Wednesday, June 6, 2018

SKENARIO ALLAH ITU INDAH

Semalam setelah beberes menjelang tidur aku sedikit merenung, karena barang-barang yang dibereskan adalah barang-barang lama di masa lalu, seperti pianika, tas sekolah Naufal dan Caca menyebabkan aku melambung ke masa-masa penuh mencekam itu. Tapi semua menjadi manis ketika aku kenang saat ini, padahal saat aku menjalani kehidupan masa lalu, dulu aku sangat tertekan dan menderita. 

Dengan mengenang dan merenung aku semakin menyadari bahwa Allah itu sungguh Maha Kuasa, skenario Allah sangat sistematis dan indah. Terbayang kembali runutan perjalanan hidup yang aku jalani sehingga aku sampai ke titik sekarang ini. Bagaimana Allah merangkai peristiwa dalam rangka membentuk diriku menjadi seorang wanita yang tangguh,kuat dan tegar. Bahkan jika dibandingkan dengan kakak-kakak saudara kandungku aku menjadi paling kuat, menjadi tumpuan jika keluarga ada masalah, menjadi seorang yang berani tampil kedepan dan mengorbankan diri dalam masalah keluarga besarku. 

Hmmmm..... aku yang dulu di masa gadis adalah seorang wanita yang sangat lemah dan selalu dibantu. Aku masih sangat ingat meskipun aku sudah bekerja (artinya sudah gede), jika tengah malam aku ingin buang air kecil aku selalu gedor pintu kamar Papa/Mama minta ditemani. Bayangkan penakutnya aku. 

Mama/Papa juga selalu memprotect aku dengan sangat ketat, jika ada keperluan kemanapun adek laki-lakiku Oyan atau Arie disuruh mengantar. Tak terlupakan saat Mama berdiri di pinggiran jalan depan gang Perumahan Rakyat dengan mata jeli menatap setiap angkot ijo yang berhenti, menunggu aku jika aku pulang telat dari biasanya. Ahh... betapa luar biasanya kasih sayang Mama/Papa terhadap aku. Aku seorang gadis manja yang ditimang sampai dewasa. Bukan hanya oleh Mama/Papa melainkan oleh seluruh keluarga besar. Mengapa mereka sangat mengkhawatirkan aku? Karena sejak bayi aku memang lemah, aku mengidap penyakit astma akut. Aku tak boleh capek. Jika capek maka aku akan bengek. Dan inilah penyebab aku dijaga seperti porselen oleh seluruh keluarga besarku. Aku selalu ingat saat malam takbiran atau hari “bemasak” (sehari sebelum Idul Fitri/Adha), disaat 5 orang anak perempuan Mama berjibaku sibuk memasak di dapur untuk mempersiapkan hidangan lebaran, semua saudara perempuanku plus Mama akan dengan kompak mengusir aku jika masuk dapur. “Esi...heit gak usah ke dapur... kamu bagian luar sana...bagian menata ruang tamu saja”. Yah...jadi aku memang anak emas yang diistimewakan. 

Lantas pada akhirnya “Qadarullah” aku menikah dengan seorang laki-laki bengis, kasar, egois dan tidak punya perasaan. Hari pertama setelah pernikahanpun aku sudah menerima kekerasan dari dirinya ataupun keluarga besarnya. Hari minggu malam setelah resepsi di hari minggunya aku langsung diajak paksa ke rumahnya, dibentak, disindir dengan kata-kata kasar, keesokan paginyapun disuruh seharian di dapur membersihkan ikan, cuci piring sampai tangan keriput karena terendam air. Bahkan jika Idul Fitri aku akan berkumpul dengan keluarga besarnya, dimana aku pasti diperlakukan  seperti upik abu oleh seluruh keluarga besarnya. Sesuatu hal yang tidak pernah aku lakukan seumur hidupku selama ini. 

Dan di awal-awal pernikahan aku sudah harus terbiasa menunggu rumah sendiri. Hal ini disebabkan oleh karena dia adalah seorang karyawan Rumah Sakit dengan sistem shift, juga disebabkan karena pada akhir pekan atau saat dia Off, dia akan pulang ke kampung halamannya. Tinggal sendiri di rumahnya yang menurut tetangga memang penuh dengan suasana mistis dan seram. Aku ingat minggu awal aku tinggal di sana. Saat itu bulan Ramadhan. Apabila dia mendapat giliran shift sore maka menjelang Maghrib aku bergegas masak dan menyiapkan santapan untuk buka puasa. Lalu setelah selesai aku menata masakan di meja kecil didalam kamar tidur. Dengan rinci dan teliti karena aku tak ingin ada perlengkapan makan yang kurang sehingga aku harus keluar lagi ke dapur (aku sangat takut karena suasana mistis itu memang ada di ruang dapur). Aku menyantap makan, melakukan aktifitas sambil menunggu dia pulang kerja tengah malam hanya di ruang kamar yang berukuran 2x3 m itu saja. Itulah cara aku mengatasi rasa takutku. 

Waktu terus berjalan dan hanya perlu waktu sebulan lebih aku sudah terbiasa melintasi seisi rumah besar yang seram itu sendiri (aku memang lebih sering ditinggal sendiri karena dia terlalu banyak aktivitas di malam hari kalau tidak pulang ke kotanya, dia ke diskotik, main bowling, karaoke, main canasta). Disamping itu jika ingin bepergian ke mana-mana (kantor, pasar, kampus kuliah, LB LIA English course) aku harus naik angkot, becak sendiri. Bahkan check up control kehamilanpun aku sendiri. Subhanallah ...begitulah skenario Allah melatih aku menjadi pribadi yang mandiri dan kuat, 

Sampai akhirnya untung tak dapat diraih malang tak dapat dicegah “Perceraian”pun terjadi. Bersyukurnya aku sudah terbentuk menjadi pribadi yang sangat tangguh dan terbiasa melakukan apapun sendiri. Bahkan karena kondisi yang mendesak aku akhirnya bisa menyetir mobil sendiri, padahal aku sangat penakut naik motor atau sepedapun tak berani. Dengan pandai menyetir mobil aku tidak harus bersusah payah kesana kemari (mengantar anak sekolah, tempat terapi autis Caca, ke pasar, manasik haji). Saat memiliki mobil pribadipun waktunya tepat yaitu menjelang aku berangkat haji, sehingga saat manasik yang tempatnya jauh dan harus berkali-kali naik angkot sudah tidak menjadi masalah bagiku. Terbayang jika aku tak punya mobil berapa banyak waktu yang aku butuhkan untuk sampai ke tempat manasik,apalagi saat pulang aku harus bergegas untuk segera mengurus anak-anak yang kutinggal.

5 tahun berselang episode kehidupankupun belum selesai, aku masih harus menjalani sebuah skenario lagi yaitu perebutan hak asuh anak, dipenjarakan, dipisahkan paksa dari darah daging yang pernah aku semaikan dalam rahim, dan pada akhirnya aku tinggal di rumah besarku sendiri lagi. Aku sudah sangat kukuh. Terbiasa dengan kesendirian, terbiasa dengan fitnah yang disebar sang mantan dan anak kandungku. Aku percaya setiap episode kehidupan yang telah di skenariokan Allah untuk aku perankan ini adalah terbaik dan penuh pembelajaran bagi aku sebelum aku menjalani kehidupan yang kekal nanti . 

Semua kejadian mulai awal penciptaan hingga hari kiamat, semuanya telah diketahui Allah berdasarkan ilmu-Nya yang tertulis dalam Lauh Mahfuudh. Allahta’ala berfirman : 

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ 

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuudh)” [QS. Al-An’aam : 59]. 

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا 

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya” [QS. Al-Hadiid : 22]. 

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ 
“Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena (qalam). Lalu Allah berfirman kepadanya : ‘Tulislah’. Pena berkata : ‘Wahai Rabbku, apakah yang harus aku tulis ?’. Allah berfirman kepadanya : ‘Tulislah taqdir-taqdir segala sesuatu hingga terjadinya hari kiamat” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4700, At-Tirmidziy no. 2155 & 3319, Ahmad 5/317, dan yang lainnya; At-Tirmidziy berkata : “Hadits hasan shahih ghariib”]. 

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ 
“Allah telah menuliskan taqdir para makhluk 50.000 tahun sebelum Ia menciptakan langit-langit dan bumi” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2653]. 

Apa yang dikehendaki Allah ta’ala dalam ketetapan taqdir-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak mungkin terjadi.  Allah ta’ala berfirman : 

وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ 
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” [QS. At-Takwiir : 29]. 

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ 
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit” [QS. Al-An’aam : 125]. 

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا 
“Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami" [QS. At-Taubah : 51]. 

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ 
“Ketahuilah, bahwa jikalau ada seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfa’at bagimu, maka mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu, dan jikalau mereka berkumpul untuk merugikanmu (membahayakanmu) dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa melakukan itu kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena (pencatat) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2516, dan ia berkata : “Hadits hasan shahih”]. 

Bencana atau ujian yang aku hadapi ini membuat aku mengoreksi diri, menyadari lalu aku mengalihkan rasa pedih, rasa dukaku dengan jalan rajin ke majelis ilmu. Ya Rabb kalau bukan karena rahmatMU mungkin aku tak mampu mencari pelarian/pengalihan rasa duka ke sisi jalan yang saat ini aku tempuh. Aku sangat percaya Allah selalu mempunyai hikmah, makna di balik segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini, asal kita mampu menelaah, membaca dan mengambil pengalamannya. Insyaa Allah aku mampu , agar kelak ketika aku wafat aku akan diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah Aamiin....Allahumma Aamiin...






Tuesday, May 29, 2018

FENOMENA BUKA BERSAMA DI BULAN RAMADHAN

Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan yang dinantikan oleh seluruh umat Islam, karena banyak sekali keutamaan dan keistimewaan di bulan ini. Setiap muslim pasti sangat berharap bisa bertemu dengannya karena keutamaannya yang banyak sekali, diantaranya: 

1.Bulan Diwajibkannya Puasa 
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ 
“Bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi telah datang kepada kalian. Di bulan itu Allah mewajibkan puasa kepada kalian.” [Shahih An Nasaa-i, no. 2105] 

2.Bulan Yang Penuh Berkah 
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْهِ لَيْلَةٌ هِيَ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ 
“Bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi telah datang kepada kalian. Di bulan itu Allah mewajibkan puasa kepada kalian.. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup dan setan-setan durhaka dibelenggu. Di bulan itu terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa dihalangi mendapatkan kebaikannya, maka ia telah terluput.” [Shahih An Nasaa-i, no. 2105] 

3.Pintu-pintu Surga Dibuka dan Pintu-pintu Neraka Ditutup 
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ – وَفِيْ رِوَايَةٍ : أَبْوَابُ الْجَنَّةِ – وَفِيْ رِوَايَةٍ: أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ “ 
Apabila masuk Bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu langit –dalam satu riwayat dikatakan: ‘Pintu Surga’. Dan dalam riwayat lainnya: ‘Pintu-pintu rahmat’. – Dan ditutup Pintu-pintu Jahannam dan para setan dibelenggu.” [HR. Al Bukhari, no.1899 dan Muslim, no. 1079] 

4.Bulan Diturunkan Al Qur-an 
Allah berfirman, “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” [QS. Al Baqarah: 185] 

5.Bulan Pembebasan dari Api Neraka 

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجِنَانِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَنَادَى مُنَادٍ : يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَللَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُل لَيْلة 
“Bila malam pertama bulan Ramadhan telah tiba, maka seluruh setan dan jin gentayangan dibelenggu. Seluruh pintu neraka ditutup dan tidak ada satupun yang terbuka. Sebaliknya, seluruh pintu surga dibuka dan tidak ada satupun yang tertutup. Dan seseorang akan menyeru, ‘Wahai para pencari kebaikan bergegaslah dan wahai pencari kejelekan berhentilah!. Dan pada setiap malam Allah membebaskan sebagian hambanya dari siksa neraka” [Shohih Ibnu Majah, no. 1339] 

6.Di Dalamnya Terdapat Malam ‘Lailatul Qadar’ Diantara keistimewaan Bulan Ramadhan adalah karena di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu malam, yaitu Malam Lailatul Qadar. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِيْ سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِيْ خَامِسَةٍ تَبْقَى 
“Carilah (Lailatul Qadr) pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, pada sembilan malam tersisa, pada tujuh malam tersisa, pada lima malam tersisa!” [HR. Al Bukhari, no. 2021] 

Jika kita memahami keistimewaan bulan Ramadhan seharusnya yang kita lakukan adalah mengoptimalkan amal dan ibadah kita untuk meraih semua kenikmatan. Pahala dan keistimewaan yang telah ditawarkan oleh Allah SWT. Namun seiring dengan perkembangan zaman banyak sekali fenomena yang terjadi di bulan Ramadhan ini. Dan yang paling “trend”, paling “kekinian” adalah fenomena “Buka Bersama alias BUKBER”. 

Bukber seakan menjadi sebuah prestise tentang “kekinian” yang seakan dibungkus dengan sebuah motif yang sangat baik yaitu memanfaatkan Ramadhan menjadi sebuah kesempatan untuk saling bersilaturahim dengan teman, komunitas sosial, komunitas kantor, kerabat yang lama tak bersua. Bahkan hampir tiap akhir pekan di bulan Ramadhan jadwal Bukber sudah sangat penuh. Bukber teman kantor, Bukber teman SD, Bukber teman SMP, Bukber bersama teman SMA, Bukber teman pengajian. 

Bukber menjadi sebuah ajang yang menaikkan gengsi suatu komunitas dengan menyelenggarakannya di hotel ataupun resto mewah. Apalagi mereka yang hobi tergabung dalam komunitas tertentu. Biasanya mereka pun memiliki acara BukBer yang tak kalah hebohnya dengan grup-grup lainnya dan pastinya mereka akan men”share” ke media soaial. 

Bukber harusnya bisa menjadi momen yang menyenangkan manakala kita menikmati buka puasa tersebut dengan tetap menjalankan kewajiban kita kepadaNYA. BukBer itu sendiri hakikatnya adalah mensyukuri rizki yang telah Allah berikan kepada kita sehingga kita masih bisa menikmati hidangan buka puasa serta menjalin tali silaturahim yang tentunya memiliki pahala tersendiri bagi kita.

Namun sebagai muslim/muslimah kegiatan serupa ini perlu dicernai dan diwaspadai. Kenapa? Karena bisa jadi “Bukber” yang tujuan utamanya untuk ajang menjalin silahturahim antar teman, kerabat atau kolega akhirnya menjadi sesuatu yang mudharat bahkan berdosa. Jika dengan terselenggaranya Bukber membuat kita melalaikan kewajiban kita seperti sholat Maghrib, Isya dan kehilangan kesempatan tarawih yang hanya kita dapat setahun sekali. 

Secara pribadi aku memang kurang begitu antusias bila diundang untuk acara buka puasa bersama. Banyak alasan keberatan dalam diriku. Pertama, mau pergi ke lokasi itu sendiri sangat ribet. Harus berkendara menjelang maghrib yang notabene jalanan macet padat, karena begitu banyak manusia yang justru pergi keluar rumah menjelang bedug maghrib itu, entah untuk buka puasa bersama teman/group di hotel, cafe, resto, mall, atau sekedar jalan-jalan sore “ngabuburit”. 

Aku pernah mengalami hal ini ketika diundang buka bersama teman alumni SMP beberapa tahun yang lalu. Niatnya buka bersama eh ujung-ujungnya malah telat sampe ke lokasi karena saat adzan maghrib aku masih dijalan. Buka puasa terlambat dan sholat Maghribpun telat. 

Kedua, saat buka bersama seringkali membuat sholat maghrib menjadi sekadarnya. Itupun apabila lokasi buka bersama menyediakan mushollah, bila tidak maka sholat maghrib menjadi wassalam alias lewat. Alangkah sayangnya karena sehabis maghrib banyak amalan yang dapat dilakukan seperti berdoa, berdzikir dan mengejar target bacaan Al-Qur’an agar bisa khatam menjadi hilang. 

Ketiga, jelas sekali apabila sholat maghrib saja sekedarnya atau bahkan terlewat maka sholat Isya’ juga sekedarnya dan tarawih bisa bablas. Memang sholat Isya’ dan taraweh bisa dikerjakan nanti dirumah, tetapi karena sudah terlalu capek pasti akan menjadi sekedarnya saja pula, disamping itu target bacaan Al – Qur’an pun kurang juga. 

Mengapa esensi ibadah puasa yang kita jalani selama Ramadhan dengan penuh tawadhu untuk meraih pahala dan catatan amal yang telah dilipatgandakan oleh Allah harus dinodai dengan kealfaan kita karena terbuai dengan suasana kemeriahan Bukber? Apalah artinya Bukber dengan aneka makanan yang nikmat dan tempat acara BukBer yang mewah bila kita meninggalkan sholat? 

Tapi tidak semua acara Bukber mempunyai tema seperti di atas, ada juga Bukber yang isi acaranya sangat baik dan jelas. Misalnya beberapa jam sebelum adzan Maghrib diawali dengan pembacaan Al-Qur’an, Kultum, buka puasa, sholat Maghrib berjamaah, makan malam, sholat Isya’ dan tarawih berjamaah lalu pulang. Jika acara Bukber dengan schedule seperti ini so pasti aku mau datang. 

Berangkat dari pengalamanku yang pernah menghadiri undangan Bukber ada beberapa saran yang aku berikan untuk penyelenggara Bukber. Bagi para panitia dan peserta acara Bukber, alangkah indahnya jika niat bersilaturahmi ini tidak melupakan hal-hal yang mungkin terdengar sepele namun sangat penting agar kita tak tidak meninggalkan ibadah yang sesungguhnya: 

1. Pilihlah tempat acara Bukber yang menyediakan tempat sholat yang memadai. 
Ada banyak tempat makan atau restoran yang menyediakan musholla atau tempat khusus agar pengunjung bisa mengerjakan sholat. Perhatikan pula kebersihan tempat sholat serta atribut sholatnya seperti sajadah dan mukenah. 

2. Tulis schedule yang jelas dengan mencantumkan sholat Maghrib berjamaah, atau jika acaranya sampai malam schedulekan pula untuk sholat Isya dan taraweh berjamaah. 

3. Saling mengingatkan teman untuk menunaikan sholat. 

Menikmati kebersamaan saat berbuka puasa dengan sahabat atau handai tolan memang tak ada salahnya. Namun alangkah indahnya bila kebersamaan tersebut dihiasi dengan itikad saling mengingatkan satu sama lain untuk menjalankan sholat maghrib agar tidak tertinggal waktu sholat. Selain keakraban terjalin, tentulah pahala yang besar akan kita dapatkan. 

Tulisan ini tidak bermaksud menggurui atau menyinggung siapapun, namun lebih ke arah pengingat untuk diri pribadi untuk lebih waspada terhadap fenomena yang menggugurkan pahala yang bisa diraih sebagai bekal pulang ke kampung akhirat. Manfaatkanlah Ramadhan ini semaksimal mungkin untuk terus melakukan ibadah dan amal kebaikan untuk meraih ridho Allah. . Kita takkan pernah tahu apakah kita akan berjumpa dengan Ramadhan di tahun depan? 

Segala perbuatan baik belum tentu bisa menjadi baik, kadang perbuatan baik yang tadinya harus menjadi pahala malah bisa mengakibatkan dosa dan diharamkan, perkara apakah itu?? yaitu perkara berlebihan dan lalai. Bagi diriku tidak semua undangan/ajakan bukber harus dipenuhi. Terutama bila acara Bukber tersebut tidak memiliki schedule yang jelas bahkan di tempat-tempat yang sangat minim sekali kemungkinan untuk melakukan sholat Maghrib secara baik. Wallahu a’lam bishowaf.




Monday, May 21, 2018

MENJAGA HATI

Beberapa hari lalu aku sempat menyimak ceramah Aa Gym di I News TV. Tak terasa air mataku menetes. Aku sadar, aku takut karena aku belumlah cukup bekal untuk kembali. Hatiku masih belum bersih, belum ikhlas. Aku tak tahu apakah amalanku akan diterima dan dicatat sebagai bekal akhiratku,aku sangat takut dan khawatir jangan-jangan apa yang aku lakukan selama ini masih belum bersih, masih ada pamrih, masih ada niat untuk dianggap baik. Ya Allah.... 

Sebagai salah satu contoh saja, aku masih sering sangat merasa sakit dengan apa yang dilakukan anak-anakku pada aku. Mereka memenjarakan aku, meninggalkan aku, lalu melupakan aku. Betapa aku menangis sesengukan ketika tahu aku di block oleh Ardi dan Nabila dari akun instagramnya. Aku menangis bermalam-malam, berhari-hari membandingkan segala yang telah aku perbuat pada mereka selama hidupku. Aku merasa telah berbuat terlalu banyak sehingga sakit hati diperlakukan begini. Ya Rabb...benar juga aku belum ikhlas...aku masih bersandar pada selain Allah. Aku masih berharap ada ucapan terima kasih, ada balasan seimbang dari amalku terhadap mereka. Ampuni aku ya Allah... 

Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya; mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna, segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai. Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, "Faalhamaha fujuraha wataqwaaha", "Dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan". 

Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk, naudzubillah. 

Padahal, semua yang kita sandari sangat mudah bagi Allah (mengatakan ‘sangat mudah’ juga ini terlalu kurang etis), atau akan ‘sangat mudah sekali’ bagi Allah mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita hanya bersandar kepada Allah yang menguasai setiap kejadian, "laa khaufun alaihim walahum yahjanun’, kita tidak pernah akan panik, Insya Allah. (kutipan ceramah AA Gym).

Adalagi hal-hal penting yang aku catat dari isi ceramah beliau. Bila hidup di dunia ingin tenang dan bahagia kita harus mampu menjaga dan menata hati, karena efek yang akan tampak bila kita sudah mampu menata hati akan sangat jelas terlihat, dalam segi apapun. Dibawah ini akan aku salin dari isi ceramah beliau yang aku dapat dari sebuah blog di google “ceramahcenter”, mirip bahkan sama banget isinya dengan yang aku tonton di I News TV. 

“Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapapun sekiranya memiliki qolbu yang tertata, terpelihara, dan terawat dengan sebaik-baiknya. Karena selain senantiasa merasakan kelapangan, ketenangan, ketenteraman, kesejukan, dan indahnya hidup di dunia ini, pancaran kebeningan hati pun akan tersemburat pula dari indahnya setiap aktivitas yang dilakukan.

Betapa tidak, orang yang hatinya tertata dengan baik, wajahnya akan jauh lebih jernih. Bagai embun menggelayut di ujung dedaunan di pagi hari yang cerah lalu terpancari sejuknya sinar mentari pagi; jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Tidak berlebihan jika setiap orang akan merasa nikmat menatap pemilik wajah yang cerah, ceria, penuh sungging senyuman tulus seperti ini.

Begitu pula ketika berkata, kata-katanya akan bersih dari melukai, jauh dari kata-kata yang menyombongkan diri, terlebih lagi ia terpelihara dari kata-kata riya, subhanallah. Setiap butir kata yang keluar dari lisannya yang telah tertata dengan baik ini, akan terasa sarat dengan hikmah, sarat dengan makna, dan sarat akan mamfaat. Tutur katanya bernas dan berharga. Inilah buah dari gelegak keinginan di lubuk hatinya yang paling dalam untuk senantiasa membahagiakan orang lain.

Kesehatan tubuh pun terpancari pula oleh kebeningan hati, buah dari kemampuannya menata qolbu. Detak jantung menjadi terpelihara, tekanan darah terjaga, ketegangan berkurang,dan kondisi diri yang senantiasa diliputi kedamaian. Tak berlebihan jika tubuh pun menjadi lebih sehat, lebih segar, dan lebih fit. Tentu saja tubuh yang sehat dan segar seperti ini akan jauh lebih memungkinkan untuk berbuat banyak kepada umat.

Orang yang bening hati, akal pikirannya pun akan jauh lebih jernih. Baginya tidak ada waktu untuk berpikir jelek sedetik pun jua. Apalagi berpikir untuk menzhalimi orang lain, sama sekali tidak terlintas dibenaknya. Waktu baginya sangat berharga.

Mana mungkin sesuatu yang berharga digunakan untuk hal-hal yang tidak berharga? Sungguh suatu kebodohan yang tidak terkira. Karenanya dalam menjalani setiap detik yang dilaluinya ia pusatkan segala kemampuannya untuk menyelesaikan setiap tugas hidupnya.

Tak berlebihan jika orang yang berbening hati seperti ini akan lebih mudah memahami setiap permasalahan, lebih mudah menyerap aneka ilmu pengetahuan, dan lebih cerdas dalam melakukan beragam kreativitas pemikiran. Subhanallah, bening hati ternyata telah membuahkan aneka solusi optimal dari kemampuan akal pikirannya.

Walhasil, orang yang telah tertata hatinya adalah orang yang telah berhasil merintis tapak demi tapak jalan ke arah kebaikan tidak mengherankan ketika ia menjalin hubungan dengan sesama manusia pun menjadi sesuatu yang teramat mengesankan. Hatinya yang bersih membuat terpancar darinya akhlak yang indah mempesona, rendah hati, dan penuh dengan kesantunan.

Siapapun yang berjumpa akan merasa kesan yang mendalam, siapapun yang bertemu akan memperoleh aneka mamfaat kebaikan, bahkan ketika berpisah sekalipun, orang seperti ini menjadi buah kenangan yang tak mudah dilupakan.

Dan, Subhanallah, lebih dari semua itu, kebeningan hatipun ternyata dapat membuat hubungan dengan Allah menjadi luar biasa mamfaatnya. Dengan berbekal keyakinan yang mendalam, mengingat dan menyebut-Nya setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat-Nya, membuat hatinya menjadi tenang dan tenteram.

Konsekuensinya, dia pun menjadi lebih akrab dengan Allah, ibadahnya lebih terasa nikmat dan lezat. Begitu pula do’a-do’anya menjadi luar biasa mustajabnya. Mustajabnya do’a tentu akan menjadi solusi bagi persoalan-persoalan hidup yang dihadapinya. Dan yang paling luar biasa adalah karunia perjumpaan dengan Allah Azza wa Jalla di akhirat kelak, Allahu Akbar.

Pendek kata orang yang bersih hati itu, luar biasa nikmatnya, luar biasa bahagianya, dan luar biasa mulianya. Tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Tidak rindukah kita memiliki hati yang bersih?

Silahkan bandingkan dengan orang yang berperilaku sebaliknya; berhati busuk, semrawut, dan kusut masai. Wajahnya bermuram durja, kusam, dan senantiasa tampak resah dan gelisah. Kata-katanya bengis, kasar, dan ketus. Hatinya pun senantiasa dikotori buruk sangka, dendam kesumat, licik, tak mau kompromi, mudah tersinggung, tidak senang melihat orang lain bahagia, kikir, dan lain-lain penyakit hati yang terus menerus menumpuk, hingga sulit untuk dihilangkan. Tak berlebihan bila perilakunya pun menjadi hina dan nista, jauh dari perilaku terhormat, lebih dari itu, badannya pun menjadi mudah terserang penyakit. 

Penyakit buah dari kebusukan hati, buah dari ketegangan jiwa, dan buah dari letihnya pikiran diterpa aneka rona masalah kehidupan. Selain itu, akal pikirannya pun menjadi sempit dan bahkan lebih banyak berpikir tentang kezhaliman.

Oleh karenanya, bagi orang yang busuk hati sama sekali tidak ada waktu untuk bertambah ilmu. Segenap waktunya habis hanya digunakan untuk memuntahkan ketidaksukaannya kepada orang lain. Tidak mengherankan bila hubungan dengan Allah SWT pun menjadi hancur berantakan, ibadah tidak lagi menjadi nikmat dan bahkan menjadi rusak dan kering. Lebih rugi lagi, ia menjadi jauh dari rahmat Allah. Akibatnya pun jelas, do’a menjadi tidak ijabah (terkabul), dan aneka masalah pun segera datang menghampiri, naudzubillaah (kita berlindung kepada Allah).

Ternyata hanya kerugian dan kerugian saja yang didapati orang berhati busuk. Betapa malangnya. Pantaslah Allah SWT dalam hal ini telah mengingatkan kita dalam sebuah Firman-Nya : "Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Q.S. Asy-Syam [91] : 9 – 10).

Ingatlah saudaraku, hidup hanya satu kali dan siapa tahu tidak lama lagi kita akan mati. Marilah kita bersama-sama bergabung dalam barisan orang-orang yang terus memperbaiki diri, dan mudah-mudahan kita menjadi contoh awal bagaimana menjadikan hidup indah dan prestatif dengan bening hati, Insya Allah” 

Ya Rabb...aku ingin dan berharap terus bisa menata hati sebaik-baiknya. Tolong aku ya Allah...!

Hati yang tertata bersih dan bersinar


Tuesday, May 15, 2018

MARAHABAN YA RAMADHAN

Marhaban Ya Ramadhan

Saudaraku.
Kalau Maghrib nanti hilal terlihat, maka dalam hitungan beberapa saat ke depan kita akan memasuki bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Fokuskanlah untuk ibadah! 
Sambutlah bulan suci ini dengan penuh bahagia. 
Karena ini merupakan karunia dari Allah Ta'ala.
Jangan lagi disibukkan dengan media-media sosialmu

Mushaf Al-Quran sudah menantimu, jangan kau acuhkan lagi seperti di bulan-bulan lainnya. 
Berusahalah untuk membacanya dengan mentadaburi maknanya. Dan berusahalah untuk bisa mengkhatamkannya. 
Saudaraku, kalau bukan di bulan Ramadhan ini kita tidak bisa mengkhatamkannya? Maka pada bulan apa lagi kita bisa mengkhatamkannya?? Padahal bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran.

Nabi ﷺ saja dimuroja'ah oleh Malaikat Jibril 'alaihissalam setiap malamnya.

Saudaraku, mari kita manfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baik ibadah kepada Allah Ta'ala semata. .
Persiapkan tenaga kita, persiapkan mental kita, persiapkan harta kita, dan persiapkan seluruh kemampuan kita untuk menggapai ampunan dari Allah yang Mahapengampun.
Mudah-mudahan Allah Ta'ala memberikan ampunan-Nya kepada kita semua.

Syaikh 'Ali Hasan Al-Halaby hafizhahullah, mengatakan sebagian 'Ulama lainnya membolehkan ucapan:

بارك الله لكم في هذا الشهر

Semoga Allah memberkahi kalian semua di bulan ini. . Maka dari itu, Untukmu saudaraku, aku mengucapkan ,

بارك الله لكم في هذا الشهر
.
Semoga Allah memberkahi kalian semua di bulan ini. .
.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua dalam menjalankan ibadah di bulan yang mulia ini. Menjadikan siangnya untuk puasa, shadaqoh, malamnya untuk Qiyamul lail, membaca Al-Qur'an dan juga yang lainnya..
Allahumma Aamiin. .
Ustadz Fuad Baraba Lc

Marhaban ya Ramadhan

Sunday, April 29, 2018

WANITA BERCADAR

Alhamdulillah...ini starting point yang cukup nekad bagiku, Sabtu tanggal 28 April 2018 aku resmi menyatakan diriku wanita bercadar. Entah mengapa momentnya selalu April ya? Dulu pertama kali aku berjilbab juga bulan April, tepatnya 5 April 2005. Ada perasaan yang luar biasa yang tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Campur aduk..... Sebuah pengalaman yang sangat mengena di jiwaku. Karena apa ini pertama kali aku ber”cadar” di Indonesia.  

Sebenarnya kemaren selama umroh aku sudah mulai belajar mengenakan cadar. Tantangannya tidak besar. Selama 15 hari umroh aku kontinu bercadar. Semua biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa, karena seluruh jamaah yang sedang berumroh sebagian besar bercadar. Jadi wajar... 

Namun kemaren rasanya sangat penuh tantangan. Mulai saat aku keluar komplek perumahanku, pak Satpam menatap kaget. Lantas tiba di parkiran masjid Taqwa tempat aku mengikuti taklim, juru parkir yang sudah langgananpun menatap aneh ke arahku. Masuk ke dalam masjidpun mengambil saf jamaah lain menatap dengan pandangan aneh yang tidak bisa aku lukiskan. Namun ada yang menenangkan ketika sang ustadz yang sepertinya hafal jika aku adalah makhluk yang selalu setia duduk pada posisi yang sama saf ke-4 tengah depan telah berhijrah. Aku tahu kalimat-kalimat yang menegarkan, menenangkan itu ditujukan buat aku. Beliau menasehati jamaah dan juga kita sebagian besar sesama muslim untuk tidak mencibir/mengolok-olok seseorang yang berhijrah ke tingkat yang lebih berani sebagai contoh mulai ber”cadar”. Kita mestinya bangga dan bersyukur pada seseorang itu. Kalimat itu berkali-kali diucapkannya dengan berbagai perumpamaan. Jakallahu khairan ustadz, kalimat itu menenangkanku, karena membuat ibu-ibu agak sedikit berkurang menatapku aneh. 

Lanjut lagi pengalaman hari pertama itu. Pulang pengajian aku harus ke PTC untuk belanja bulanan. Luar biasa perasaan yang harus aku tata pada hatiku. Begitu banyak mata memandang aneh, ada yang terang-terangan, ada yang melirik dengan sudut matanya saja. Berbagai macam expressi, bahkan ada yang lucu ketika aku melihat seorang anak bayi yang sudah mulai bisa berjalan, ketika aku memilih belanjaan di area sabun. Anak itu sampai muterrr dan berusaha menatap aku lekat-lekat. Oleh Abinya anak tersebut diambil dan digendong, tapi dia balik menoleh lagi mencari aku dan menatap wajahku. Aku berpikir papanya juga punya landasan agama yang baik karena ketika dia membahasakan diri buat anaknya itu “Abi”. Karena aku terpana dengan sikap si bayi aku menyeletuk pada abinya “Kenapa nak? Takut atau aneh ya dengan cadar???”. Abinya mengatakan “tidak umm” sambil menggendong anaknya pergi. 

Itulah pengalaman yang sangat berkesan di hari pertamaku ber”cadar”. Sebenarnya sudah cukup lama hasrat dan keinginan aku untuk bercadar, sekitar tahun 2013. Kala itu niat bercadarku hanyalah untuk melindungi diri. Aku menjadi takut karena terlalu banyak laki-laki yang terkagum-kagum padaku, mengejar, naksir dan sebagainya. Aku bertanya pendapat orang lain, mereka bilang aku cantik. Padahal aku sudah melindungi diri dengan berjilbab syar’i, no make up dan pakaian longgar. Dengan statusku yang “Janda” aku menjadi sangat takut dengan situasi ini. Aku tak ingin menjadi incaran para lelaki jalang Saat itu aku inginnnn sekali bercadar biar laki-laki tidak dapat melihat parasku, tidak mengenalku, bahkan mungkin aku berharap mereka takut dengan penampilanku. Namun saat itu banyak sekali sumbang saran yang melarang dengan berbagai macam alasan. Akhirnya untuk menghindari kejaran laki-laki saat itu aku memakai masker. 

Disamping itu niatku untuk bercadar pada awalnya juga adalah untuk menghindari mulut nyinyir. Apa maksud kalimatku ini? Ini dimulai oleh masa laluku yang sangat menyakitkan. Perceraian, perebutan anak, fitnah kalimat anak-anakku, mantan suami, istri baru sang mantan adalah hal terburuk yang ingin aku kubur dalam-dalam dan buang jauh-jauh. Sejauh ini aku bisa! Tapi kadangkala borok bernanah itu kembali menganga, di saat aku bertemu dengan orang-orang nyinyir yang ada di sisi dia. Yang seakan-seakan simpati terhadapku namun sebenarnya membunuh dengan kalimat-kalimatnya. Ketika aku bertemu orang-orang ini, orang-orang masa lalu yang usil ini, mengungkit lagi cerita lalu. Memberikan info macam-macam yang pada akhirnya membuat aku menangis lagi. Sudahlah....aku tak mau mengungkit itu lagi. Semua sudah “END”. Nah aku berpikir dengan menutup seluruh diriku sampai ke muka jelas sekali orang tak dapat mengenali aku lagi. Jadi tak perlu lagi banyak bicara. Ini aku buktikan kemaren tak ada orang yang mengenali aku saat di PTC. Muslim seorang karyawan yang cukup dekat saat rekruting dulu berdiri bersisian saat beli pewangi mobil tak sedikitpun mengenali aku. Alhamdulillah misiku berhasil. 

Dan waktuku bergulir.... aku makin banyak belajar tentang ilmu yang berkaitan dengan fiqih, sunnah dan sebagainya. Sedikit demi sedikit aku makin mengerti tentang hukum cadar. Aku juga berharap dengan bercadar hanya laki-laki yang iman dan akhlaknya yang sudah baik saja yang berani mendekat. Sejak makin paham hatiku semakin bergetar jika melihat perempuan bercadar yang belakangan ini sudah semakin banyak. Bahkan jika aku belanja ke PTC aku berdetak melihat wanita bercadar. Aku mau seperti dia. 

Pulang umroh keinginanku bercadar makin kuat, aku sudah berencana untuk mengenakan cadar saat ke pengajian rutin hari Sabtu di masjid Taqwa, namun semua masih tertunda-tunda. Yang memberatkan adalah aku tak mau membuka cadar ketika sholat, entah itu sholat tahiyatul masjid atau Dhuha. Karena saat aku membuka niqobku saat sholat justru aku tak mau ada bisik-bisik, ada tatapan aneh. Untuk hal ini aku sampe konsul kesana-sini tentang hukumnya bercadar saat sholat. “Makruh!” Itu saja yang menjadi keberatan aku. 

Tapi entahlah kekuatan dari mana, Sabtu kemarin aku memantapkan hati bercadar apapun rintangannya. Sholat tahiyatul masjid dan dhuha aku menyingkapkan cadarku ke kepala. Aku menutup mata dan hati tentang apa tanggapan orang lain. Agak kaku bahkan mungkin jadi agak kurang khusuk karena aku pengen buru-buru menyelesaikan sholatku. Dan semua itu terlewati. Terlebih lagi kata-kata supporting sang ustadz. Semua sudah ku “proklamirkan” bahwa aku wanita bercadar. Jadi tak mungkin lagi untuk surut ke belakang. Ustadz sudah tahu aku berhijrah, jika aku tak istiqomah aku akan menanggung malu. Lagipula selama bercadar seharian kemaren aku merasa damai dan tenang.  

TENTANG MEMAKAI CADAR 
Cadar atau penutup wajah telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlepas apakah menutup wajah merupakan suatu yang wajib ataukah sunnah. Bukti adanya ajaran Cadar dalam Islam, kita dapat melihat dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam tentang wanita yang akan berihrom. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda pada para wanita, 

لاَ تَنْتَقِبُ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقَفَّازَيْنِ 
“Wanita yang berihrom itu tidak boleh mengenakan niqob maupun kaos tangan.” 

Niqob adalah kain penutup wajah mulai dari hidung atau dari bawah lekuk mata ke bawah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ketika menafsirkan surat An Nur berkata, “Ini menunjukan bahwa cadar dan kaos tangan biasa dipakai oleh wanita-wanita yang tidak sedang berihrom. Hal itu menunjukan bahwa mereka itu menutup wajah dan kedua tangan mereka.”

Wajibkah Mengenakan Cadar? 
Muncul beberapa pertanyaan dalam masyarakat, khususnya yang beragama islam. Apakah memakai cadar hukumnya wajib? Dalam kita suci Al-quran, hukum wanita becadar dan hukum memakai jilbab ada beberapaa ayat mengenai aturan menutup aurat bagi wanita dan mengenai perintah berjilbab. Allah memerintahkan untuk menutup auratnya bagi wanita. 

Banyak terjadi pro dan kontra mengenai hal bercadar ini. Sebenarnya bercadar sudah ada sejak zaman Nabi, wanita-wanita sholeha pada zaman Nabi menggunakan cadar. Ada beberapa surat dalam Al-quran yang membahas tentang menutup aurat dan memakai kerudung atau jilbab bagi wanita 

Allah Ta’ala berfirman, 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا 
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang-orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilababnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak digangggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab 33: 59). 

Ayat ini dalam pendapat beberapa ulama di terjemahkan dalam pemahaman yang berbeda. Ada yang berpendapat menutupi wajah (cadar) itu wajib, dan sebagaian lagi berpendapat tidak karena ada ayat yang menyatakan bahwa aurat wanita seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.  Allah Ta’ala juga berfirman, 

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا 
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) Nampak dari padanya.” (QS. An Nuur 24: 31). 

Berdasarkan tafsiran Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Makhul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.  

Dari tafsiran yang shohih di atas dapat disimpulkan bahwa wajah bukanlah aurat. Jadi, hukum menutup wajah adalah sunnah (dianjurkan). Dari sumber dan beberapa pendapat akupun menyimpulkan bahwa ber"cadar" adalah sunnah. Namun aku selalu ingat nasihat ustadz jika kelak di hari akhirat kita menginginkan bersama dengan Rasulullah , maka akan sangat baik kita menghidupkan sunnah. (Diantaranya laki-laki memelihara jenggot, dan wanita bercadar dsb). 

Saat ini proses hijrahku mungkin belum sempurna, aku baru mengenakan cadar saat pergi ke pengajian atau di tempat-tempat umum dulu. Sedangkan ke kantor atau ke pertemuan komunitas RT aku masih belum siap. Kalau di kantor memang dilarang, sedangkan di komunitas aku tak ingin menjadi pergunjingan, namun insyaa Allah aku berniat memakai cadar dalam seluruh aktifitas hidupku. Untuk kebiasaanku yang seperti ini aku berusaha mencari dalil tentang buka tutup cadar. Aku takut berdosa sebagaimana hukum muslimah yang buka tutup jilbab dianggap menghina agama. Kudapatkan artikel di bawah ini yang menyemangati dan menguatkan aku.

Terkadang memakai cadar dan terkadang tidak memakai cadar 
Jika meyakini hukumnya sunnahnya. Jika tidak bisa memakai cadar seterusnya maka tidak ada salahnya jika selang-seling memakainya. Memakainya di tempat dan suasana yang mendukung dan melepasnya di tempat dan suasana tidak mendukung. Sebagai contoh , 

-Jika di lingkungan keluarga dan kerabat dilarang oleh orang tua, maka silahkan dilepas. Tetapi ketika keluar rumah silahkan memakainya. 
-Jika di kampus atau di kantor dilarang memakainya, maka silahkan dilepas. Tetapi ketika ke pasar dan ke tempat kajian silahkan memakainya. 

Karena Islam mengajarkan tidak perlu menunda sesuatu karena ingin sempuna sekali. Jika hanya bisa meraih setengahnya maka jangan ditinggalkan semuanya. Sesuai dengan kaidah fiqhiyah, 

ما لا يدرك كله لايترك كله 
“sesuatu yang tidak bisa dicapai seluruhnya jangan ditinggal seluruhnya” 

Begitu juga perintah Allah agar kita bersegera dalam kebaikan, Allah Ta’alaberfirman, 

فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ  
“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan” 

وكان ابن عمر رضي الله تعالى عنهما يقول: إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك. رواه البخاري 
Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” 

Banyak jalan menuju surga Jika ingin memakai cadar tidak mesti memakai cadar lengkap dengan purdahnya, kemudian memakai pakaian serba besar berwarna hitam. Karena tujuan cadar adalah menutup wajah yang merupakan salah satu bagian yang paling dinikmati oleh laki-laki, maka apapun yang digunakan untuk menutup muka maka boleh-boleh saja. Misalnya slayer dan masker penutup muka. Para wanita bisa menggunakan slayer untuk menutup wajah mereka. Sehingga hampir mirip fungsinya dengan cadar. Dan kesan orang memakai slayer tentu berbeda kesan orang memakai cadar. Karena slayer sudah dianggap biasa di masyarakat kita. Akan tetapi fungsinya hampir sama dan bisa diniatkan untuk melaksanakan sunnah, yaitu menutup wajah. Karena memakai slayer atau masker adalah wasilah/sarana dan hukum wasilah sesuai dengan hukum tujuannya yaitu menutup wajah, selaras dengan kaidah fiqhiyah. 

الوسائل لها أحكام المقاصد 
“wasilah/sarana sesuai dengan hukum tujuannya” 

Bertahap dalam menuju kebaikan 
Terkadang dalam melaksanakan sesuatu butuh proses, begitu juga dalam amal dan dakwah. Bagi yang belum mantap memakai cadar lengkap dengan purdahnya, maka bisa memakai slayer atau masker dulu, begitu juga jika belum siap memakai seterusnya. Bisa jadi dengan perlahan-lahan hanya memakai slayer maka perlahan juga keimanan bertambah di hatinya dan ketentraman hati serta manisnya ketaatan mendorongnya untuk tegar dibalutan cadar dan purdahnya untuk seterusnya. 

Begitu juga dengan lingkungan dan masyarakat sekitar yang memang belum siap sekali dengan cadar, diharapkan mereka perlahan bisa menerima cadar, setelah melihat bahwa orang yang bercadar ternyata tidak tertutup, seram, kaku serta menutup diri total dari masyarakat. Cara bertahap bisa kita lihat dalam bertahap pengharaman khamer dan penetapan wajibnya puasa. 

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata, 

هذا التدرج باق عند الحاجة إليه ، ولا شك أن الشارع تدرج في تشريع الأحكام رحمة بالناس ، وترغيبا لهم في القبول ، ومن ذلك تدرجه في شريعة الصيام ، وتدرجه في تحريم الخمر ، وذلك من أجل الرحمة بالناس وعدم المشقة عليهم ، وهذا التدرج مطلوب عند الحاجة إليه في كل زمان 
“Metode bertahap tetap berlaku ketika dibutuhkan, tidak diragukan bahwa syari’at bertahap dalam menetetapkan hukum sebagai rahmat bagi manusia dan motivasi agar bisa menerima. Contohnya seperti pensyari’atan puasa, pengharaman khamer. Hal ini karena sebagai rahmat bagi manusia dan menghilangkan kesusahan bagi mereka. metode bertahap ini dituntut ketika ada kebutuhan di setiap zaman.” 

Semoga sunnah ini tidak punah dan terasing. Kita tentu ingin melihat umat Islam kembali ke ajaran Islam yang benar, kembali ke masa kejayaan Islam. Kita tentu ingin melihat pemandangan sekumpulan gagak-gagak hitam sebagaimana yang diceritakan oleh Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, beliau berkata, 

لما نزلت: يدنين عليهن من جلابيبهن خرج نساء الأنصار كأن علي رؤوسهن الغربان من الأكسية 
Ketika turun firman Allah (yang artinya), “Hendaknya mereka (wanita-wanita beriman) mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” [Al-Ahzab :59] wanita-wanita Anshar keluar seolah-olah pada kepala mereka terdapat burung-burung gagak karena warna (warna hitam-red) kain-kain (mereka). 

Apapun niat awal aku ingin bercadar bukanlah hal yang penting, namun kini aku merasa nyaman dengan cadarku. Aku membutuhkannya. Aku berharap akan segera bisa sempurna berhijrahku, dengan mengenakan cadar dalam keadaan apapun tanpa takut dan khawatir akan cibiran dan penilaian manusia. Ya Allah semoga aku istiqomah. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. 

Catatan :
Dalil penguatku dan pendukung di dapat dari berbagai sumber. Wallahu a;lam bishowab.


Wednesday, April 25, 2018

HARTA DUNIA AKAN HABIS

Hari ini ada banyak hikmah yang aku ambil sebagai pelajaran dan muhasabah diri. Sungguh aku sangat terkesan sekali. Ceritanya aku melayat seorang paman sepupu (apa sih namanya...nenek pamanku yang meninggal ini dua beradek dengan nenek ibuku), jadi paman sepupukan? Karena papa dan mama sudah almarhum maka jadilah kami dua beradek yang mewakili papa dan mama dalam rangka menyambung tali silahturahim. Beliau meninggal karena sudah hampir setahun mengidap kanker usus. 

Hubungan kekeluargaan dengan om X ini duluuuuuuu.... sangat baik dengan keluarga kami. Bahkan dulu saat aku masih berusia sekitar 3 – 4 tahun mama sering nitipin aku buat dijagain oleh Om X dan adeknya om Y. Aku masih ingat dulu aku digendong-gendong oleh mereka. 

Yang lebih kuingat lagi keluarga pamanku ini adalah keluarga yang sangat kaya. Bapaknya adalah pejabat besar dan ternama di suatu daerah kabupaten (kepala pajak kalau tak salah). Jadi memang keluarga mereka hidup dengan bergelimang harta. Apapun mereka punya. Di jaman tahun 70-an, rumah mereka megah, bertingkat, luas dan mewah banget. Mobil yang saat itu masih langka dimiliki orang, mereka bahkan punya lebih dari satu (setiap anak punya satu mobil). Dulu sejak masih anak-anak bahkan sampai tamat SMA dan saat awal sudah bekerjapun masih lumayan dekat dengan mereka. Bahkan malah sempat mau dijodohkan dengan salah satu anak nenek alias pamanku itu. 

Saat itu meski usiaku masih belia aku sudah punya prinsip hidup yang baik, sesuai ajaran mama dan papaku, aku menolak perjodohan itu (yang menjodohkan itu keluarga mereka bukan mama dan papa) karena aku tidak merasa klop tentang “agama” keluarga mereka. Itu saja. Meskipun paman yang mau dijodohkan dengan aku punya pekerjaan dan jabatan yang lumayan, bahkan paman itu yang paling baik diantara anak nenek yang lainnya. 

Meski masih belia, namun karena sejak kecil sudah dekat dengan mereka jadi paham apa yang terjadi di dalam kehidupan mereka. Kakek sepupu itu sibuk dengan pekerjaan, sedangkan nenek sibuk dengan pergaulan ibu-ibu jetset dan anak-anaknya hidup dalam limpahan harta dan kekayaan. Sudah tak terhitung lagi anak kakek/nenek alias paman maupun bibik itu kecelakaan mobil masuk rumah sakit, patah kaki, patah tangan. Bergantian yang perempuan dan laki-laki (kakek/nenek punya 9 anak). Seperti tak ada jeranya. Mereka beli mobil baru...tabrakan lagi, masuk rumah sakit tak ada ujungnya. 

Aku masih ingat setiap malam minggu di rumah kakek itu selalu ada semacam pesta (kalau dulu istilahnya disco) dengan musik hingar bingar, lampu kelap kelip, bau alkohol, asap rokok mengepul, muda mudi berpelukan berciuman bebas. Aku dulu suka melihat karena rumah kakek tak jauh dari rumahku dan aku sering main kesana cuma buat numpang nonton televisi (zaman itu televisi masih langka, bahkan sekampungku saja hanya kakek yang punya. Televisipun hanya siaran seminggu sekali yaitu tiap akhir pekan). 

Begitulah kehidupan mereka. Bergelimang harta namun anak-anaknya jadi berantakan. Dari 9 orang anaknya hanya satu yang lumayan baik dalam pendidikannya yaitu om Y yang mau dijodohin ke aku itu. Sampai dewasa anak-anaknya sangat konsumtif dan tidak mandiri, karena memang tidak kerja. Bagaimana mau bekerja wong SMA saja ada yang tak lulus atau jika luluspun karena “nyogok”. 

Sangat kontras dengan keluarga kami yang biasa-biasa saja, tidak kekurangan dan tidak juga terlalu berada, namun karena mama dan papa orang yang sangat “keras dan disiplin” dalam mendidik anak , 8 orang anak mama dan papa “jadi orang” semua. Mendapat pendidikan yang lumayan tinggi (kalau istilah orang dulu “sarjana”) dan memiliki pekerjaan yang mapan. Melihat kondisi keluargaku ini kakek/nenek, bahkan salah satu anak kakek yang perempuan yaitu bik M kagum dan selalu berusaha buat menjodohkan anak/adiknya dengan anggota keluarga kami. Mulai dari aku, lantas adekku yang cowok, sayangnya kami kok tidak mau. Kalau aku alasannya yang tadi sudah kusebutkan. 

Entah tahun berapa aku sudah lupa, bahkan akupun sedang tidak tinggal di Palembang (dulu aku seolah di Bogor), Kakek itu meninggal (kalau nenek alias istrinya sudah lama meninggal karena kanker rahim, aku masih SD kalau tak salah). Saat kakek meninggal meninggalkan banyak harta, rumah besar dan megah, uang, mobil dan juga anak-anak yang belum mandiri meski sudah sangat dewasa dan bahkan sudah berkeluarga yang punya pola hidup sangat konsumtif. Itu saja yang aku ingat saat itu. 

Akhirnya karena kami sudah makin dewasa, sibuk dengan urusan masing-masing bahkan anggota keluargaku banyak yang tinggal diluar kota. Kami sudah tidak begitu dekat lagi. Terlebih karena ada sedikit rasa kekecewaan di hati bik M masalah perjodohan anaknya dengan adek ku yang tak direspon oleh adek, membuat dia agak marah bahkan seperti menjauhi keluarga kami. 

Hingga ... sekitar 4 tahun lalu tetanggaku Ely yang bercerita dan berkeinginan menjodohkan aku dengan seorang duda, atasannya di kantor. Cerita punya cerita rupanya laki-laki yang mau dijodohkan dengan aku itu adalah paman ku sendiri. Yaitu om X (hmmm....kalau dulu om Y adeknya sekarang kakaknya...sempitnya dunia ini yah?). Banyak cerita dari Ely tentang om aku itu, tentang tobatnya dia, tentang asal muasal perceraiannya yang disebabkan istrinya tertangkap tangan selingkuh di depan matanya. Panjang.... Akupun paham masa lalu nya dengan pergaulan bebas, kisah pernikahannya dengan sang istri karena sudah hamil duluan 6 bulan. Entahlah aku masih belum welcome meski kata Ely dia sudah sangattt bertobat dan agamais. 

Berita tentang om X itu cuma sampai di situ karena aku “no respon” dengan rencana perjodohan Ely. Dan sampai pagi subuh tadi tiba-tiba Ely nge WA aku, menyampaikan berita duka cita yang mengabarkan bahwa “Om X meninggal dunia”. Aku menanggapi berita itu datar saja, menyampaikan ucapan belasungkawa dan terima kasih atas info Ely. Dan aku menyampaikan berita duka cita itu di group WA Family. Beberapa komentar masuk dari ibu Ade kakak nomer 2 yang bertanya meyakinkan bahwa benarkan yang meninggal itu Om X teman SD dan SMPnya, yang dulu selalu jadi bodyguard dia jika digangguin orang lain. Aku bilang iya. Lalu tiba-tiba Atik adek bungsu komen juga ngajak melayat. Aku pikir bener juga...bukankah kami mewakili papa dan mama almarhum? 

Maka akhirnya kami melayat, ke rumah duka. Rumah duka yang merupakan warisan kakek yang ditinggali oleh sebagian besar anak-anaknya meski sudah berkeluargapun. Rumah itu masih di tempat yang dulu. Tapi aku kaget ketika memasuki rumah itu, rumah yang megah dan berisi barang-barang lux itu sekarang terlihat kumuh, kotor dan isinya seadanya, bahkan catnya sudah sangat pudar. Terakhir aku ke rumah itu sekitar tahun 87 an (saat itu ada kesibukan menjelang pernikahan anak tertua kakek), rumah itu masih mewah dan megah. ... sekarang??? Aku sangat tersentuh dan mataku basah. Terlebih melihat anak-anak om X yang masih sangat belia. Yang bungsu mungkin SMA atau paling tidak masih kuliah, mereka menangis menciumi jenazah papanya, sedangkan mama mereka entah dimana karena sudah lari dengan selingkuhannya. Miris sekali! 

Aku tak bermaksud menceritakan aib orang lain terlebih keluarga dekat sendiri, namun dari rangkaian cerita yang panjang lebar ini aku ingin bermuhasabah atau mungkin berbagi pengalaman atau katakanlah sebagai ilustrasi bahwa harta dunia tidak menjamin hidup kita terhormat. Harta yang berlimpah yang dimanfaatkan di jalan yang keliru menjadi bumerang. Satu lagi pelajaran yang berharga yang aku tarik adalah jangan kau bekali anak-anakmu dengan harta dan kesenangan duniawi tapi bekali dengan iman dan taqwa, dengan ilmu. 

Harta yang berlimpah akan habis juga dimakan masa, dimakan waktu, dan perlu kita ingat bahwa kebahagiaan dunia yang semu itu menipu dan sering kali melalaikan dari akhirat. Allah Ta’ala berfirman, 

إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ 

“Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” [Luqmaan: 33] 

Allah Ta’ala juga berfirman, 

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ 

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Al Hadid: 20] 

Kehidupan ini adalah ujian bagi manusia. setiap umat diuji dengan cobaan yang sesuai dengan keadaan mereka. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِى الْمَالُ 

Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta

Ketika menjelaskan makna hadits ini, Imam al-Mubârakfûri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, maksudnya kesesatan dan kemaksiatan. Dan ujian umat ini adalah harta, maksudnya harta menyebabkan kelalaian. Karena harta bisa melalaikan fikiran dari ketaatan dan bisa menyebabkan lupa akhirat. 

Banyak sekali kerusakan yang ditimbulkan oleh harta yaitu ia semacam kekuatan yang mampu menggerakkan syahwat dan menyeretnya untuk bersenang-senang dengan hal-hal mubah, sehingga bersenang-senang itu menjadi kebiasaannya. Bisa jadi, kesenangannya terhadap harta semakin bertambah besar sementara terkadang dia tidak mampu mencari yang halal, akhirnya terjerumus dalam perkara syubahat ditambah lagi itu melalaikan dari dzikrullâh. Dan tidak ada seorangpun yang lepas dari hal ini. 

Sedangkan kemuliaan (seperti kedudukan dan semacamnya), maka cukuplah sebagai kerusakannya yaitu harta dikorbankan untuk meraihnya, sementara kemuliaan tidak dikorbankan untuk meraih harta. Dan itu merupakan syirik khafi (yang samar). Sehingga dia tenggelam dalam perbuatan riya’, mudâhanah (toleransi dengan mengorbankan agama), kemunafikan dan semua akhlaq yang hina. Maka ini jelas sangat merusak”.

Maka tidak selayaknya bagi seorang muslim, memburu dunia ini dengan segala cara, memperbanyaknya, menyimpan dan menumpuknya tanpa menginfakkannya di jalan Allâh. Karena itu hanya akan menyeret hatinya menuju dunia dan perhiasannya serta memenjaranya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِنَّ الْمُكْثِرِينَ هُمُ الْمُقِلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، إِلاَّ مَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ خَيْرًا ، فَنَفَحَ فِيهِ يَمِينَهُ وَشِمَالَهُ وَبَيْنَ يَدَيْهِ وَوَرَاءَهُ ، وَعَمِلَ فِيهِ خَيْرًا 

"Sesungguhnya orang-orang yang banyak harta adalah orang-orang yang sedikit (kebaikannya) pada hari kiamat, kecuali orang yang diberi harta oleh Allâh, lalu dia memberi kepada orang yang disebelah kanannya, kirinya, depannya dan belakangnya. Dia melakukan kebaikan pada hartanya. "

Semoga peristiwa hari ini mampu membuat aku memperbaiki diri. Apapun terjadi Innalillahi wa inna ilaihi rojiun Om X. Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik. Insyaa Allah husnul khotimah, karena om sudah bertobat beberapa waktu lalu.

Selagi hidup di dunia selalulah berbuat baik dan terus menerus bertobat sebelum kematian datang menjemput

Harta kita berupa rumah mewah dan megah pada khirnya akan habis bahkan tanah seukuran 2x3 meter inilah rumah tempat tinggal kita

Sunday, April 22, 2018

BAHAYA BERSIKAP SOMBONG.

Sombong adalah keadaan dimana seseorang merasa bangga dengan dirinya sendiri. Memandang dirinya lebih besar/hebat dari pada orang lain, Kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabbnya dengan menolak kebenaran dan angkuh untuk tunduk kepada Allah dalam bentuk ketaatan dan menjalankan perintahNYA. 

Sombong adalah penyakit hati yang dapat menyerang setiap manusia. Sifat ini tidaklah disukai oleh Allah SWT. Sombong adalah watak utama dari Iblis, sebagaimana yang diterangkan dalam banyak ayat di dalam Al Quran. Allah melarang kita memiliki sifat sombong.

”Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai(19)”. (QS. Lukman : 31/18 – 19).

Kadang mudah bagi kita untuk menilai kesombongan orang lain tapi sulit sekali untuk mengakui kesombongan diri sendiri yang justru akan menjadi sifat yang mencelakai kita. Untuk itu teruslah bermuhasabah...agar selalu tunduk dan menjauhi sifat angkuh/sombong. 

Dari penelitian beberapa ciri dari orang yang mempunyai sifat sombong/angkuh :
1. Mempunyai akhlak yang kurang baik. 
2. Tidak memiliki sopan santun berbicara bahkan kepada orang yang lebih tua. 
3. Memandang rendah atau meremehkan orang lain. 
4. Menganggap diri nomer satu dan yang terbaik.
5. Kurang amal ibadah dan suka mengejar keduniawian. Jika beramal biasanya hanya untuk pamer/riya agar dipandang baik dan dipuji.
6. Suka mencari dan mencela kesalahan orang lain .
7. Tidak bisa ditegur, apabila ditegur tidak akan ditanggapi.
8. Memilih – milih teman yang dianggap selevel dengannya dan biasanya memiliki pergaulan dengan orang yang sama– sama sombong
9. Susah menerima nasihat, teguran atau kritikan daripada orang lain terutama orang dibawahnya.
10. Merasa diri paling hebat, sempurna, kuat, cantik, berjabatan tinggi, kaya, bijak, mahsyur, dipuji orang, keturunan baik dan sebagainya. Karena perasaan ini mereka yang sombong sangat suka pujian dan gila hormat.
11. Suka memaksakan kehendak dan egois.
12. Susah minta maaf dan senyum pada orang lain.
13. Selalu menonjolkan diri, gengsinya tinggi.
14. Iri hati dan dengki.
15.Tidak ramah dan suka memalingkan muka. 

Penyebab Sikap Sombong  
Banyak hal dan faktor yang menyebabkan seseorang bersikap sombong, antara lain 

1. Faktor Keturunan Yang dimaksudkan dengan faktor keturunan disini dapat dilihat dari berbagai sisi antara lain :
- Seorang anak bisa menjadi sombong karena meniru perilaku kedua orang tuanya yang bersikap sombong, artinya sikap sombong disini diwariskan.

- Adapula orang jadi sombong karena berasal dari keturunan terpandang di masyarakat, seperti keturunan bangsawan, ulama, pejabat dan lain-lain, lantas merasa diri mulia serta memandang orang lain hina dibandingkan dirinya. Sebagai contoh seorang anak yang memiliki orang tua sebagai tokoh besar masyarakat atau memiliki saudara yang sukses berpendidikan tinggi, menjadi membangga-banggakan diri di depan orang lain.

2. Wajah yang cantik dan rupawan, karena wajahnya cantik / tampan kemudian dengan semena-mena mengejek orang lain. Selain itu, orang lain dianggapnya tidak lebih tampan atau cantik daripada dirinya, kemudian ia merasa gagah dengan penampilannya. 

3. Memiliki kuasa / jabatan. dengan posisi struktural yang tinggi pada suatu instansi / lembaga terkadang menjadikan seseorang merasa bangga atas kelebihan dan kualitas pribadinya. Dengan jabatannya ia merasa menjadi orang yang paling wajib dihormati. 

4. Mempunyai bakat, ilmu pengetahuan atau pandai. Bisa jadi kepandaian menjadi pendorong seseorang itu menjadi sombong kerana dia merasa lebih pandai daripada orang lain. Merasa segala ilmu yang didapat adalah hasil jerih payahnya sendiri, lupa bahwa ilmu adalah Tuhan yang memberi

5. Mempunyai harta kekayaan. Dengan harta dan kekayaan yang berlimpah seseorang merasa segala sesuatunya dapat dibeli dengan uang. Ada perasaan mengabaikan Tuhan dan orang lain terutama yang kurang mampu. 

Saudaraku, sebagai manusia kita adalah makhluk yang lemah. Karena itu tak sepatutnya kita merasa diri paling hebat, menguasai ilmu, paling pintar, kaya, cantik, terhormat dan menyombongkan diri di hadapan Allah yang menguasai bumi dan langit.

Rasulullah SAW telah menjelaskan tentang bahaya sifat sombong dan angkuh, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi, beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya ada sedikit kesombongan (HR. Muslim). 

Akibat angkuh sungguh sangat berbahaya. Lawan dari sifat ini adalah tawadhu. Maka sepantasnya, seorang Muslim menjauhkan diri dari sifat sombong dan menumbuhkan sifat tawadhu. Semoga Allah SWT mengisi dan memenuhi hati kita dengan sifat tawadhu. Mudah menerima kebenaran, dan tidak meremehkan orang lain.

Saudaraku, ingat riwayat masa lalu karena angkuh dan sombong Iblis terusir dari surga dan terlaknat hingga Hari Kiamat, bahkan selamanya. Karena angkuh dan sombong, Firaun ditenggelamkan dalam lautan dan jasadnya dipermalukan sebagai ibrah manusia sejagat. Karena angkuh dan sombong, Qarun dibenamkan ke perut bumi berikut harta dan kekayaannya. Senasib dengan makhluk terkutuk lainnya, kaum ‘Aad, kaum Luth, Tsamud, dan lain sebagainya. Semuanya diazab dengan pedih karena kesombongan dan keangkuhan mereka; memandang rendah para rasul yang diutus kepada mereka. Lebih dari itu, mereka pun menolak kebenaran yang disampaikan para rasul.

Ingatlah janji dan peringatan Allah ini maha benar-Nya. Akibat angkuh dan sombong pasti akan sakit dan menyakitkan, hina dan menghinakan, habis dan menghabiskan. Jadi teruslah bermuhasabah agar tawadhu dan jauh dari sifat sombong/angkuh. Berikut ini beberapa tips untuk menjaga diri dari sikap sombong :

1. Jangan telalu banyak Bicara. 
Bicralah seperlunya saja dan bicarakan hanya hal-hal yang bermanfaat. Dari beberapa penelitian titik awal dari penyakit sombong adalah berawal dari pembicaraan, terlebih lagi saat bicara biasanya seringkali seseorang melebih-lebihkan yang bisa mengarah pada kesombongan. 

2. Bersikaplah rendah hati.
Selalu rendah hati adalah kunci untuk memerangi sifat sombong, tapi perlu diingat! rendah hati bukanlah rendah diri. Maksud dari rendah hati yaitu senang berlaku baik terhadap semua orang dan mampu menerima kelebihan orang lain dan mengakui kelemahan diri sendiri. Selalu menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan kita. Sehingga kita tidak berlaku sombong. Sementara itu rendah diri adalah sikap tidak percaya diri, penakut dan menganggap diri lebih jelek dari orang lain, sikap ini tidaklah baik untuk pribadi kita.

3. Jangan merasa dermawan.Lupakan saja pemberian yang telah kita berikan. 
Namun jangan pernah melupakan pemberian orang lain terhadap kita. Jangan mengungkit-ungkit apa pun yang pernah kita berikan kepada orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa kita ikhlas memberikan sesuatu kepada orang lain. .

4. Tebarkan senyum dan salam.
Selalu memberi salam, tersenyum dan menyapa kepada setiap orang merupakan ibadah. Maka kita harus bersikap ramah dan tidak sombong. Jauhi sikap memaling muka kita kepada orang-orang sekitar. 

5. Senantiasa Bersedekah
Sering – seringlah bersedekah dan jangan sampai kita karena merasa kaya lalu bersikap kikir dan angkuh. Kita harus sering-sering "melihat orang yang dibawah kita". Sehingga kita senantiasa tidak bersikap berlebihan dalam berbagai hal. Sedekah ini haruslah kita lakukan dengan ikhlas tanpa pamrih.

6. Sering membantu orang lain atau tetangga dapat menumbuhkan jiwa sosial dalam diri sehingga terhindar dari sifat sombong.

7. Mengingat masa lalu anda dahulu, bahwa dulu anda bukanlah siapa – siapa namun berkat kerja keras anda dan bantuan orang lain, anda dapat sukses seperti sekarang.

8. Bergaul dengan orang-orang rendah hati sehingga memungkinkan Anda bercermin dari akhlak dan budi pekerti mereka yang baik. Di samping itu, jauhi teman-teman yang berperilaku buruk dan sombong, di mana memungkinkan peluang sifat sombong dan angkuh tertanam dalam diri Anda.

9. Memperbanyak beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan selalu bersyukur akan segala pemberian Tuhan.

10. Menyadari bahwa di dunia ini bukan kita satu satu nya manusia hebat, Bahkan banyak yang jauh lebih segala nya dari apa yang kita punya saat ini.

11. Jangan selalu melihat kekurangan orang lain dan membanding kan dengan diri kita. Tapi lihat lah sisi baikdari orang lain dan sisi kekurangan dari diri kita sendiri.

Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

Saudaraku jika kita sudah memahami hakikat diri kita dihadapan Allah, maka tidak ada manfaat dan untungnya bersikap sombong. Bila terbersit sedikit saja di dalam hatimu perasaan lebih hebat dari orang lain cobalah lihat lah sekeliling mu jika kau masih merasa lebih baik dari sekeliling mu, maka lihatlah alam semesta ini, kau hanya bagian yang kecil seperti debu di padang pasir. Apalagi setelah kau ingat Allah dan kekuasaanNYA, sungguh kita bukan apa-apa. Dari tanah akan kembali lagi ke tanah. 


Wallahu’a’lam bishowab.