap baik. Ya Allah.... 

Sebagai salah satu contoh saja, aku masih sering sangat merasa sakit dengan apa yang dilakukan anak-anakku pada aku. Mereka memenjarakan aku, meninggalkan aku, lalu melupakan aku. Betapa aku menangis sesengukan ketika tahu aku di block oleh Ardi dan Nabila dari akun instagramnya. Aku menangis bermalam-malam, berhari-hari membandingkan segala yang telah aku perbuat pada mereka selama hidupku. Aku merasa telah berbuat terlalu banyak sehingga sakit hati diperlakukan begini. Ya Rabb...benar juga aku belum ikhlas...aku masih bersandar pada selain Allah. Aku masih berharap ada ucapan terima kasih, ada balasan seimbang dari amalku terhadap mereka. Ampuni aku ya Allah... 

Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya; mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna, segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai. Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, "Faalhamaha fujuraha wataqwaaha", "Dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan". 

Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk, naudzubillah. 

Padahal, semua yang kita sandari sangat mudah bagi Allah (mengatakan ‘sangat mudah’ juga ini terlalu kurang etis), atau akan ‘sangat mudah sekali’ bagi Allah mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita hanya bersandar kepada Allah yang menguasai setiap kejadian, "laa khaufun alaihim walahum yahjanun’, kita tidak pernah akan panik, Insya Allah. (kutipan ceramah AA Gym).

Adalagi hal-hal penting yang aku catat dari isi ceramah beliau. Bila hidup di dunia ingin tenang dan bahagia kita harus mampu menjaga dan menata hati, karena efek yang akan tampak bila kita sudah mampu menata hati akan sangat jelas terlihat, dalam segi apapun. Dibawah ini akan aku salin dari isi ceramah beliau yang aku dapat dari sebuah blog di google “ceramahcenter”, mirip bahkan sama banget isinya dengan yang aku tonton di I News TV. 

“Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapapun sekiranya memiliki qolbu yang tertata, terpelihara, dan terawat dengan sebaik-baiknya. Karena selain senantiasa merasakan kelapangan, ketenangan, ketenteraman, kesejukan, dan indahnya hidup di dunia ini, pancaran kebeningan hati pun akan tersemburat pula dari indahnya setiap aktivitas yang dilakukan.

Betapa tidak, orang yang hatinya tertata dengan baik, wajahnya akan jauh lebih jernih. Bagai embun menggelayut di ujung dedaunan di pagi hari yang cerah lalu terpancari sejuknya sinar mentari pagi; jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Tidak berlebihan jika setiap orang akan merasa nikmat menatap pemilik wajah yang cerah, ceria, penuh sungging senyuman tulus seperti ini.

Begitu pula ketika berkata, kata-katanya akan bersih dari melukai, jauh dari kata-kata yang menyombongkan diri, terlebih lagi ia terpelihara dari kata-kata riya, subhanallah. Setiap butir kata yang keluar dari lisannya yang telah tertata dengan baik ini, akan terasa sarat dengan hikmah, sarat dengan makna, dan sarat akan mamfaat. Tutur katanya bernas dan berharga. Inilah buah dari gelegak keinginan di lubuk hatinya yang paling dalam untuk senantiasa membahagiakan orang lain.

Kesehatan tubuh pun terpancari pula oleh kebeningan hati, buah dari kemampuannya menata qolbu. Detak jantung menjadi terpelihara, tekanan darah terjaga, ketegangan berkurang,dan kondisi diri yang senantiasa diliputi kedamaian. Tak berlebihan jika tubuh pun menjadi lebih sehat, lebih segar, dan lebih fit. Tentu saja tubuh yang sehat dan segar seperti ini akan jauh lebih memungkinkan untuk berbuat banyak kepada umat.

Orang yang bening hati, akal pikirannya pun akan jauh lebih jernih. Baginya tidak ada waktu untuk berpikir jelek sedetik pun jua. Apalagi berpikir untuk menzhalimi orang lain, sama sekali tidak terlintas dibenaknya. Waktu baginya sangat berharga.

Mana mungkin sesuatu yang berharga digunakan untuk hal-hal yang tidak berharga? Sungguh suatu kebodohan yang tidak terkira. Karenanya dalam menjalani setiap detik yang dilaluinya ia pusatkan segala kemampuannya untuk menyelesaikan setiap tugas hidupnya.

Tak berlebihan jika orang yang berbening hati seperti ini akan lebih mudah memahami setiap permasalahan, lebih mudah menyerap aneka ilmu pengetahuan, dan lebih cerdas dalam melakukan beragam kreativitas pemikiran. Subhanallah, bening hati ternyata telah membuahkan aneka solusi optimal dari kemampuan akal pikirannya.

Walhasil, orang yang telah tertata hatinya adalah orang yang telah berhasil merintis tapak demi tapak jalan ke arah kebaikan tidak mengherankan ketika ia menjalin hubungan dengan sesama manusia pun menjadi sesuatu yang teramat mengesankan. Hatinya yang bersih membuat terpancar darinya akhlak yang indah mempesona, rendah hati, dan penuh dengan kesantunan.

Siapapun yang berjumpa akan merasa kesan yang mendalam, siapapun yang bertemu akan memperoleh aneka mamfaat kebaikan, bahkan ketika berpisah sekalipun, orang seperti ini menjadi buah kenangan yang tak mudah dilupakan.

Dan, Subhanallah, lebih dari semua itu, kebeningan hatipun ternyata dapat membuat hubungan dengan Allah menjadi luar biasa mamfaatnya. Dengan berbekal keyakinan yang mendalam, mengingat dan menyebut-Nya setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat-Nya, membuat hatinya menjadi tenang dan tenteram.

Konsekuensinya, dia pun menjadi lebih akrab dengan Allah, ibadahnya lebih terasa nikmat dan lezat. Begitu pula do’a-do’anya menjadi luar biasa mustajabnya. Mustajabnya do’a tentu akan menjadi solusi bagi persoalan-persoalan hidup yang dihadapinya. Dan yang paling luar biasa adalah karunia perjumpaan dengan Allah Azza wa Jalla di akhirat kelak, Allahu Akbar.

Pendek kata orang yang bersih hati itu, luar biasa nikmatnya, luar biasa bahagianya, dan luar biasa mulianya. Tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Tidak rindukah kita memiliki hati yang bersih?

Silahkan bandingkan dengan orang yang berperilaku sebaliknya; berhati busuk, semrawut, dan kusut masai. Wajahnya bermuram durja, kusam, dan senantiasa tampak resah dan gelisah. Kata-katanya bengis, kasar, dan ketus. Hatinya pun senantiasa dikotori buruk sangka, dendam kesumat, licik, tak mau kompromi, mudah tersinggung, tidak senang melihat orang lain bahagia, kikir, dan lain-lain penyakit hati yang terus menerus menumpuk, hingga sulit untuk dihilangkan. Tak berlebihan bila perilakunya pun menjadi hina dan nista, jauh dari perilaku terhormat, lebih dari itu, badannya pun menjadi mudah terserang penyakit. 

Penyakit buah dari kebusukan hati, buah dari ketegangan jiwa, dan buah dari letihnya pikiran diterpa aneka rona masalah kehidupan. Selain itu, akal pikirannya pun menjadi sempit dan bahkan lebih banyak berpikir tentang kezhaliman.

Oleh karenanya, bagi orang yang busuk hati sama sekali tidak ada waktu untuk bertambah ilmu. Segenap waktunya habis hanya digunakan untuk memuntahkan ketidaksukaannya kepada orang lain. Tidak mengherankan bila hubungan dengan Allah SWT pun menjadi hancur berantakan, ibadah tidak lagi menjadi nikmat dan bahkan menjadi rusak dan kering. Lebih rugi lagi, ia menjadi jauh dari rahmat Allah. Akibatnya pun jelas, do’a menjadi tidak ijabah (terkabul), dan aneka masalah pun segera datang menghampiri, naudzubillaah (kita berlindung kepada Allah).

Ternyata hanya kerugian dan kerugian saja yang didapati orang berhati busuk. Betapa malangnya. Pantaslah Allah SWT dalam hal ini telah mengingatkan kita dalam sebuah Firman-Nya : "Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Q.S. Asy-Syam [91] : 9 – 10).

Ingatlah saudaraku, hidup hanya satu kali dan siapa tahu tidak lama lagi kita akan mati. Marilah kita bersama-sama bergabung dalam barisan orang-orang yang terus memperbaiki diri, dan mudah-mudahan kita menjadi contoh awal bagaimana menjadikan hidup indah dan prestatif dengan bening hati, Insya Allah” 

Ya Rabb...aku ingin dan berharap terus bisa menata hati sebaik-baiknya. Tolong aku ya Allah...!

Hati yang tertata bersih dan bersinar


Tuesday, May 15, 2018

MARAHABAN YA RAMADHAN

Marhaban Ya Ramadhan

Saudaraku.
Kalau Maghrib nanti hilal terlihat, maka dalam hitungan beberapa saat ke depan kita akan memasuki bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Fokuskanlah untuk ibadah! 
Sambutlah bulan suci ini dengan penuh bahagia. 
Karena ini merupakan karunia dari Allah Ta'ala.
Jangan lagi disibukkan dengan media-media sosialmu

Mushaf Al-Quran sudah menantimu, jangan kau acuhkan lagi seperti di bulan-bulan lainnya. 
Berusahalah untuk membacanya dengan mentadaburi maknanya. Dan berusahalah untuk bisa mengkhatamkannya. 
Saudaraku, kalau bukan di bulan Ramadhan ini kita tidak bisa mengkhatamkannya? Maka pada bulan apa lagi kita bisa mengkhatamkannya?? Padahal bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran.

Nabi ﷺ saja dimuroja'ah oleh Malaikat Jibril 'alaihissalam setiap malamnya.

Saudaraku, mari kita manfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baik ibadah kepada Allah Ta'ala semata. .
Persiapkan tenaga kita, persiapkan mental kita, persiapkan harta kita, dan persiapkan seluruh kemampuan kita untuk menggapai ampunan dari Allah yang Mahapengampun.
Mudah-mudahan Allah Ta'ala memberikan ampunan-Nya kepada kita semua.

Syaikh 'Ali Hasan Al-Halaby hafizhahullah, mengatakan sebagian 'Ulama lainnya membolehkan ucapan:

بارك الله لكم في هذا الشهر

Semoga Allah memberkahi kalian semua di bulan ini. . Maka dari itu, Untukmu saudaraku, aku mengucapkan ,

بارك الله لكم في هذا الشهر
.
Semoga Allah memberkahi kalian semua di bulan ini. .
.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua dalam menjalankan ibadah di bulan yang mulia ini. Menjadikan siangnya untuk puasa, shadaqoh, malamnya untuk Qiyamul lail, membaca Al-Qur'an dan juga yang lainnya..
Allahumma Aamiin. .
Ustadz Fuad Baraba Lc

Marhaban ya Ramadhan

Sunday, April 29, 2018

WANITA BERCADAR

Alhamdulillah...ini starting point yang cukup nekad bagiku, Sabtu tanggal 28 April 2018 aku resmi menyatakan diriku wanita bercadar. Entah mengapa momentnya selalu April ya? Dulu pertama kali aku berjilbab juga bulan April, tepatnya 5 April 2005. Ada perasaan yang luar biasa yang tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Campur aduk..... Sebuah pengalaman yang sangat mengena di jiwaku. Karena apa ini pertama kali aku ber”cadar” di Indonesia.  

Sebenarnya kemaren selama umroh aku sudah mulai belajar mengenakan cadar. Tantangannya tidak besar. Selama 15 hari umroh aku kontinu bercadar. Semua biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa, karena seluruh jamaah yang sedang berumroh sebagian besar bercadar. Jadi wajar... 

Namun kemaren rasanya sangat penuh tantangan. Mulai saat aku keluar komplek perumahanku, pak Satpam menatap kaget. Lantas tiba di parkiran masjid Taqwa tempat aku mengikuti taklim, juru parkir yang sudah langgananpun menatap aneh ke arahku. Masuk ke dalam masjidpun mengambil saf jamaah lain menatap dengan pandangan aneh yang tidak bisa aku lukiskan. Namun ada yang menenangkan ketika sang ustadz yang sepertinya hafal jika aku adalah makhluk yang selalu setia duduk pada posisi yang sama saf ke-4 tengah depan telah berhijrah. Aku tahu kalimat-kalimat yang menegarkan, menenangkan itu ditujukan buat aku. Beliau menasehati jamaah dan juga kita sebagian besar sesama muslim untuk tidak mencibir/mengolok-olok seseorang yang berhijrah ke tingkat yang lebih berani sebagai contoh mulai ber”cadar”. Kita mestinya bangga dan bersyukur pada seseorang itu. Kalimat itu berkali-kali diucapkannya dengan berbagai perumpamaan. Jakallahu khairan ustadz, kalimat itu menenangkanku, karena membuat ibu-ibu agak sedikit berkurang menatapku aneh. 

Lanjut lagi pengalaman hari pertama itu. Pulang pengajian aku harus ke PTC untuk belanja bulanan. Luar biasa perasaan yang harus aku tata pada hatiku. Begitu banyak mata memandang aneh, ada yang terang-terangan, ada yang melirik dengan sudut matanya saja. Berbagai macam expressi, bahkan ada yang lucu ketika aku melihat seorang anak bayi yang sudah mulai bisa berjalan, ketika aku memilih belanjaan di area sabun. Anak itu sampai muterrr dan berusaha menatap aku lekat-lekat. Oleh Abinya anak tersebut diambil dan digendong, tapi dia balik menoleh lagi mencari aku dan menatap wajahku. Aku berpikir papanya juga punya landasan agama yang baik karena ketika dia membahasakan diri buat anaknya itu “Abi”. Karena aku terpana dengan sikap si bayi aku menyeletuk pada abinya “Kenapa nak? Takut atau aneh ya dengan cadar???”. Abinya mengatakan “tidak umm” sambil menggendong anaknya pergi. 

Itulah pengalaman yang sangat berkesan di hari pertamaku ber”cadar”. Sebenarnya sudah cukup lama hasrat dan keinginan aku untuk bercadar, sekitar tahun 2013. Kala itu niat bercadarku hanyalah untuk melindungi diri. Aku menjadi takut karena terlalu banyak laki-laki yang terkagum-kagum padaku, mengejar, naksir dan sebagainya. Aku bertanya pendapat orang lain, mereka bilang aku cantik. Padahal aku sudah melindungi diri dengan berjilbab syar’i, no make up dan pakaian longgar. Dengan statusku yang “Janda” aku menjadi sangat takut dengan situasi ini. Aku tak ingin menjadi incaran para lelaki jalang Saat itu aku inginnnn sekali bercadar biar laki-laki tidak dapat melihat parasku, tidak mengenalku, bahkan mungkin aku berharap mereka takut dengan penampilanku. Namun saat itu banyak sekali sumbang saran yang melarang dengan berbagai macam alasan. Akhirnya untuk menghindari kejaran laki-laki saat itu aku memakai masker. 

Disamping itu niatku untuk bercadar pada awalnya juga adalah untuk menghindari mulut nyinyir. Apa maksud kalimatku ini? Ini dimulai oleh masa laluku yang sangat menyakitkan. Perceraian, perebutan anak, fitnah kalimat anak-anakku, mantan suami, istri baru sang mantan adalah hal terburuk yang ingin aku kubur dalam-dalam dan buang jauh-jauh. Sejauh ini aku bisa! Tapi kadangkala borok bernanah itu kembali menganga, di saat aku bertemu dengan orang-orang nyinyir yang ada di sisi dia. Yang seakan-seakan simpati terhadapku namun sebenarnya membunuh dengan kalimat-kalimatnya. Ketika aku bertemu orang-orang ini, orang-orang masa lalu yang usil ini, mengungkit lagi cerita lalu. Memberikan info macam-macam yang pada akhirnya membuat aku menangis lagi. Sudahlah....aku tak mau mengungkit itu lagi. Semua sudah “END”. Nah aku berpikir dengan menutup seluruh diriku sampai ke muka jelas sekali orang tak dapat mengenali aku lagi. Jadi tak perlu lagi banyak bicara. Ini aku buktikan kemaren tak ada orang yang mengenali aku saat di PTC. Muslim seorang karyawan yang cukup dekat saat rekruting dulu berdiri bersisian saat beli pewangi mobil tak sedikitpun mengenali aku. Alhamdulillah misiku berhasil. 

Dan waktuku bergulir.... aku makin banyak belajar tentang ilmu yang berkaitan dengan fiqih, sunnah dan sebagainya. Sedikit demi sedikit aku makin mengerti tentang hukum cadar. Aku juga berharap dengan bercadar hanya laki-laki yang iman dan akhlaknya yang sudah baik saja yang berani mendekat. Sejak makin paham hatiku semakin bergetar jika melihat perempuan bercadar yang belakangan ini sudah semakin banyak. Bahkan jika aku belanja ke PTC aku berdetak melihat wanita bercadar. Aku mau seperti dia. 

Pulang umroh keinginanku bercadar makin kuat, aku sudah berencana untuk mengenakan cadar saat ke pengajian rutin hari Sabtu di masjid Taqwa, namun semua masih tertunda-tunda. Yang memberatkan adalah aku tak mau membuka cadar ketika sholat, entah itu sholat tahiyatul masjid atau Dhuha. Karena saat aku membuka niqobku saat sholat justru aku tak mau ada bisik-bisik, ada tatapan aneh. Untuk hal ini aku sampe konsul kesana-sini tentang hukumnya bercadar saat sholat. “Makruh!” Itu saja yang menjadi keberatan aku. 

Tapi entahlah kekuatan dari mana, Sabtu kemarin aku memantapkan hati bercadar apapun rintangannya. Sholat tahiyatul masjid dan dhuha aku menyingkapkan cadarku ke kepala. Aku menutup mata dan hati tentang apa tanggapan orang lain. Agak kaku bahkan mungkin jadi agak kurang khusuk karena aku pengen buru-buru menyelesaikan sholatku. Dan semua itu terlewati. Terlebih lagi kata-kata supporting sang ustadz. Semua sudah ku “proklamirkan” bahwa aku wanita bercadar. Jadi tak mungkin lagi untuk surut ke belakang. Ustadz sudah tahu aku berhijrah, jika aku tak istiqomah aku akan menanggung malu. Lagipula selama bercadar seharian kemaren aku merasa damai dan tenang.  

TENTANG MEMAKAI CADAR 
Cadar atau penutup wajah telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlepas apakah menutup wajah merupakan suatu yang wajib ataukah sunnah. Bukti adanya ajaran Cadar dalam Islam, kita dapat melihat dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam tentang wanita yang akan berihrom. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda pada para wanita, 

لاَ تَنْتَقِبُ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقَفَّازَيْنِ 
“Wanita yang berihrom itu tidak boleh mengenakan niqob maupun kaos tangan.” 

Niqob adalah kain penutup wajah mulai dari hidung atau dari bawah lekuk mata ke bawah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ketika menafsirkan surat An Nur berkata, “Ini menunjukan bahwa cadar dan kaos tangan biasa dipakai oleh wanita-wanita yang tidak sedang berihrom. Hal itu menunjukan bahwa mereka itu menutup wajah dan kedua tangan mereka.”

Wajibkah Mengenakan Cadar? 
Muncul beberapa pertanyaan dalam masyarakat, khususnya yang beragama islam. Apakah memakai cadar hukumnya wajib? Dalam kita suci Al-quran, hukum wanita becadar dan hukum memakai jilbab ada beberapaa ayat mengenai aturan menutup aurat bagi wanita dan mengenai perintah berjilbab. Allah memerintahkan untuk menutup auratnya bagi wanita. 

Banyak terjadi pro dan kontra mengenai hal bercadar ini. Sebenarnya bercadar sudah ada sejak zaman Nabi, wanita-wanita sholeha pada zaman Nabi menggunakan cadar. Ada beberapa surat dalam Al-quran yang membahas tentang menutup aurat dan memakai kerudung atau jilbab bagi wanita 

Allah Ta’ala berfirman, 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا 
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang-orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilababnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak digangggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab 33: 59). 

Ayat ini dalam pendapat beberapa ulama di terjemahkan dalam pemahaman yang berbeda. Ada yang berpendapat menutupi wajah (cadar) itu wajib, dan sebagaian lagi berpendapat tidak karena ada ayat yang menyatakan bahwa aurat wanita seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.  Allah Ta’ala juga berfirman, 

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا 
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) Nampak dari padanya.” (QS. An Nuur 24: 31). 

Berdasarkan tafsiran Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Makhul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.  

Dari tafsiran yang shohih di atas dapat disimpulkan bahwa wajah bukanlah aurat. Jadi, hukum menutup wajah adalah sunnah (dianjurkan). Dari sumber dan beberapa pendapat akupun menyimpulkan bahwa ber"cadar" adalah sunnah. Namun aku selalu ingat nasihat ustadz jika kelak di hari akhirat kita menginginkan bersama dengan Rasulullah , maka akan sangat baik kita menghidupkan sunnah. (Diantaranya laki-laki memelihara jenggot, dan wanita bercadar dsb). 

Saat ini proses hijrahku mungkin belum sempurna, aku baru mengenakan cadar saat pergi ke pengajian atau di tempat-tempat umum dulu. Sedangkan ke kantor atau ke pertemuan komunitas RT aku masih belum siap. Kalau di kantor memang dilarang, sedangkan di komunitas aku tak ingin menjadi pergunjingan, namun insyaa Allah aku berniat memakai cadar dalam seluruh aktifitas hidupku. Untuk kebiasaanku yang seperti ini aku berusaha mencari dalil tentang buka tutup cadar. Aku takut berdosa sebagaimana hukum muslimah yang buka tutup jilbab dianggap menghina agama. Kudapatkan artikel di bawah ini yang menyemangati dan menguatkan aku.

Terkadang memakai cadar dan terkadang tidak memakai cadar 
Jika meyakini hukumnya sunnahnya. Jika tidak bisa memakai cadar seterusnya maka tidak ada salahnya jika selang-seling memakainya. Memakainya di tempat dan suasana yang mendukung dan melepasnya di tempat dan suasana tidak mendukung. Sebagai contoh , 

-Jika di lingkungan keluarga dan kerabat dilarang oleh orang tua, maka silahkan dilepas. Tetapi ketika keluar rumah silahkan memakainya. 
-Jika di kampus atau di kantor dilarang memakainya, maka silahkan dilepas. Tetapi ketika ke pasar dan ke tempat kajian silahkan memakainya. 

Karena Islam mengajarkan tidak perlu menunda sesuatu karena ingin sempuna sekali. Jika hanya bisa meraih setengahnya maka jangan ditinggalkan semuanya. Sesuai dengan kaidah fiqhiyah, 

ما لا يدرك كله لايترك كله 
“sesuatu yang tidak bisa dicapai seluruhnya jangan ditinggal seluruhnya” 

Begitu juga perintah Allah agar kita bersegera dalam kebaikan, Allah Ta’alaberfirman, 

فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ  
“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan” 

وكان ابن عمر رضي الله تعالى عنهما يقول: إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك. رواه البخاري 
Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” 

Banyak jalan menuju surga Jika ingin memakai cadar tidak mesti memakai cadar lengkap dengan purdahnya, kemudian memakai pakaian serba besar berwarna hitam. Karena tujuan cadar adalah menutup wajah yang merupakan salah satu bagian yang paling dinikmati oleh laki-laki, maka apapun yang digunakan untuk menutup muka maka boleh-boleh saja. Misalnya slayer dan masker penutup muka. Para wanita bisa menggunakan slayer untuk menutup wajah mereka. Sehingga hampir mirip fungsinya dengan cadar. Dan kesan orang memakai slayer tentu berbeda kesan orang memakai cadar. Karena slayer sudah dianggap biasa di masyarakat kita. Akan tetapi fungsinya hampir sama dan bisa diniatkan untuk melaksanakan sunnah, yaitu menutup wajah. Karena memakai slayer atau masker adalah wasilah/sarana dan hukum wasilah sesuai dengan hukum tujuannya yaitu menutup wajah, selaras dengan kaidah fiqhiyah. 

الوسائل لها أحكام المقاصد 
“wasilah/sarana sesuai dengan hukum tujuannya” 

Bertahap dalam menuju kebaikan 
Terkadang dalam melaksanakan sesuatu butuh proses, begitu juga dalam amal dan dakwah. Bagi yang belum mantap memakai cadar lengkap dengan purdahnya, maka bisa memakai slayer atau masker dulu, begitu juga jika belum siap memakai seterusnya. Bisa jadi dengan perlahan-lahan hanya memakai slayer maka perlahan juga keimanan bertambah di hatinya dan ketentraman hati serta manisnya ketaatan mendorongnya untuk tegar dibalutan cadar dan purdahnya untuk seterusnya. 

Begitu juga dengan lingkungan dan masyarakat sekitar yang memang belum siap sekali dengan cadar, diharapkan mereka perlahan bisa menerima cadar, setelah melihat bahwa orang yang bercadar ternyata tidak tertutup, seram, kaku serta menutup diri total dari masyarakat. Cara bertahap bisa kita lihat dalam bertahap pengharaman khamer dan penetapan wajibnya puasa. 

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata, 

هذا التدرج باق عند الحاجة إليه ، ولا شك أن الشارع تدرج في تشريع الأحكام رحمة بالناس ، وترغيبا لهم في القبول ، ومن ذلك تدرجه في شريعة الصيام ، وتدرجه في تحريم الخمر ، وذلك من أجل الرحمة بالناس وعدم المشقة عليهم ، وهذا التدرج مطلوب عند الحاجة إليه في كل زمان 
“Metode bertahap tetap berlaku ketika dibutuhkan, tidak diragukan bahwa syari’at bertahap dalam menetetapkan hukum sebagai rahmat bagi manusia dan motivasi agar bisa menerima. Contohnya seperti pensyari’atan puasa, pengharaman khamer. Hal ini karena sebagai rahmat bagi manusia dan menghilangkan kesusahan bagi mereka. metode bertahap ini dituntut ketika ada kebutuhan di setiap zaman.” 

Semoga sunnah ini tidak punah dan terasing. Kita tentu ingin melihat umat Islam kembali ke ajaran Islam yang benar, kembali ke masa kejayaan Islam. Kita tentu ingin melihat pemandangan sekumpulan gagak-gagak hitam sebagaimana yang diceritakan oleh Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, beliau berkata, 

لما نزلت: يدنين عليهن من جلابيبهن خرج نساء الأنصار كأن علي رؤوسهن الغربان من الأكسية 
Ketika turun firman Allah (yang artinya), “Hendaknya mereka (wanita-wanita beriman) mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” [Al-Ahzab :59] wanita-wanita Anshar keluar seolah-olah pada kepala mereka terdapat burung-burung gagak karena warna (warna hitam-red) kain-kain (mereka). 

Apapun niat awal aku ingin bercadar bukanlah hal yang penting, namun kini aku merasa nyaman dengan cadarku. Aku membutuhkannya. Aku berharap akan segera bisa sempurna berhijrahku, dengan mengenakan cadar dalam keadaan apapun tanpa takut dan khawatir akan cibiran dan penilaian manusia. Ya Allah semoga aku istiqomah. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. 

Catatan :
Dalil penguatku dan pendukung di dapat dari berbagai sumber. Wallahu a;lam bishowab.