Monday, April 9, 2018

SIKAP HIDUP MEMPERSIAPKAN AKHIRAT

Artikel ini kutulis untuk menyimpulkan tausiyah ustadz Hiadayatullah di Masjid Taqwa Palembang, Sabtu tanggal 31 Maret 2018 kemaren. Kajian dan dzikir bersama yang rutin dilakukan setiap Sabtu. Aku sangat terkesan dengan isi tausiyahnya, tentang cara kita menyikapi kehidupan di dunia dan mempersiapkan kematian/akhirat. Aku mungkin menyampaikannya tidak bisa sedetail ustadz, tapi paling tidak point-point pentingnya telah aku catat. 

Ada 5 point penting yang aku catat:

1. Jika kau yakin bahwa rezeki itu dijamin bahkan takarannya telah ditentukan oleh Allah, mengapa engkau begitu ngoyo dan tamak mencari rezeki dari subuh sampai malam sehingga sudah tidak peduli lagi tentang halal dan haram bahkan sampai melalaikan kewajibanmu terhadap Allah. 

Jaminan rezeki dari Allah SWT pada mahkluk-Nya adalah jaminan yang pasti lagi benar untuk menunjukkan betapa Maha Kaya Allah yang memiliki segala sifat kebesaran-Nya. Allah berfirman :

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
(“…… dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya” (Surah Hud, ayat 6)) Firman Allah SWT: 

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ
(“Dan kepunyaan Allah kepemilikan segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan” (Surat Ali Imran, ayat 109).

Selain dari Allah SWT siapa lagi yang bisa mencukupkan sumber rezeki yang tidak pernah putus-putus untuk menghubungkan siklus kehidupan di alam ini. Bukan satu atau dua hari tetapi ribuan bahkan mungkin jutaan tahun hingga lebih. Hanya Dia saja yang berhak dan layak untuk menurun dan mengeluarkan segala rezeki dari sumber mana yang Dia kehendaki.

Namun jangan pula disalahartikan, karena rezeki telah ditetapkan oleh Allah lantas kita hanya menunggu saja rezeki itu datang sendiri. Tentu saja tidak, kita tetap harus berikhtiar. Jangan pula engkau pontang-panting mencari rezeki sampai melupakan ibadah kepada Allah, seperti lupa sholat dsb.

2. Jika kau yakin kematian itu nyata dan pasti akan menghampirimu, apa yang akan kau persiapkan ketika kematian itu datang menjemputmu. Masih hidupkah saya besok, tidak seorangpun yang tahu? Kamu tidak perlu menunggu waktu yang tepat untuk berubah karena kematian tidak akan menunggumu sampai berubah. Beberapa dalil tentang kematian, antara lain :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kamu akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيٍَّ 
“Di mana saja kamu berada, kematian pasti akan mendapati kamu, walaupun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kukuh.” (An-Nisa`: 78)

 أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ
“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384)

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ
“Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya.” (An-Nahl: 61)

Wahai saudaraku mulailah membersihkan hati dari semua kesibukan duniawi.Tidak terlalu bahagia dengan kemewahan dunia atau dengan sesuatu yang didapatkannya, serta jangan terlalu bersedih dengan problematika dunia yang dihadapi atau musibah yang menimpanya, bersikap wajar saja. Seperti dalam firman Allah.

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNYA kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (QS Al-Hadid[57]23)”

Saudaraku, hati orang yang tenggelam dalam dunia dan tertipu olehnya serta jatuh cinta pada berbagai syahwatnya sudah pasti lalai dari mengingat kematian. Orang-orang yang berlomba mengejar kesenangan dunia ini ibarat orang-orang yang berada dalam sebuah permainan yang melalaikan, tidak lama lagi permainan itu akan berakhir dan menyisakan kelelahan yang tidak berarti.

Firman Allah SWT artinya : "Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu." (Surah Muhammad ayat 36)

Allah telah menegaskan dalam Al-Quran bahwa kehidupan di dunia tidak lebih hanya main-main dan senda gurau belaka, ya ibarat sebuah peran yang sedang dimainkan di atas panggung sandiwara, sebagus atau seburuk apapun peran yang kita dapatkan pasti akan berakhir, tapi kenapa manusia begitu bersemangat untuk dunia dan begitu malas untuk akhirat?.

Masihkah kita tertipu dan terperdaya oleh kenikmatan dunia yang sementara ini dengan ambisius mengejar berbagai materi dan mengumpulkan harta sementara kampung akhirat yang kekal abadi dan kehidupan yang sebenarnya kita lalaikan bahkan tanpa disadari kita telah melupakan bahwa akan ada kehidupan setelah kematian untuk mempertanggung jawabkan perbuatan di dunia.

Rasulullah pernah bersabda “Bahwa orang yang cerdas adalah, orang yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian” Pada surah Al Mu’minuun ayat 112 – 114, di Akhirat nanti ketika manusia dihadapkan kepada Allah terjadilah dialog ;“Allah bertanya: Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi ?”

.“Mereka menjawab: Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”. “Allah berfirman: Kamu tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui”.

Masihkah kita hanyut dengan hiruk pikuk dunia dengan segala perhiasannya? Wahai saudaraku sadarilah dunia ini hanya tempat singgah, sebagaimana seorang musafir yang kelelahan dan berhenti di rumah makan, setelah kenyang dan segar mereka pasti melanjutkan perjalanan ke tempat tujuannya. Hari ini akhirat adalah cerita dan dunia adalah nyata, tapi setelah mati dunia hanya cerita dan akhirat adalah nyata. Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu dan kematian di pelupuk matamu (Imam Syafi’i). “Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”

Kebahagiaan di dunia akan berlalu, harta yang kamu kumpulkan tidak akan berguna lagi, kekuasaan yang kamu bela tidak dapat menyelamatkanmu. Kematian tidak untuk ditakuti namun untuk dipersiapkan. Jika kau sadar hidup adalah untuk mati maka kamu akan selalu gusar. Namun jika mati adalah tujuan inshaa Allah hidup akan tenang. Mumpung masih hidup maka persiapkanlah bekal untuk akhiratmu. Jangan pernah tinggalkan sholat karena sholat adalah amalan yang paling pertama kali dihisab. Perbanyaklah sedekah karena banyak sekali manusia di dalam kubur yang ingin kembali dihidupkan hanya untuk bersedekah. Hiasilah hidupmu dengan bekal akhiratmu dan sebaik-baiknya bekal adalah TAQWA.

“Sungguh kematian yang selalu kalian hindari itu pasti mengejar kalian. Kalian akan dikembalikan kepada Allah, Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Kemudian kelak di hari kiamat, Allah akan menjelaskan kepada kalian apa saja yang telah kalian lakukan di dunia (QS Al-Jumu’ah[62]8)

3. Jika kau yakin syurga itu nyata dan pasti ada, persiapkanlah amalan agar bisa meraih syurganya Allah. Jika kau yakin neraka itu nyata dan ada, mengapa kau tak takut melanggar semua larangan Allah.

Surga adalah kampung kenikmatan yang dipersiapkan oleh Allah SWT bagi orang-orang yang beriman, sedangkan neraka adalah hunian yang penuh dengan adzab dan dipersiapkan oleh Allah Ta’ala untuk orang-orang kafir. Allah SWT berfirman (artinya): “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbuat kebaikan benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. Dan sekali-kali mereka tak dapat keluar dari neraka itu. Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu. Sekali lagi tahukah kamu hari pembalasan itu. (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah (Al-Infithar: 13-19)”.

Jika kita membayangkan seberapa besar kenikmatan surga yang sesungguhnya lebih indah dari yang bisa kita bayangkan harusnya bisa menjadi motivasi kuat bagi orang yang beriman untuk meraihnya. Ini adalah bagian dari keimanan terhadap hari akhir dan iman kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana komentar sahabat Umair Ibnu Hamam, “Menuju kepada Allah tak ada bekal lain kecuali takwa, amal akhirat dan sabar karena Allah dalam perjuangan. Dan semua bekal akan habis kecuali takwa, berbuat baik dan mencari petunjuk.

”وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa …” (QS al-Baqarah: 197)

Keberadaan surga dan neraka adalah haq. Tidak ada keraguan di dalamnya. Neraka disediakan bagi musuh-musuh Allah, sedangkan surga dijanjikan bagi wali-wali Allah. Penyebutan tentang surga dan neraka dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sangatlah banyak. Telah banyak disebutkan tentang kondisi penduduk surga dan neraka dan disebutkan tentang janji kenikmatan surga dan adzab di neraka. Disebutkan pula dorongan agar bersemangat meraih surga dan ancaman dari neraka. Demikian pula As-Sunnah (Hadits) banyak menyebutkan tentang surga dan neraka. Itu semua menunjukkan bahwa keberadaan surga dan neraka adalah benar adanya.

Surga dan Neraka Sudah Ditetapkan Penghuninya.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia … ” (Al-A’raf: 179).

Dari ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “… Sesungguhnya Allah telah menciptakan para penghuni untuk surga. Allah telah menentukan mereka sebagai penghuninya, sedangkan mereka masih dalam tulang sulbi bapak-bapak mereka. Allah juga telah menciptakan para penghuni bagi neraka. Allah telah menentukan mereka sebagai penghuninya, padahal mereka masih dalam tulang sulbi bapak-bapak mereka.” (HR. Muslim 2662) (Syarh Al ‘Aqidah At Thahawiyah li Al Imam Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi II/1070-1071).

Namun hal ini termasuk dalam perkara ghaib, sehingga hanya Allah yang mengetahui siapa saja penghuni surga dan neraka. Oleh karena itu kita harus berusaha agar termasuk ke dalam penghuni surga, yaitu dengan banyak beramal shalih. Karena sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal yang kita lakukan, sebagaimana firman Allah (artinya):” …Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan… “(QS. Al ‘Imran:195).

Surga dan Neraka Kekal Abadi.
“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Huud: 108).

“..Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni syurga mereka kekal di dalamnya (QS: Al-A’raf, 42)

Maka wajib bagi setiap muslim yang mau berpikir dan berusaha meraih syurganya Allah dengan berbagai amalan diantaranya : mentauhidkan Alah, mentaati Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, mematuhi perintahNYA, menjauhi laranganNYA dan selalu berpedoman pada Al-Qur’an dan hadist. Itu semua merupakan sebab masuk ke dalam surga dan jalan menuju surga. Adapun barangsiapa menolak untuk melakukkannya maka orang tersebut telah enggan untuk masuk surga.

4. Jika kau yakin bahwa setiap harta yang kau punya akan dihisab satu persatu, mengapa kau selalu rakus dan menumpuk-numpuk harta

Allah berfirman yang artinya : “Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman): “Inilah Kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan”. (Qs. Al Jaatsiyah 45: 28-29).

Dari Abdullah bin Qurthin ra, bahwa Rasulullah saw, bersabda

:اَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ فَاِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ سَائِرُ عَمَلِهِ وَاِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ =رواه الطبراني=
Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika sholatnya beres, maka bereslah semua amalnya dan jika rusak, maka rusaklah semua amalnya. (HR. Ath Thabrani).

Dambaan setiap orang ringan atau mudah saat dihisab di mahsyar: “Attaisir ‘Indal Hisab”. (Kemudahan ketika dihisab). Namun ada hal yang dapat menyulitkan seseorang saat dihisab yang membuat proses hisabnya menjadi lama. Sabda Rasulullah saw:

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ -اسْمُهُ نَضْلَةُ بْنُ عُبَيْدٍ- رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ =رواه الترمذي= قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Abu Barzah Al Aslamiy (namanya Nadhlah bin ‘Ubaid) ra, ia berkata,Rasulullah saw bersabda, tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang telah ia perbuat dan tentang hartanya darimana ia mendapatkannya dan untuk apa saja ia membelanjakannya dan tentang anggota badannya untuk apa saja ia gunakan. (HR. Tirmidzi).

وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ
(Hartanya dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia membelanjakannya)). Sabda Rasulullah saw.

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ“
"Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh orang shaleh.” (HR Bukhari). al Adab al Mufrad: 299.

Hisab harta yang banyak akan memakan waktu yang sangat lama. Setiap harta yang kita miliki harus dipertanggungjawabkan dari mana sumbernya dan kemana dibelanjakan, maka harta yang kita miliki itu terbagi kepada empat: 

a. Didapatkan dengan cara haram dan dibelanjakan kepada hal yang haram. Uang hasil sogok menyogok digunakan untuk membeli minuman yang memabukkan. Akibatnya sudah pasti ke neraka.

b. Didapatkan dengan cara yang haram tapi dibelanjakan kepada yang halal. Uang hasil korupsi, jual beli narkoba, dijadikan ongkos pergi umrah, pembangunan mesjid, menyantuni yatim piatu dan orang miskin. Akibatnya juga neraka. Karena Allah itu Maha Baik dan tidak akan menerima kecuali dari yang baik pula.

c. Didapatkan dengan cara baik tapi dibelanjakan kepada yang haram. Uang hasil kerja keras di kebun umpamanya, tapi digunakan untuk membeli narkoba. Akibatnya juga ke neraka.

d. Didapatkan dengan cara halal dan dibelanjakan kepada yang halal. Uang hasil bekerja sebagai buruh, jual beli yang sah lagi halal, digunakan untuk menafkahi keluarga, bersedekah dan amal baik lainnya. Harta yang seperti ini akan dihisab dulu sedetil-detilnya. Bila kita bisa mempertanggungjawabkan semuanya dengan baik, barulah kita bisa selamat dari api neraka dan masuk ke surga. 

Ini baru hisab harta pribadi yang tidak ada hubungannya dengan orang lain. Kita tidak bisa bayangkan bagaimana dahsyatnya hisab yang berhubungan dengan orang lain. Bagaimana mempertanggungjawabkan harta yang kita rampas atau ambil tanpa dasar kebenaran dari hak milik orang lain. Yang kita pakai dan kita sedehkahkan itulah yang bermanfaat..!

Perlu menjadi perhatian bagi kaum wanita yang gemar memiliki koleksi segala macam, seperti tas, baju, sepatu dsb. Simpanan atau koleksi-koleksi yang tidak terpakai kelak akan di Hisab dan akan menyusahkan diri kita sendiri. Maka batasilah diri membeli sesuatu dari nafsu. Nafsu ingin mempunyai ini itu. Melihat punya orang lain membuat kita ingin memiliki juga. Padahal barang-barang tersebut tidak dibutuhkan.

عَنْ أُسَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةَ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُونَ غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ =رواه البخاري

Dari Usamah (bin Zaid) ra, dari Nabi saw,bersabda, “Aku berdiri di pintu surga. Maka kebanyakan orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang kaya tertahan. hanya saja para penghuni neraka telah diperintahkan masuk neraka. Dan aku juga berdiri dipintu neraka, maka kebanyakan yang memasukinya adalah perempuan.” (HR.Bukhari).

Berdasarkan riwayat diceritakan bahwa orang miskin akan lebih cepat hisabnya, karena mereka tidak memiliki harta, namun orang kaya yang banyak dan menumpuk-numpuk harta hisabnya akan menjadi sangat lama. “Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad)

5. Jika kau yakin jika harta yang kau infak dan sedekahkan di jalan Allah itu akan dibalas dan pasti akan kembali lagi kepadamu mengapa engkau masih kikir.

Perintah sedekah ini terdapat pada firman Allah dalam Alqur’an, surat An Nissa ayat 114: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali dari bisikan-bisikan orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat kebaikan atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kami akan memberinya pahala yang besar”.

“..... Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.” (QS. At-Tawbah : 34-35).

Manfaat sedekah turut mengingatkan kita bahwa apa yang kita punya adalah kenikmatan yang tidak lepas dari izin Allah. Hal ini sebagai bentuk rasa syukur maka perlu membagi kenikmatan yang kita punya kepada orang lain yang kurang beruntung.

- Sedekah dapat menghapus dosa
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Tirmidzi menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api." [HR. Tirmidzi] Sedekah dapat menghapus dosa, namun hal itu juga harus disertai dengan taubat atas dosa yang telah dilakukan. Orang yang dengan sengaja melakukan maksiat seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, mengambil harta anak yatim dan lain sebagainya tidak berlaku sedekahnya apabila ia bersedekah hanya bertujuan agar dosa-dosanya impas.

- Mendapatkan naungan di hari akhir
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu, hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah: "Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya." [HR. Bukhari]

- Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah
Janji Allah selanjutnya bagi orang yang gemar bersedekah adalah Allah akan melipatgandakan pahala orang yang bersedekah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT. "Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul-Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak." [QS. Al-Hadid ayat 18]

- Terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki orang yang bersedekah
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda,
"Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: "Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah." [HR. Bukhari dan Muslim]

- Dapat membebaskan kita dari siksa kubur 
Rasulullah SAW bersabda,"Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur." [HR. Ath-Thabrani]

 - Menjauhkan diri dari api neraka. 
Sesungguhnya sedekah itu walaupun sedikit, memiliki andil untuk menjauhkan kita dari api neraka. Semakin banyak sedekah, semakin jauh kita darinya. Rasulullah SAW bersabda "Jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah" [HR. Bukhari dan Muslim] 

Sedekah walaupun kecil nilainya tetapi sangat berharga di mata Allah SWT. Orang yang pelit dan kikir terhadap hartanya dan tidak pernah menyedekahkan hartanya walaupun hanya sebagian, maka merugilah mereka di dunia maupun di akhirat karena tidak ada keberkahan dalam hartanya. Padahal bersedekah itu sangat penting bagi kepentingan dirinya, karena dengan mensedekahkan harta akan menuai berkah dan sebaliknya jika menahan hartanya maka akan celaka 

- Allah SWT akan melipatgandakan harta orang yang bersedekah
”Harta yang Allah sediakan itu untuk semua mahluk-Nya, bukan untuk sebagian orang. Terjadinya kaya miskin dalam hidup manusia itu sunatullah yang tidak bisa dihindari. Karenanya Allah SWT mengajarkan dalam Al-Qur'an keharusan untuk saling membantu.

Allah sangat benci kepada orang-orang yang kikir dan gemar menumpuk harta. Ayat diatas adalah bukti nyata kebencian Allah kepada mereka yang suka menyimpan harta tanpa memperhatikan hak-hak orang miskin. Dalam firman-Nya Allah menjelaskan, "Bahwa manusia tidak akan pernah mencapai titik stabil dalam meraih kebahagiaan jika tidak melakukan banyak hal, diantaranya ia menyadari bahwa didalam hartanya ada hak-hak orang miskin." (QS.Al-Ma'arij).

Lihatlah bagaimana orang yang sudah mati pun sampai memohon untuk dibangkitkan kembali agar bisa sedekah. Karena dia merasakan betapa beratnya beban hisab atas harta yang disimpan, dan ia juga melihat betapa besarnya pahala dari sedekah yang ia amalkan, “Dan infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum DATANG KEMATIAN kepada salah seorang di antara kamu; kemudian ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku DAPAT BERSEDEKAH dan aku termasuk ORANG-ORANG YANG SHALIH?” (QS. Al Munafiqun: 10). 

Jadikan ini renungan, muhasabah untuk diri sendiri. Juga pengingat untuk orang-orang yang kita sayangi. Harta yang kita simpan adalah harta milik ahli waris kita. Sedangkan harta sejati kita yang akan menemani sampai kubur adalah harta yang kita sedekahkan. Mari kita mulai sedekahkan atau hadiahkan koleksi pakaian lama kita yang masih layak pakai, atau barang-barang koleksi yang masih bisa digunakan manfaatnya, kepada orang lain yang membutuhkan, “Saling memberi hadiahlah kalian, maka kalian akan saling mencintai dan akan hilang kebencian.” (HR. Imam Malik)

Rasulullah SAW dalam banyak haditsnya menggambarkan betapa mengerikan akibat yang kelak akan dihadapi oleh mereka yang suka menumpuk harta tanpa memberikan hak-hak fakir miskin sesuai dengan ketentuan agama.

Dari Abu Hurairah meriwayatkan hadist yang sangat panjang sebagian teksnya sebagai berikut : "Tiada seorangpun yang menyimpan harta dan tidak mau mengeluarkan zakatnya melainkan akan dipanaskan harta itu di neraka jahanam sampai menjadi kepingan logam lalu disetrikan ke kedua pinggang dan keningnya. Begitu seterusnya (selama berada di padang Mahsyar) di mana suatu hari sama dengan lima puluh ribu tahun , sampai saatnya Allah mengadilinya. Setelah itu baru ditentukan nasibnya apakah ia masuk syurga atau masuk neraka...".

Dalam hadits yang lain Nabi SAW menceritakan bahwa harta yang disimpan itu kelak di hari kiamat akan menjelma menjadi seekor ular botak , diatas kedua matanya ada warna hitam (menunjukan bahwa ular tersebut banyak mengadung racun). Lalu ular tersebut melilit ditubuh pemiliknya, dan siap menerkamnya, sambil berkata: "aku hartamu yang kamu simpan didunia"

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7) ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8) 

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (1) sampai kamu masuk ke dalam kubur. (2) Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (3) dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. (4) Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (5) niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, (6) dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. (7) kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu) (8).” (QS. At Takatsur: 1-8)




Wednesday, March 21, 2018

JODOH

Jodohmu itu cerminan dari dirimu, jadi jangan berharap jodohmu seperti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam jika dirimu tidak sebaik bunda Khadijah dan teruslah belajar untuk memperbaiki diri supaya bertemu dengan jodoh yang terbaik untukmu. Manusia manapun tidak ada yang bisa tahu dengan siapa mereka akan berjodoh. Seperti apapun wajahmu saat ini tidak bisa engkau jadikan andalan untuk mengetahui dengan siapa kelak kau akan menikah.

Karena jodohmu ialah cerminan dirimu bukanlah cerminan wajahmu, buat engkau yang memiliki fisik sempurna belum tentu akan mendapatkan pasangan yang sempurna pula, begitu pula sebaliknya. Yang Allah janjikan itu jodohmu ialah cerminan dirimu bukan cerminan wajahmu, jangan salah persepsi

Jangan salah menanggapi makna jodohmu ialah cerminan dirimu, karena yang dimaksud dirimu ialah sifatmu, bukan wajahmu. Yang Allah janjikan ialah yang baik akan dijodohkan dengan yang baik pula begitu sebaliknya. Jadi berharaplah semoga yang baik itu memiliki tampang yang baik pula.

Yang cantik belum tentu bakalan mendapatkan yang tampan, yang jelek belum tentu akan dipasangkan dengan yang jelek juga. Jadi belum tentu yang tampan akan berjodoh dengan yang cantik begitu pula sebaliknya. Karena sejaatinya bagi Allah semua manusia itu sama di hadapannya, cantik dan tampan itu hanyalah istilah yang dibuat oleh manusia. Sehingga sangat mungkin yang memiliki fisik biasa-biasa saja bakalan bakaalan berjodoh dengan yang sempurna menurut pengelihatan manusia. 

Tak jarang ada orang yang mengalami/merasakan jodoh tak kunjung datang yang menjadikan hidup gelisah. Terlebih lagi bagi mereka yang belum menemukan jodoh akan sangat tertekan menghadapi pertanyaan “Kapan menikah? Jangan terlalu pilih-pilih”. Pertanyaan tersebut sangat-sangat mengganggu, karena sesungguhnya tidak ada manusia yang tidak ingin menikah. 

Yang harus dipahami adalah bahwa jodoh itu adalah hak prerogratif Allah. Kita hanya bisa ikhtiar dan berdo’a namun kapan datangnya jodoh itu rahasia Allah.. Teruslah bergaul dan jangan minder. Bersabarlah hingga waktu yang telah ALLAH tentukan itu tiba. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan sembari menanti datangnya jodoh : 

1. Benahi Hari & Luruskan Niat 
Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari Muslim)

Jika niat kita benar, maka Insya Allah kita pun akan mendapatkan sesuai dengan apa yang kita niatkan. Jika kita berniat mencari jodoh karena lillahi ta’ala, semata hanya karena Allah, maka Allah pun akan mentaqdirkan kita bertemu dengan seseorang yang memiliki niat yang sama.

2. Perbaiki diri 
Jika kita ingin mendapatkan jodoh yang baik, shaleh/shalehah, maka kita harus menjadi orang yang baik juga. Itulah maksud Allah dalam firman-Nya,

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS. An-Nur: 26). 

3. Memperbanyak ibadah sunnah 
Agar jodoh kita semakin cepat datang, kita juga perlu mendekati Allah dengan ekstra dekat. Ibadah wajib harus dilaksanakan dengan baik dan tepat waktu. Tidak lupa kita harus menambah ibadah-ibadah sunnah seperti sholat tahajjud, sholat dhuha, shaum, tilawah Al Qur’an, infaq, dan lain-lain. Lakukan ibadah sunnah ini secara rutin setiap hari agar iman kita bertambah dan doa kita semakin dikabulkan Allah SWT, 

4. Memperluas pergaulan 
Cara lain agar cepat mendapatkan jodoh adalah memperluas pergaulan. Dengan pergaulan yang luas kita juga lebih banyak mendapatkan pilihan. Tentunya harus di lingkungan yang baik jika jodoh kita ingin baik. Jika kita menginginkan suami/istri yang soleh/sholehah maka tanyakan pada diri kita masing-masing, sudah pantaskah kita memiliki suami/istri yang soleh/sholehah? 

۝ وَمِن ءَآيٰتِهٖ أَن خَلَقَ لَكُمْ مِّن أَنفُسِكُمْ أَزْوٰجًا لِتَسْكُنُوآ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَرَحْمَةًۚ إِنَّ فِى ذٰلِكَ لأَٰيَـٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ۝
” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” ( Ar-Rum (30) ayat; 21). 

Islam telah meletakkan kaedah-kaedah pokok sebagai dasar pertimbangan yang sehat dalam memilih suami. Jika setiap orang mengikuti dan melaksanakan dasar-dasar tersebut tentu mereka dapat menyelamatkan keturunannya dari berbagai macam kesukaran, penderitaan dan kemalangan yang akan terjadi akibat kesalahan sikap dalam memilih jodoh. Adapun kriteria memilih pasangan hidup yang dianjurkan dalam kaedah Islam adalah sebagai berikut : 

1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya 
Ini adalah kriteria yang paling utama dari kriteria yang lain. Maka dalam memilih calon pasangan hidup, minimal harus terdapat satu syarat ini. Karena Allah Ta’ala berfirman, 

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al Hujurat: 13) 

Sedangkan taqwa adalah menjaga diri dari adzab Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Maka hendaknya seorang muslim berjuang untuk mendapatkan calon pasangan yang paling mulia di sisi Allah, yaitu seorang yang taat kepada aturan agama. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun menganjurkan memilih istri yang baik agamanya, 

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك
“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim) 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, 

إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير
“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi). 

Memahami sabda Rasulullah di atas, maka ilmu agama adalah kriteria paling penting yang menjadi perhatian dalam memilih pasangan. Karena bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, padahal dia tidak tahu apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan apa saja yang dilarang oleh-Nya? Dan disinilah diperlukan ilmu agama untuk mengetahuinya. 

Maka pilihlah calon pasangan hidup yang memiliki pemahaman yang baik tentang agama. Karena salah satu tanda orang yang diberi kebaikan oleh Allah adalah memiliki pemahaman agama yang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari-Muslim) 

2. Al Kafa’ah (Sekufu) 
Yang dimaksud dengan sekufu atau al kafa’ah -secara bahasa- adalah sebanding dalam hal kedudukan, agama, nasab, rumah dan selainnya (Lisaanul Arab, Ibnu Manzhur). Al Kafa’ah secara syariat menurut mayoritas ulama adalah sebanding dalam agama, nasab (keturunan), kemerdekaan dan pekerjaan. Atau dengan kata lain kesetaraan dalam agama dan status sosial. Banyak dalil yang menunjukkan anjuran ini. Di antaranya firman Allah Ta’ala, 

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ 
“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26) 

Al Bukhari pun dalam kitab shahihnya membuat Bab Al Akfaa fid Diin (Sekufu dalam agama) kemudian di dalamnya terdapat hadits, 

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك 
“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (keislamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim) 

Salah satu hikmah dari anjuran ini adalah kesetaraan dalam agama dan kedudukan sosial dapat menjadi faktor kelanggengan rumah tangga. Hal ini diisyaratkan oleh kisah Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Zainab adalah wanita terpandang dan cantik, sedangkan Zaid adalah lelaki biasa yang tidak tampan. Walhasil, pernikahan mereka pun tidak berlangsung lama. Jika kasus seperti ini terjadi pada sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi kita? 

3. Menyenangkan jika dipandang 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang telah disebutkan, membolehkan kita untuk menjadikan faktor fisik sebagai salah satu kriteria memilih calon pasangan. Karena paras yang cantik atau tampan, juga keadaan fisik yang menarik lainnya dari calon pasangan hidup kita adalah salah satu faktor penunjang keharmonisan rumah tangga. Maka mempertimbangkan hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu untuk menciptakan ketentraman dalam hati. 

Allah Ta’ala berfirman, 

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا 
“Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram denganya.” (QS. Ar Ruum: 21) 

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan 4 ciri wanita sholihah yang salah satunya, 

وان نظر إليها سرته 
“Jika memandangnya, membuat suami senang.” (HR. Abu Dawud. Al Hakim berkata bahwa sanad hadits ini shahih) 

Oleh karena itu, Islam menetapkan adanya nazhor, yaitu melihat wanita yang yang hendak dilamar. Sehingga sang lelaki dapat mempertimbangkan wanita yang yang hendak dilamarnya dari segi fisik. Sebagaimana ketika ada seorang sahabat mengabarkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia akan melamar seorang wanita Anshar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

أنظرت إليها قال لا قال فاذهب فانظر إليها فإن في أعين الأنصار شيئا 
“Sudahkah engkau melihatnya?” Sahabat tersebut berkata, “Belum.” Beliau lalu bersabda, “Pergilah kepadanya dan lihatlah ia, sebab pada mata orang-orang Anshar terdapat sesuatu.” (HR. Muslim) 

4. Subur (mampu menghasilkan keturunan) 
Di antara hikmah dari pernikahan adalah untuk meneruskan keturunan dan memperbanyak jumlah kaum muslimin dan memperkuat izzah (kemuliaan) kaum muslimin. Karena dari pernikahan diharapkan lahirlah anak-anak kaum muslimin yang nantinya menjadi orang-orang yang shalih yang mendakwahkan Islam. Oleh karena itulah, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih calon istri yang subur, 

تزوجوا الودود الولود فاني مكاثر بكم الأمم 
“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur! Karena aku berbangga dengan banyaknya ummatku.” (HR. An Nasa’I, Abu Dawud. Dihasankan oleh Al Albani dalam Misykatul Mashabih) 

Karena alasan ini juga sebagian fuqoha (para pakar fiqih) berpendapat bolehnya fas-khu an nikah (membatalkan pernikahan) karena diketahui suami memiliki impotensi yang parah. As Sa’di berkata: “Jika seorang istri setelah pernikahan mendapati suaminya ternyata impoten, maka diberi waktu selama 1 tahun, jika masih dalam keadaan demikian, maka pernikahan dibatalkan (oleh penguasa)” (Lihat Manhajus Salikin, Bab ‘Uyub fin Nikah hal. 202) 

Kriteria Khusus untuk Memilih Calon Suami 
Khusus bagi seorang muslimah yang hendak memilih calon pendamping, ada satu kriteria yang penting untuk diperhatikan. Yaitu calon suami memiliki kemampuan untuk memberi nafkah. Karena memberi nafkah merupakan kewajiban seorang suami. Islam telah menjadikan sikap menyia-nyiakan hak istri, anak-anak serta kedua orang tua dalam nafkah termasuk dalam kategori dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

كفى بالمرء إثما أن يضيع من يقوت 
“Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud. Al Hakim berkata bahwa sanad hadits ini shahih). 

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membolehkan bahkan menganjurkan menimbang faktor kemampuan memberi nafkah dalam memilih suami. Seperti kisah pelamaran Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha: 

عن فاطمة بنت قيس رضي الله عنها قالت‏:‏ أتيت النبي صلى الله عليه وسلم، فقلت‏:‏ إن أبا الجهم ومعاوية خطباني‏؟‏ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏‏”‏أما معاوية، فصعلوك لا مال له ، وأما أبوالجهم، فلا يضع العصا عن عاتقه‏ 
“Dari Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya”.” (HR. Bukhari-Muslim) 

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merekomendasikan Muawiyah radhiyallahu ‘anhu karena miskin. Maka ini menunjukkan bahwa masalah kemampuan memberi nafkah perlu diperhatikan. Namun kebutuhan akan nafkah ini jangan sampai dijadikan kriteria dan tujuan utama. Jika sang calon suami dapat memberi nafkah yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan keluarganya kelak itu sudah mencukupi. Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan akhlak zuhud (sederhana) dan qana’ah (menyukuri apa yang dikarunai Allah) serta mencela penghamba dan pengumpul harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

تعس عبد الدينار، والدرهم، والقطيفة، والخميصة، إن أعطي رضي، وإن لم يعط لم يرض 
“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.” (HR. Bukhari). 

Selain itu, bukan juga berarti calon suami harus kaya raya. Karena Allah pun menjanjikan kepada para lelaki yang miskin yang ingin menjaga kehormatannya dengan menikah untuk diberi rizki. 

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ 
“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An Nur: 32) 
Kriteria Khusus untuk Memilih Istri 

Salah satu bukti bahwa wanita memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam adalah bahwa terdapat anjuran untuk memilih calon istri dengan lebih selektif. 

Kriteria khusus untuk memilih calon istri.

1. Bersedia taat kepada suami 
Seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, 

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء 
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An Nisa: 34) 

Sudah sepatutnya seorang pemimpin untuk ditaati. Ketika ketaatan ditinggalkan maka hancurlah ‘organisasi’ rumah tangga yang dijalankan. Oleh karena itulah, Allah dan Rasul-Nya dalam banyak dalil memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya, kecuali dalam perkara yang diharamkan. Meninggalkan ketaatan kepada suami merupakan dosa besar, sebaliknya ketaatan kepadanya diganjar dengan pahala yang sangat besar. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

إِذَا صَلَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ 
“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.” (HR. Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Al Albani) 

Maka seorang muslim hendaknya memilih wanita calon pasangan hidupnya yang telah menyadari akan kewajiban ini. 

2. Menjaga auratnya dan tidak memamerkan kecantikannya kecuali kepada suaminya 

Berbusana muslimah yang benar dan syar’i adalah kewajiban setiap muslimah. Seorang muslimah yang shalihah tentunya tidak akan melanggar ketentuan ini. Allah Ta’ala berfirman, 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً 
“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.'” (QS. Al Ahzab: 59) 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengabarkan dua kaum yang kepedihan siksaannya belum pernah beliau lihat, salah satunya adalah wanita yang memamerkan auratnya dan tidak berbusana yang syar’i. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

نساء كاسيات عاريات مميلات مائلات رؤسهن كأسنة البخت المائلة لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا 
“Wanita yang berpakaian namun (pada hakikatnya) telanjang yang berjalan melenggang, kepala mereka bergoyang bak punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan bahkan mencium wanginya pun tidak. Padahal wanginya surga dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim) 

Berdasarkan dalil-dalil yang ada, para ulama merumuskan syarat-syarat busana muslimah yang syar’i di antaranya: menutup aurat dengan sempurna, tidak ketat, tidak transparan, bukan untuk memamerkan kecantikan di depan lelaki non-mahram, tidak meniru ciri khas busana non-muslim, tidak meniru ciri khas busana laki-laki, dll.  Maka pilihlah calon istri yang menyadari dan memahami hal ini, yaitu para muslimah yang berbusana muslimah yang syar’i. 

3. Gadis lebih diutamakan dari janda 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar menikahi wanita yang masih gadis. Karena secara umum wanita yang masih gadis memiliki kelebihan dalam hal kemesraan dan dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis. Sehingga sejalan dengan salah satu tujuan menikah, yaitu menjaga dari penyaluran syahawat kepada yang haram. Wanita yang masih gadis juga biasanya lebih nrimo jika sang suami berpenghasilan sedikit. Hal ini semua dapat menambah kebahagiaan dalam pernikahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

عليكم بالأبكار ، فإنهن أعذب أفواها و أنتق أرحاما و أرضى باليسير 
“Menikahlah dengan gadis, sebab mulut mereka lebih jernih, rahimnya lebih cepat hamil, dan lebih rela pada pemberian yang sedikit.” (HR. Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al Albani) 

Namun tidak mengapa menikah dengan seorang janda jika melihat maslahat yang besar. Seperti sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang menikah dengan janda karena ia memiliki 8 orang adik yang masih kecil sehingga membutuhkan istri yang pandai merawat anak kecil, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyetujuinya (HR. Bukhari-Muslim) 

4. Nasab-nya baik 
Dianjurkan kepada seseorang yang hendak meminang seorang wanita untuk mencari tahu tentang nasab (silsilah keturunan)-nya. 

Alasan pertama, keluarga memiliki peran besar dalam mempengaruhi ilmu, akhlak dan keimanan seseorang. Seorang wanita yang tumbuh dalam keluarga yang baik lagi Islami biasanya menjadi seorang wanita yang shalihah. 

Alasan kedua, di masyarakat kita yang masih awam terdapat permasalahan pelik berkaitan dengan status anak zina. Mereka menganggap bahwa jika dua orang berzina, cukup dengan menikahkan keduanya maka selesailah permasalahan. Padahal tidak demikian. Karena dalam ketentuan Islam, anak yang dilahirkan dari hasil zina tidak di-nasab-kan kepada si lelaki pezina, namun di-nasab-kan kepada ibunya. Berdasarkan hadits, 

الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجْرُ 
“Anak yang lahir adalah milik pemilik kasur (suami) dan pezinanya dihukum.” (HR. Bukhari) 

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menetapkan anak tersebut di-nasab-kan kepada orang yang berstatus suami dari si wanita. Me-nasab-kan anak zina tersebut kepada lelaki pezina menyelisihi tuntutan hadits ini.  Konsekuensinya, anak yang lahir dari hasil zina, apabila ia perempuan maka suami dari ibunya tidak boleh menjadi wali dalam pernikahannya. Jika ia menjadi wali maka pernikahannya tidak sah, jika pernikahan tidak sah lalu berhubungan intim, maka sama dengan perzinaan. Iyyadzan billah, kita berlindung kepada Allah dari kejadian ini. Oleh karena itulah, seorang lelaki yang hendak meminang wanita terkadang perlu untuk mengecek nasab dari calon pasangan. 

Demikian beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan oleh seorang muslim yang hendak menapaki tangga pernikahan. Nasehat kami, selain melakukan usaha untuk memilih pasangan, jangan lupa bahwa hasil akhir dari segala usaha ada di tangan Allah ‘Azza Wa Jalla. Maka sepatutnya jangan meninggalkan doa kepada Allah Ta’ala agar dipilihkan calon pasangan yang baik. Salah satu doa yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan shalat Istikharah. Sebagaimana hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, 

إذا هم أحدكم بأمر فليصلِّ ركعتين ثم ليقل : ” اللهم إني أستخيرك بعلمك…” 
“Jika kalian merasa gelisah terhadap suatu perkara, maka shalatlah dua raka’at kemudian berdoalah: ‘Ya Allah, aku beristikharah kepadamu dengan ilmu-Mu’… (dst)” (HR. Bukhari) 

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shaalihat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. 






Tuesday, March 20, 2018

MAKNA KAIN IHRAM DALAM PELAKSANAAN IBADAH HAJI DAN UMROH

Dari beberapa kali melaksanakan ibadah haji dan umroh, secara tiba-tiba aku tergelitik untuk memahami makna kain/pakaian ihram. Definisi ihram diambil dari bahasa Arab, yaitu dari kata al-haram yang bermakna terlarang atau tercegah. Setiap jamaah haji/umroh setelah melafazkan niat ihram maka berlakulah aturan dan larangan yang tidak boleh dilanggar. Misalnya dilarang berkata kotor, berbantah-bantahan, membunuh binatang, memotong pepohonan, berjima’, menikah, memakai wangi-wangian, dan lain-sebagainya 

Pada saat ‘Ihram”, banyak aturan atau persyaratan yang harus kita patuhi, agar pelaksanaan haji dan umroh kita sempurna tanpa harus membayar “dam”. Namun dari satu larangan saat berihram adalah kita dilarang membuka aurat sembarangan meskipun di depan sesama wanita. Hal ini yang menjadi kesan mendalam dihatiku. Karena apa ? Menurutku saat tidak berihrampun kebiasaan kita para muslimah harus seperti itulah. Bukankah bagian-bagian tubuh kita tetap merupakan aurat meski terhadap sesama wanita. 

Selama ihram para jama’ah diwajibkan mengenakan pakaian ihram. Pakaian ihram untuk wanita adalah pakaian biasa yang menutup semua auratnya, kecuali wajah dan telapak tangan. Bagi muslimah harusnya dapat mengambil makna dari aturan tentang pakaian ihram bagi wanita. Maknanya adalah pada hakikatnya “style/gaya” berpakaian seorang muslimah yang harus kita kenakan sehari-hari dalam kehidupan kita adalah seperti pakaian yang kita kenakan saat sedang berihram. Longgar, panjang, menutup dada, tidak menyerupai laki-laki dan menutup aurat (sayang sekali bila tak dapat mengambil makna pakaian ihram wanita ini, karena sering kali banyak muslimah yang pada saat umroh bisa mentaati aturan tentang kewajiban pakaian yang disyaratkan baginya, namun setelah pulang umroh sehari-hari kembali berpakaian ala wanita zaman now, yang ketat, jilbab cekek dsb). 

Sedangkan pakaian ihram laki-laki terdiri dari dua lembar kain yang tidak berjahit. Warna tidak menjadi prinsip (namun lebih diutamakan berwarna putih) sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : خَيْرُ ثِيَابِكُمُ اْلبَيَاضُ فَالْبَسُوْهَا َوكَفِّنُوْا فِيْهَا مَوْتَكُمْ (“Sebaik-baik pakaian kalian adalah yang putih, maka kenakanlah dia dan kafanilah mayat kalian dengannya”). HR Ahmad. Lihat Syarah Ahmad Syakir, 4/2219, dan ia berkata: “Isnadnya shahîh” 
Banyak makna dan perumpamaan yang dapat diartikan dari 2 helai kain (“putih”) tak berjahit ini, antara lain : 

1. Berselendang kain ihram yang terdiri dari dua lembar kain putih, sebagai lambang lepasnya keindahan dunia yang beraneka-ragamnya, sebagai lambang lepasnya hawa nafsu (yang selalu menjurus kepada keburukan) dan lepasnya diri dari segala selubung kekotoran yang menghalangi ma’rifat kepada Allah, menghalangi akal dan pikirannya untuk mengetahui hakekat hidup dan tujuannya yang hakiki dan suci lahir batin seperti kain putih. 

2. Dari pakaian ihram dapat pula menyadarkan orang akan kesamaan wujud dan bentuk, kesamaan sumber (asal), tunduk kepada Allah, menyadari kemanusiaannya, di mana ukurannya terletak pada sejauh mana pengabdiannya kepada Allah Swt secara ikhlas dan bersih dari syirik. Kemudian sampai sejauh mana kesadarannya untuk menciptakan persaudaraan dengan sesamanya. 

3. Tujuan lebih jauh ialah agar timbul rasa merendahkan diri dan hina dihadapan Tuhannya, dan rasa tidak memiliki apapun serta kekuatan apapun bagaikan bayi yang hanya dikenakan kain yang tidak berjahit, kecuali kain popok. 

4. Pakaian ihram juga mengingatkan pemakainya bahwa ketika lahir tidak seutas benangpun yang yeng melekat dibadannya dan kelak ketika meninggal dunia maka pakaian yang melekat di badannya hanya kain putih yang tak berjahit sebagai pembungkusnya. 

5. Pada dasarnya mengenakan pakaian ihram adalah menanggalkan perhiasan dunia, yang penuh gemerlap dan cobaan. Allah berfirman: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran : 14) 

6. Mengenakan pakaian ihram merupakan ketentuan yang harus dipatuhi oleh orang-orang yang menunaikan ibadah haji atau umrah, juga memiliki makna bagi pendidikan rohani, yaitu hakikat manusia. Allah hanya melihat iman, amal dan taqwa seseorang tanpa membedakan identitas dan strata sosial. Dalam hadits Rasulullah menjelaskan: “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada identitas (sosial) dan tidak pula kepada harta mu, akan tetapi Allah melihat hati kamu dan amal-amalan kamu”. (HR. Muslim) 

Dan dalam firman Allah SWT: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. Al-Hujurat : 13)

7. Perjalanan haji dan umroh merupakan perjalanan yang mulia dan suci di hadapan Allah SWT, karena tujuan perjalanan itu sendiri demikian suci, yakni akan menjadi tamu Yang Maha Suci dan dilaksanakan di tempat yang suci. Yakni Makkah Al-Mukarramah. Oleh karena itu, orang yang berihram sebenarnya sedang mensucikan dirinya dari berbagai hal yang dilarang. Sikap suci ini harus dimiliki oleh orang-orang yang akan bertamu kepada Allah SWT di Tanah Haram. Orang kafir tidak diperbolehkan memasuki kawasan itu. Firman Allah SWT:

"Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis,, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (QS. At-Taubah : 28) 

Demikianlah beberapa item yang dapat dirangkum tentang makna pakain ihram. Kemewahan pakaian dapat membangkitkan sikap sombong, karena merasa lebih baik, lebih tinggi dari orang lain. Berpakaian seperti yang telah dipersyaratkan dalam rangkaian pelaksanaan ibadah Haji dan Umrah memberikan efek dapat melunakkan hati seseorang. Kepatuhan pada aturan yang dipersyaratkan melambangkan kepatuhan kita pada perintah Allah. 

Bagaimanapun kesombongan akan membawa manusia pada kehancuran. Padahal sebagaimana manusia tidak ada yang patut disombongkan. Manusia itu lemah selemah-lemahnya tanpa pertolongan Allah. Allahlah yang menjadikan kita gagah, kuat, kaya. Jadi tak sepantasnya kita bersikap sombong. Dalam sebuah Hadits Qudsy Allah berfirman: “Wahai manusia sesungguhnya engkau kelaparan. Akulah yang memberimu makan. Sesungguhnya engkau telanjang, Aku-lah yang memberi pakaian”. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu dapat menarik hikmah dalam setiap aktifitas kehidupan di dunia ini, termasuk rangkaian prosesi ibadah haji dan umroh yang dalam tiap tahapan kegiatan mengandung makna dan hikmah yang sangat dalam yang dapat kita ambil untuk menambah bekal ilmu dan kebaikan hidup kita sebagai bekal kembali nanti ke kampung akhirat. Kampung kita yang sebenarnya. Dunia ini hanya persinggahan sementara.... Semoga haji dan umrohnya mabrur. Aamin ya Robbal A’lamiin...

Pakaian ihram wanita dan pria, peringatan saat ihram maka cadar wanita harus dilepas ya.. 

Berihram dan menuju miqot masjid Hudaibiyah my sons dan mutawif ustadz Fandy



Wednesday, March 14, 2018

SAMI’NA WA ATHO’NA

Lama aku gak update blog ini, namun sepulang umroh ada aja ide buat nulis lagi. Saat aku masih di Mekah Al Mukaromah saat umroh bulan Februari 2018 kemaren, pas sedang antri lift secara tak sengaja aku mendengar percakapan beberapa orang ibu-ibu anggota rombongan kami juga. Mereka ramai bercakap dan berkomentar. Kulihat mereka membuka-buka kertas selebaran seperti brosur. Aku sedikit mendengar topiknya, tapi untuk menghilangkan rasa penasaran aku mendekat dan ikut mendengarkan secara seksama apa yang dibicarakan.

Rupanya mereka mendapat kajian di masjidil Haram saat ba’da Maghrib. Istilahnya Halaqah. Yaitu semacam kajian yang di adakan per blok per lantai dalam kelompok kecil di Masjidil Haram, dan biasanya diadakan ba’da Maghrib saat menunggu Isya’. Tiap lantai ada berbagai macam kajian atau sharing ilmu oleh petugas yang berbaju hitam plus cadar yang bertugas di masjidil Haram. Tidak semua jamaah bisa ikut. Biasanya ada beberapa petugas yang berkeliling lalu memilih dan menunjuk beberapa orang untuk ikut suatu kajian dalam kelompok kecil.

Aku sendiri pernah dipanggil alias terpilih untuk belajar membaca Al-Qur’an secara free. Aku senang dan antusias menerima tawaran itu. Saat itu Atik ingin juga ikut tapi tak boleh. Aku diajak ke kelompok beberapa orang yang sudah antri untuk diajari membaca Al-Qur’an. Saat itu aku diwajibkan membaca membaca surat Al-Fatihah. Seru sekali dari semua yang antri akulah yang paling lama dan paling banyak salah dalam melafazkan huruf per hurufnya terutama untuk huruf "sho". Bahkan mulai dari bacaan ta’awudz dan bismillahpun aku mesti mengulangi berkali-kali. 

Heheehe... padahal selama ini aku sudah merasa bisa baca Al-Qur’an. Saking berkali-kalinya aku membaca dan mengulang semua mata tertuju padaku, tetapi aku terharu dengan sikap sang guru. Dia sangat semangat dan sabar sekali mengajari aku sebagai peserta yang paling gak bisa. Belum bener dia suruh ulang lagi. Terusss....! Sampai akhirnya sekitar 15 menit mengulang-ulang baru terlontar kalimat dari bibir sang guru “Maa syaa Allah... tabarakallahu. Good...!. Maka akupun merembes air mata dan seraya memeluk beliau “Jazakillah khoir ukhti” ucapku. Berkali-kali beliau berucap “Tabarakallahu”.

Nah ...rupanya para ibu itu tadi mendapatkan kajian tentang cara berpakaian wanita muslimah. Selebaran yang mereka dapat tadi adalah foto-foto cara berpakaian syar’i. Lengkap fotonya dengan berbagai pose dengan tampilan wanita Arab, gamis panjang longgar menyentuh tanah, khimar yang juga panjang hampir sepanjang bajunya. Dari berbagai foto di selebaran itu ada foto yang pakai cadar ada yang tidak. Aku memegang selebaran itu dan mengamati dengan sekasama foto-foto yang ada di situ.

Masih kudengar ocehan ibu-ibu itu yang pada intinya kurang menyetujui aturan yang diajarkan. Sambil memegang selebaran mereka berujar “ Ah gak mungkinlah begini....kalau seperti ini kita gak akan bisa kerja lagi. Baju panjang seperti ini nah...ngepel jalan dan lantai pula. Susah mau bergerak....bla...bla...bla”. Aku dengarkan saja apa yang mereka bicarakan, yang dapat aku simpulkan pada prinsipnya mereka tidak mau dan tidak setuju tentang cara berpakaian muslimah itu seperti itu.

Aku paham mengapa mereka terpilih untuk ikut kajian itu. Penampilan mereka masih jauh dari syar’i. Beberapa dari mereka masih mengenakan celana panjang (malah ada yang pakai sejenis legging jeans) dengan baju atasan yang tidak begitu panjang, dengan jilbab yang juga seadanya. Dari beberapa kali pengamatan aku, orang-orang yang ditarik alias dipilih oleh petugas untuk ikut “Halaqah” pasti ada sebabnya. Contoh saja aku terpilih karena aku terlihat lebih sering membaca buku do’a dan dzikir selama di masjidil Haram, sedangkan Atik tidak diperbolehkan ikut karena dia memang selalu baca Al-Qur’an karena targetnya selama umroh dia akan khatam Al-Qur’an. 

Selanjutnya suatu ketika ibu-ibu di sebelah kami sebanyak 6 orang dipanggil dan diajak untuk membahas sesuatu. Padahal kami yang duduk bersebelahan ingin ikut tidak diperbolehkan. Karena rasa penasaran aku mengintip belajar apa sih mereka. Ternyata 6 orang tersebut diajarkan tata cara sholat jenazah. Aku dan Atik berbisik kok hanya mereka sih yang diajari ? Dan di akhir sholat Isya baru kami dapat jawabannya, yaitu diakhir sholat ke-6 orang tersebut itu tidak ikut sholat jenazah. 

Ohhhh...jadi sepertinya ada suatu monitor yang mengamati para jamaah. Lalu dipilihlah orang-orang yang mungkin dianggap belum punya ilmu tentang sesuatu, Seperti aku beberapa hari lalu. Dan aku yakin ibu-ibu yang terpanggil untuk ikut kajian tentang busana syar’i tadi karena memang penampilan mereka belum sampai ke situ.

Pada awalnya aku diam dan menyimak saja pembicaraan mereka, namun pada akhirnya aku tergerak untuk berbicara sedikit saja. Mungkin bisa membuka wawasan dan membantu pemahamannya secara sederhana. “Iyalah bu ...mungkin tidak harus persis sama seperti di foto ini pakaian syar’inya. Tapi paling tidak berpakaian yang diperintahkan dalam Al-Qur’an itu intinya adalah menutup seluruh aurat. Bagaimana wujudnya menutup aurat ? Maka pakaian itu harus lebar, longgar, sederhana, tidak tipis/transparan, tidak ketat/sempit dan tidak menyerupai laki-laki. Apa yang dimaksud yang menyerupai laki-laki yaitu janganlah wanita memakai celana panjang akan sangat baik pakailah rok. Itu dululah bu yang harus dipenuhi. 

Diantara tanda bahwa hijab kita telah syar'i adalah pantas digunakan untuk sholat, tanpa perlu memakai mukena lagi, selama suci dari najis. Bukankah sudah sangat jelas perintah berhijab dalam Al-Qur’an yaitu “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya,….”(QS an-Nuur : 31) dan “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena mereka tidak diganggu, Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Ahzab : 59)” Ujarku sambil membacakan ayat-ayat tentang kewajiban hijab yang tertera di brosur itu.  

Baru saja selesai aku bicara ada seorang ibu yang nyeletuk dengan sangat keras. “Aiiih...ngomong mudah bu. Dak boleh pakai celana panjang, kalau pakai rok itu susah kami untuk kerja dan beraktifitas. Bisa keserimpet-serimpet” ujar ibu itu ketus dan wajah garang. Aku cuma mengamati expressinya dan enggan untuk bicara. Hati yang keras memang susah menerima hidayah. Biarkanlah beliau dengan kekerasan dan prinsip hidupnya. Dalam hati aku berdo’a semoga Allah memberikan hidayah dan melunakkan hatinya untuk mudah menerima ilmu dan nasihat. Akan sangat sia-sia berdebat dengan orang seperti itu apalagi ini sedang di tanah suci.

Aku diam dalam hati dan bergumam. Pakai rok susah, ribet? Itu hanya karena kita tidak mau  mengikuti dan menjalankan aturan. Sejak aku paham tentang aturan syar’i, maka meskipun untuk jalan-jalan ke gunung, laut, ke pabrik bahkan olah ragapun aku selalu pakai gamis/rok longgar dan khimarku yang semata kaki. Ribet? Keserimpet? TIDAK? Kenapa aku bisa? Karena aku tahu aturan Allah pasti baik, pasti tidak susah! Itu saja! Akhirnya aku terbiasa. (Maaf bukan sombong dengan mencontohkan diriku sendiri. Tapi sebagai bahan bandingan saja). 

Dari cerita sejarah masa lalu ada berbagai macam kategori manusia di dunia ini ketika diperintah yaitu :
1) Jawaban org mukmin:
- sami’na wa atho’na “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami MENDENGAR, DAN KAMI PATUH.” Dan mereka itulah orang-orang yang BERUNTUNG.” (Q.S: an-Nuur: 51)

- “Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “KAMI DENGAR DAN KAMI TAAT.” (Q.S: al-Baqarah: 285) 

2. Jawaban Bani Israil/Yahudi: 
- sami’na wa ashoina: “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “KAMI MENDENGAR TETAPI TETAPI TIDAK MENTAATI”. (Q.S: al-Baqarah: 93) 

3. Jawaban org MUNAFIQ: 
- sami’na wa hum laa yasma’uun:“Hai org2 beriman, taatlah kpd Allah & RasulNya dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, sedang kamu mendengar. Dan janganlah kamu seperti orang-orang MUNAFIQ yg berkata: “KAMI MENDENGARKAN”, PADAHAL MEREKA TIDAK MENDENGARKAN.” (Q.S: al-Anfaal: 20-21). 

Ketika mereka mengatakan, “kami mendengar”, Allah Maha Tahu, sebenarnya hati mereka menolak dan mereka tidak mendengarkan. Sebagaimana orang munafiq pada umumnya, secara zhahir mereka menampakkan sifat baik, mendengar & merespon, padahal tidak demikian (Ibnu Ishaq dlm Tafsir Ibnu Katsir hal 25 terbitan Pustaka Imam Syafii). 

Kemudian Ibnu Katsir menulis: “Allah menjelaskan bahwa manusia seperti ini adalah MAHLUK PALING BURUK & TERMASUK PERANGAI PALING BURUK. Karena Allah berfirman di ayat selanjutnya: “Sesungguhnya binatang (mahluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang tuli.”(Surat~al-Anfaal: 22). Maksudnya TULI dari mendengarkan kebenaran. BISU dari memahaminya. Karena itu Allah berfirman: “Yang tidak mengerti apa pun”. Mengapa seburuk-buruk mahluk? Sebab seluruh mahluk melata selain mereka taat kepada Allah sesuai fungsi ia diciptakan. Sementara orang munafiq diperintahkan untuk beribadah namun mereka kufur. Pada surat al-Araaf: 179 Allah berfirman: “Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka itulah orang-orang yg lalai".

Jadi seperti itulah yang terjadi pada orang-orang yang hatinya masih keras dan belum mau menerima hidayah. Mungkin kaum wanita sekarang menyangka bahwa tidak menutup aurat dan berjilbab/hijab tidak sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadist adalah dosa kecil, bahkan ada yang bilang lebih baik tak memakai jilbab dari pada memakai juga tak bisa menjaga kelakuannya"Kaum wanita menganggap yang terpenting hatinya dan bisa menjaga prilaku dan mengerjakan sholat, puasa, zakat dan haji yang mereka lakukan. 

Padahal sudah sangat jelas tuntunan bagi kita dalam : 
1. Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 5 baris terakhir yang artinya sbb:
"Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat Islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi”.

2. Di dalam surat Al A’raaf ayat 147, Allah menegaskan lagi sikapNya terhadap wanita yang tak menutup aurat, yang berbunyi sbb.: “Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, juga mendustakan akhirat, hapuslah seluruh pahala amal kebaikan. Bukankah mereka tidak akan diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan?”

"Semoga menjadi renungan kita bersama bahwa yang wajib itu tetap wajib hukumnya,," Kita harus patuh dan taat tanpa dalih-dalih. Kalau tidak mulai dari sekarang apakah kita akan menunggu hari lusa atau disaat kita sudah tua,,,?" Ingat satu hal Malaikat maut itu tidak menunggumu hari lusa besok atau tahun depan mungkin satu menit,jam atau hari esok kita telah dicabut nyawanya oleh malaikat maut,,"dan kita benar-benar menjadi orang yang merugi setelah hari itu datang kepada kita,," Ingatlah selalu surat Al A’raaf ayat 36 yang artinya seperti: “Adapun orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya”.Wallahu a’lam bi sawab.



“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya,….”(QS an-Nuur : 31)

Catatan:
Untuk dalil dan ayat-ayat pendukung tulisan ini di dapatkan dari berbagai sumber melalui google seaching


Thursday, December 21, 2017

TANGISAN SEORANG IBU DI HARI IBU

Hari ini tanggal 22 Desember 2017, kebanyakan orang baik di media sosial maupun di berbagai media lainnya begitu viral menggemakan umbaran kata-kata ucapan atau ungkapan terima kasih pada ibu mereka . Bahkan tadi pagi di sebuah channel televisi Nasional Indosiar dalam acara Mama dan Aa , ceramahnya tentang ibu, kedahsyatan doa seorang ibu, tentang bakti kepada ibu, tentang azab bagi anak yang durhaka kepada ibu. Lagi-lagi aku hanya mampu bercucuran air mata. Aku menghukum diri sendiri “apakah aku belum pantas, belum layak, dan gagal untuk menyandang predikat “ibu”???”. Predikat ibu pun rasanya tak pantas aku terima, apalagi predikat “ibu yang baik”. Anak-anakku telah meninggalkan aku, memenjarakan aku, menyebarkan pemberitaan buruk tentang aku. Ya Allah....

Aku masih mengingat beberapa bulan lalu saat menjelang tanggal tanggal 20 September, sepertiga malam aku terbangun, aku duduk merenung di sisi tempat tidur, namun aku sedang tidak bisa melakukan Tahajud/sholat malam, karena siklus bulanan. Kerinduan pada mama dan papa alm. Semua kerinduan ini bermula pada kerinduanku pada sosok anak kandungku laki-laki yang hari itu tepat berulang tahun ke-18. 

Ananda tercinta telah pergi meninggalkan aku dalam sebuah perseteruan perebutan hak asuh anak. Sang mantan yang berkolaborasi dengan anakku mempidanakan aku dengan tuduhan penganiayaan, 6 bulan hukuman penjara aku dapatkan. Kukira cukup hanya sampai disitu yang mereka lakukan. Ternyata tidak! Masih ada episode lanjutan yang dilakukan mereka , membenci, meniadakan, menghapus namaku di raport ataupun dokumen resmi lainnya dan diganti dengan nama ibu tirinya.

Aku menangis....menyesali diri, mengoreksi diri sampai ke akar-akarnya agar aku dapat menemukan kesalahanku, sehingga aku mampu mahfum dan memahami bahwa aku pantas alias wajar dibuat begini. Hampir sepuluh tahun peristiwa itu berlalu, aku belum bisa menemukan jawaban mengapa aku diperlakukan sedemikian ini. Aku memang sudah berusaha melupakan, mengikhlaskan. Namun disaat aku rindu anakku aku selalu ingat almarhumah mama dan papa alm, entahlah kenapa. Aku rindu mereka. Aku kehilangan kasih sayang dan keajaiban mustajabnya do’a mereka. Disamping itu aku juga selalu mengoreksi diri seberapa besar dosaku pada mama papa. Seberapa bandel dulu aku pada mereka? Seberapa sering aku dulu sering membuat mereka jengkel (Semua aku lakukan hanya untuk menyimpulkan mungkinkah yang aku rasakan saat ini adalah balasan dari kesalahanku pada mama dan papa dulu???). Entahlah rasanya aku anak yang penurut..banget, meskipun aku dulu suka kucing-kucingan sama mama. Disuruh tidur siang, pintu kamar ditutup aku malah menyelinap lompat jendela lalu main dengan kawan-kawan dan kembali menyelinap lagi ke kamar saat jam 4 sore, karena itulah jam mama mebangunkan kami untuk mandi sore. 

Ya Alloh ampunilah aku. Lapangkan dan terangilah kuburnya, jauhkanlah mereka dari siksa kubur, bangunkan rumah di syurga buat mama papa. Disamping itu aku selalu senantiasa mendo’akan anak-anakku yang telah dipisahkan dengan cara paksa dariku. Ya Allah .. jangan timpakan dosa dan keburukan pada mereka meskipun aku terlalu sering menitikkan air mata karenanya. Jadikanlah anak-anakku sebagai ahli syurga, yang taat dan memahami aturanMU. Lindungi mereka dari segala marabahaya, dosa, fitnah dunia dan akhirat. Aamiin...

Saudaraku sesama muslim, karena keutamaan agung yang dimiliki kedua orang tua inilah, berulang kali dalam al-Quran dan sunnah nabi–Nya disebutkan perintah agar berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua, dan peringatan agar tidak mendurhakai dan melukai mereka dengan bentuk apapun. Allah SWT berfirman dalam al-Quran yang artinya:

“Dan (ingatlah) ketika kami mengambil janji dari bani israil (yaitu): ‘ janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia; dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.’ Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil dari kamu dan kamu selalu berpaling.” (QS. Al-baqarah : 83)

HAK-HAK ORANG TUA

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً -٢٣- وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً -٢٤-
Dan Tuhan-mu telah Memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhan-ku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (Al-Isra’ 23-24)

Dalam ayat ini, Allah melarang kita menyakiti orang tua sekecil apapun bentuknya. Bahkan hanya dengan ucapan “ah” sekalipun.

فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ
janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”

Menurut Imam Ja’far As-Shodiq, jika ada perkataan yang lebih ringan dari “ah” maka Allah akan menyebutkan kata itu. Sekecil apapun, kita dilarang keras untuk menyakiti orang tua. Mengapa Allah memberi penekanan khusus untuk berbakti kepada orang tua ketika telah lanjut usia?

Jika kita perhatikan, seorang yang lanjut usia akan mengalami perubahan. Fisik dan pikirannya mulai melemah. Banyak hal yang tak mampu dia lakukan. Terkadang semakin cerewet dan banyak permintaan. Tentu cinta seorang anak kepada orang tua berbeda dengan cinta orang tua kepada anaknya. Sang anak mulai capek mendengar permintaan orang tua yang semakin aneh dan macam-macam. Pendapat mereka sering bertolak belakang. Anak menginginkan A dan orang tua ingin B. Mungkin karena mereka terbawa oleh usia dan pengalaman yang panjang.

Terkadang, ketika anak telah tumbuh besar, mandiri dan mampu. Dia merasa tak butuh lagi kepada orang tua. Akhirnya dia bersikap meremehkan dan pening mendengar bermacam nasehat dan permintaan orang tuanya. Dia telah lupa bahwa dirinya yang hebat saat ini adalah berkat orang tuanya. Karena dia tidak akan lahir tanpa orang tua.

وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
“dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Jangan sakiti orang tua kita dengan hal yang besar atau sekecil apapun. Ketahuilah, Allah swt menekankan pentingnya berbakti kepada orang tua karena bakti ini adalah hal yang sulit. Apapun perintahnya, jangan pernah kita tolak. Tetaplah menjawab mereka dengan perkataan yang sejuk dan menyenangkan.

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang”

Ketika kita mulai kaya, mampu membiayai keluarga dan orang tua, janganlah muncul rasa sombong dihadapan mereka. Jangan pernah merasa telah membalas jasa orang tua dengan menafkahi mereka bertahun tahun. Sungguh, berapapun yang kita berikan tidak bisa membalas secuil pun dari jasa mereka. Bersikaplah rendah dihapan mereka. Dekati mereka dengan penuh kasih sayang.

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً
“Dan ucapkanlah, “Wahai Tuhan-ku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”

Dan jangan lupa untuk mendoakannya di setiap waktu. Karena doa kita yang akan meringankan beban mereka ketika di Hari Pembalasan kelak. Secara mutlak, ayah dan ibu harus memperoleh penghormatan yang tinggi. Namun penghormatan kepada ibu harus lebih tinggi. Karena pengorbanan seorang ibu begitu besar untuk buah hatinya.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ -١٤-
“Dan Kami Perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tua-nya. lbunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (Luqman 14)

Mengapa keutamaan berbakti kepada seorang ibu lebih utama, Rasulullah SAW bahkan sampai 3 kali menyebutkan “ibumu...ibumu...ibumu. Ingatlah bahwa kita telah bersemayam dalam rahim ibu kita selama 9 bulan lebih. Kita makan dari darah dagingnya. Pengorbanan seorang ibu sangatlah besar. Dimulai dari masa kehamilan yang begitu berat. Sebagian besar ibu-ibu pada 3 bulan pertama masa kehamilan tak bisa makan bahkan muntah secara dahsyat ketika mencium berbagai macam bau termasuk bau makanan sekalipun. Tidak hanya sampai disitu saja,  disaat usia kehamilan semakin besar diusia 7 -9 bulan penderitaan calon ibu makin bertambah lagi dengan kondisi perut yang semakin membuncit dan kaki semakin bengkak menanggung beban berat, duduk salah, tidurpun sulit, miring ke kanan salah, kekiri salah telentangpun tidak nyaman. “ lbunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun”(kutipan surat Luqman : 14)

Tibalah saatnya hari kelahiranmu ibu berjuang melawan maut untuk menghadirkanmu ke dunia ini. Lantas ketika kau sudah sedikit besar, beban ibumu akan semakin besar lagi. Tak jarang ibumu tak sempat makan atau makan dengan sempurna. Baru saja akan menyuapkan makanan kemulutnya tiba-tiba terdengar tangismu, atau teiakanmu minta diceboki, ibumu segera menghentikan makannya untuk segera menggendongmu, melayanimu. Ibumu kadangkala hanya sempat membuat sarapan agar kau pergi sekolah tidak dengan perut kosong. Tahukah kamu ibumu bahkan tak sempat menyuap atau menyantap sarapannya karena harus buru-buru bersiap mengantarmu ke sekolah agar kau tidak terlambat. Semua yang diprioritaskan ibumu hanyalah kepentinganmu. Doa-doa di setiap sujud dan tarikan nafasnya namamu selalu disebut. Yang ada di dalam hentakan nafas dan denyut nadi ibumu hanyalah kamu dan kamu saja. 

Lalu pantaskah jika saat ini engkau melupakan ibumu, mencampakannya, mengumbar cerita-cerita buruk tentangnya ke khalayak ramai? Bahkan sampai menghadiakan hukuman 6 bulan penjara atas persepsimu yang belum tentu benar tentangnya???

Wahai anakku banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang mengajarkan kita tentang hak-hak orang tua. Lalu apa hak-hak mereka? Apa hak ibu? Apa hak ayah? Bagaimana jika mereka telah meninggal sementara kita belum sempat berbuat baik kepada mereka? Karena itu, Allah menyuruh kita untuk bersyukur kepada-Nya dan kepada orang tua. Karena seluruh kenikmatan Allah tidak akan sampai kepada kita tanpa melalui kedua orang tua.

Ada sebuah riwayat dalam Al-adabul Mufradnya al-Imam Bukhari yang bisa dijadikan jawaban atas pertanyaan besar tersebut di atas. Hajjaj menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Sulaiman at-Taimi, dari Sa’id al-Qaisi dari Ibnu Abbas Rodhiyallâhu ‘Anhu, ia berkata,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ لَهُ وَالِدَانِ مُسْلِمَانِ يُصْبِحُ إِلَيْهِمَا مُحْتَسِباً ، إِلَّا فَتَحَ لَهُ اللهُ بَابَيْنِ – يَعْنِي : مِنَ اْلَجَّنةِ – وَإِنْ كَانَ وَاحِدًا فَوَاحِدٌ ، وَإِنْ أَغْضَبَ أَحَدُهُمَا لَمْ يَرْضَ اللهُ عَنْهُ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ ، قِيْلَ : وَإِنْ ظَلَمَاهُ ؟ قَالَ : وَإِنْ ظَلَمَاهُ
“Tidak seorang pun dari kaum Muslimin yang mempunyai kedua orang tua beragama Islam yang berbakti kepada mereka berdua dengan mengharap pahala (dari Allah) melainkan Allah akan membukakan dua pintu –maksudnya pintu Surga- untuknya. Jika tinggal salah satu dari keduanya yang masih hidup, maka yang akan dibukakan adalah satu pintu. Jika dia menjadikan salah satu di antaranya marah, Allah tidak akan ridha (kepadanya) hingga orang tuanya ridha kepadanya.“ Lalu ada yang bertanya, “Meskipun kedua (orang tua)nya itu menzaliminya?” Ibnu Abbas menjawab, “Meskipun keduanya menzaliminya,” (Hasan dengan dua jalan. Said adalah rawi yang majhul) 

Menurut Syaikh Dr. Muhammad Luqman as-Salafi, Rektor Universitas Islam Ibnu Taimiyah, Darussalam – India, dalam Syarah Adabul Mufrad menjelaskan beberapa hal terkait dengan hadits tersebut. Diantaranya:

Maksud dari Wain Dzolamâhu adalah keduanya (orang tua) menzaliminya dalam berbagai perkara dunia. Berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua adalah wajib, walaupun keduanya telah menzalimi anak dalam perkara dunia.

Derajat hadits di atas dhâ’if, akan tetapi makna yang dikandungnya dapat dibenarkan.Jadi, kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua tetap harus ditunaikan meski kedua orang tua berbuat zalim.

Hal yang serupa juga disampaikan oleh Syaikh ‘Atha bin Khalil, Amir Hizbut Tahrir Ketika ditanya oleh seseorang yang bernama Lamis Sh dengan pertanyaan sebagai berikut:

Apa hukumnya marah kepada orang tua dan bersuara keras kepada orangtua dan bersuara keras kepada meraka? Terlintas dalam benak, bagaimana jika orangtua telah menyebabkan berbagai kesulitan bagi anaknya? Bukannya mendapatkan pemeliharaan dari kedua orangtuanya pada saat masih kecil, si anak justru harus mandiri dan menyelesaikan persoalannya sendiri. Apakah marah kepada kedua orangtuanya, dan bersuara keras terhadap mereka termasuk tindakan ‘uquq al-walidain (tidak berbakti kepada kedua orangtua) dan menyebabkan seseorang tidak mendapatkan taufik dalam kehidupannya?

Setelah Syaikh ‘atha bin Khalil menyampaikan bahwa seorang anak tidak boleh marah dan bersuara keras kepada kedua orangtuanya berdasarkan firman Allah swt di dalam QS al-Isra [17]:23 yang melarang seorang anak yang mengatakan “ah!” dan juga menyampaikan penjelasan hadits nabi dalam Sahih Muslim dari Abu Hurairah, “Sungguh celaka, sungguh celaka, sungguh celaka, seorang yang masih bertemu kedua orangtuanya yang sudah tua, apakah salah satu atau keduanya, tetapi ia tidak masuk surga” beliau menyatakan:

“Dalam suatu kejadian, jika seseorang tanpa sadar lalai dan “marah” kepada kedua orangtuanya, sebagaimana kasus yang ditanyakan, maka ia harus segera memohon ampun kepada Allah Swt, serta meminta maaf dan keridhaan orangtuanya. Hati orangtua pada umumnya adalah hati yang lemah lembut dan pemurah; maka mereka pun akan mudah memaafkan kelalaian anak-anaknya, jika anak-anaknya tersebut meminta maaf kepada mereka”

Dari keterangan tersebut, bisa dipahami bahwa kesalahan atau kedzaliman yang pernah dilakukan oleh orang tua kepada anaknya tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk marah kepada orangtuanya. Dengan kata lain, kita tetap wajib berbuat baik kepada kedua orangtua meski mereka pernah berbuat dzalim kepada kita anaknya. Semoga kita termasuk anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua kita . Âmîn Yâ Robbal ‘Âlamîn.

Andai kau tahu bermalam-malam ibumu menangis dalam sujudnya mendo'akan kebahagiaan dan keselamatanmu dunia akhirat. Karena aku ibumu, seorang ibu sedikitpun tak pernah berniat jahat kepada anaknya. Itu yang belum kau pahami anak-anakku. Karena aku ibu kandungnmu. Sejahat-jahat ibu kandung masih lebih baik dari ibu pengganti lainnya

Monday, November 20, 2017

JAGALAH LISANMU

Aku pernah merasakan sangat terluka hanya dengan celetukan seorang teman yang memang di setiap kalimatnya lebih sering kasar dan pedas, meskipun kalimat-kalimatnya diucapkan dengan suaranya yang merdu dan lembut. Ceritanya kala itu ada jalan sehat bersama warga komplek dalam rangka HUT RI yang ke-72. Aku, dia, Lina jalan bersama sambil ngobrol seadanya. Lina bercerita tentang anak-anaknya yang berjumlah 3 orang yang akan lulus secara bersamaan tahun ini. Bercerita tentang dia yang mulai mempersiapkan diri untuk menabung uang dalam rangka biaya masuk sekolah baru yang memerlukan biaya cukup besar . Aku mendengarkan dengan seksama.

Lina melanjutkan ceritanya tentang bagaimana cara mengelola keuangan yang baik. Aku membesarkan hati dengan berucap "Semangat Lina semua itu / membesarkan anak merupakan ladang ibadah yang sangat besar pahalanya, dibanding aku yang kesepian tanpa anak". Lalu Lina juga berusaha menghibur aku, jika aku kesepian bolehlah mengajak anaknya untuk main. 

Aku antusias menjawab “bener ya kalau aku mau ke mall aku boleh ajak anakmu ya Lin?” ujarku.“Ohhh...boleh banget mbak, apalagi si Bibil (anak bungsunya) pasti mau banget diajak jalan-jalan ke mall”. Kami tergelak-gelak dengan kalimat lucu-lucu kami. Tapi tiba-tiba si “teman” satunya yang bersama kami nyeletuk

“ Iya pertama anaknya dulu yang diajak main, diajak jalan, nanti ujung-ujungnya bapaknya pula yang diajak main dan jalan-jalan” 

Jlebbb...aku tersentak kaget. Terdiam sejenak sambil dalam istighfar tak percaya rasanya mendengar kalimat itu. Lantas dengan hati terluka aku membalas datar“Ah tak mungkinlah. Aku ini masih punya hati dan perasaan, tak mungkin jadi pelakor.”
“Nehh... siapa tahu”, dia kembali menimpali sambil tergelak

Ya Allah... untunglah aku punya kesabaran yang lebih, sehingga menelan kalimat-kalimat sadisnya dengan sakit. Namun ketika aku curhat pada adik kandungku, dia langsung emosi, “Ah bodoh kau tuh, kalau aku langsung kucekik lehernya, bilang aja eh...jangan sembarang ngomong, apa maksudmu???”. Tapi aku adalah aku yang memang selalu memendam emosi ke dalam, meski aku terluka. Tapi aku selalu berhati-hati terhadap si”teman” itu, tak ingin terlalu dekat atu berada dekat dengannya.

Dilain waktu yang tidak berselang lama dari kejadian di atas hal ini terjadi lagi.Saat itu sebagai pengurus persatuan ibu-ibu erte komplek, kami bertiga Yossi dan Ana mengadakan rapat kecil yang tadinya mau diadakan di rumahku. Kebetulan hari Sabtu itu aku baru pulang dari travelling ke Batam, yang nota bene rumahku masih sangat berantakan. Aku khawatir tidak bisa menjamu mereka dengan baik di rumahku. Lantas aku ajak mereka rapat alias diskusinya di suatu rumah makan, cafe atau apalah. Setuju... nah rapat dan makan selesai jam 11, artinya masih lumayan pagi. Tadinya untuk refreshing salah seorang dari kami mengusulkan “ngemall” saja. Aku berpikir jika ngemall akan menguras kocek, pastilah meski hanya sight seeing akan keluar uang juga ujung-ujungnya.

Aku usul kita refreshing ke karoke aja yuk, ambil yang 1 jam saja. Sambil nyanyi kita masih bisa bahas-bahas lagi tentang acara outdoor arisan kita bulan depan. Semua setuju, maka jadilah kita karokean. Tak ada yang salah rasanya kami ke tempat ini. Hanya relaxing dengan lagu-lagu tempo dulu. Sementara salah satu dari kami sedang nyanyi kami berdua bisa lagi men”setting” tentang rencana arisan erte yang akan di lakukan outdoor. Tak ada yang salah... Nah sumber masalahnya tuh adalah selama karoke itu kami foto-foto dan sama bu Ketua foto kami bertiga disend ke group WA. Rame komentar, tapi semua berkomentar baik kok. Malah ada yang bilang kok gak ngajak dsb. Termasuk “teman” itu ikut komentar dengan memberikan emoticon jempol. Bagiku semua itu wajar dan biasa saja.

Keesokan harinya, di undangan pesta pernikahan anaknya Titi Ferdi aku kembali tersentak, ketika bersalaman dan cipika-cipiki saat bertemu “teman” ada kalimat pedas yang dia kembali lontarkan. “ Uhhhh...mbak Esi pake jilbab syar’i, tapi pergi ke karoke. Tak malu sama jilbabnya”. Hanya kalimat pendek yang dibisikan di telingaku saat bersalaman dengan nada suara berbisik tapi dahsyatnya membuat aku tersentak. Apa ada yang salah aku di tempat karoke, toh kami disana hanya bertiga dan wanita semua. Kami tidak bermaksiat??? Karena tak sanggup menahan rasa kaget aku curhat pada Yossi dan Ana yang duduk bersebelahan denganku. Aku ceritakan kalimat-kalimat yang dibisikan “teman” itu. Langsung Yossi nyeletuk “Loh...memangnya kita melacur, melonte di tempat karoke itu???? Apa urusannya???”.

Bukan 2 kali kejadian itu saja. Dulu sekali si “teman” ingin menjadikan aku teman dekatnya, dimana dia selalu membagi saat punya makanan atau apalah, tetapi karena sikap dan perilaku dan kalimat-kalimat nya agak kurang berkenan di hatiku aku secara halus menarik diri untuk menjaga jarak. Memang “teman” itu orang berpunya, rumah mewah, harta berlimpah namun aku tak mau menjalin pertemanan yang menyakitkan dan membeli pertemanan dengan uang sehingga dengan kemurahan yang dia berikan lantas dia menginginkan aku menjadi “Scooby doo”, sianjing penurut. Mohon maaf aku bilang “No”.

Itulah prolog yang membuat aku belajar, mencari sumber ilmu dan berbagi tentang menjaga lisan ini. Jika aku sangat terluka diperlakukan seperti itu aku bermohon pada Allah untuk tidak membuat orang lain terluka. Makanya aku memang jarang bicara, dimanapun. Persatuan ibu-ibu kompleks, di rapat-rapat kantor, dipertemuan apapun, bahkan dengan saudara kandungku sendiri. Kadang meski tahu aku lebih memilih diam untuk tidak menunjukkan aku pandai, pintar dan tahu. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah perkataan yang baik atau jika tidak maka diamlah.”(Muttafaqun ‘alaihi)

Selain dari sabda Rasulullah SAW itu banyak kalimat dan perkataan para ulama yang mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga lisan

Jangan mudah melontarkan kata-kata yang bisa membuat hati seseorang sakit. Karena terkadang yang menurutmu biasa saja atau itu hanya sebuah lelucon dan candaan, bisa jadi ia malah melukai hati seseorang. Kamu tidak pernah tahu perasaan seseorang itu bagaimana, oleh sebab itu jaga lisanmu

Berhati-hatilah dalam berbicara, jangan sampai melukai hati siapapun. Alangkah baiknya pikir dahulu sebelum mengatakan sesuatu takut menyinggung dan menyakiti hati orang lain Sekali kamu menyakiti dengan ucapannmu. Mungkin ia bisa memafkanmu tetapi dia selamanya tidak akan pernah lupa apa yang dikatakan olehmu. Ia akan tetap mengingat bagaimana kamu mengucapkan kalimat itu sehingga bisa melukai hatinya. 

Sekali kamu salah dalam berkata maka ucapannmu itu tidak bisa ditarik kembali. Maka berhati-hatilah jangan sampai melukai hati orang lain. Karena memafkan itu tidak mudah apalagi melupakannya. Maka hati-hatilah saat kamu berbicara, alangkah baiknya kamu berpikir dulu sebelum kamu mengatakannya Jangan kamu kira ucapanmu itu hanya akan menyakiti orang lain saja. Bahkan jika kamu salah dalam berbicara maka ucapanmu itu bakal berbalik arah dan bakalan melukai diri kamu sendiri. 

Ucapan yang menurut kamu biasa dan sederhana itu yang justru akan membunuhmu jika ucapanmu salah. Ingat lidah itu bisa membunuh diri kamu sendiri kalau kamu sampai mengatakan hal yang salah. Makanya lebih baik hati-hati dalam berkata takut hanya melukai diri sendiri dan orang lain.

Maka, berbicaralah yang mengandung manfaat, bijakkanlah lisanmu untuk berkata yang baik-baik, agar kamupun selalu tersanding dengan kebaikan. Dan yang paling penting adalah, saat kau pandai menghargai dirimu dengan pandai menjaga lisan dan tutur katamu, maka akhirnya orang lainpun akan gampang menghargaimu.

Dan ingat, lisanmu Allah ciptakan untuk menyebut kebaikan, bukan untuk melukai hati orang lain. Maka, dimanapun kamu berada dan sampai kapanpun, kau harus selalu menjaga lisanmu dengan bijak, sampaikanlah kebaikan dan bila memang tidak mampu, maka jagalah agar tak pernah menyebut keburukan orang lain. Hati-Hatilah Menjaga Lisanmu, Jangan Menyakiti Dan Jangan Pula Berbicara Yang Membuatmu Berdosa Pada Allah

Bahaya Tidak Menjaga Lisan 
Salah satu bahaya tidak menjaga lisan adalah menyebabkan pelakunya dimasukkan ke dalam api neraka meskipun itu hanyalah perkataan yang dianggap sepele oleh pelakunya. Sebagaimana hal ini banyak dijelaskan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salah satunya adalah hadits yang telah disebutkan di atas. 

Atau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang rukun iman dan beberapa pintu-pintu kebaikan, kemudian berkata kepadanya: “Maukah kujelaskan kepadamu tentang hal yang menjaga itu semua?” kemudian beliau memegang lisannya dan berkata: “Jagalah ini” maka aku (Mu’adz) tanyakan: “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa dengan sebab perkataan kita?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Semoga ibumu kehilanganmu! (sebuah ungkapan agar perkataan selanjutnya diperhatikan). Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah mereka atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan mereka.” (HR. At-Tirmidzi) 

Imam Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata mengenai makna hadits di atas, “Secara dzahir hadits Mu’adz tersebut menunjukkan bahwa perkara yang paling banyak menyebabkan seseorang masuk neraka adalah karena sebab perkataan yang keluar dari lisan mereka. Termasuk maksiat dalam hal perkataan adalah perkataan yang mengandung kesyirikan, dan syirik itu sendiri merupakan dosa yang paling besar di sisi Allah Ta’ala. Termasuk maksiat lisan pula, seseorang berkata tentang Allah tanpa dasar ilmu, ini merupakan perkara yang mendekati dosa syirik. Termasuk di dalamnya pula persaksian palsu, sihir, menuduh berzina (terhadap wanita baik-baik) dan hal-hal lain yang merupakan bagian dari dosa besar maupun dosa kecil seperti perkataan dusta, ghibah dan namimah. Dan segala bentuk perbuatan maksiat pada umumnya tidaklah lepas dari perkataan-perkataan yang mengantarkan pada terwujudnya (perbuatan maksiat tersebut). (Jami’ul Ulum wal Hikaam)

Buah menjaga lisan
Buah menjaga lisan adalah surga. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من يضمن لي ما بين لحييه وما بين رجليه أضمن له الجنة
“Barangsiapa yang mampu menjamin untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim untuk menjaga lisan dan kemaluannya dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah, dalam rangka untuk mencari keridhaan-Nya dan mengharap balasan berupa pahala dari-Nya. Semua ini adalah perkara yang mudah bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala. (Kitaabul Adab)

Saudariku kita telah mengetahui bahaya yang timbul akibat tidak menjaga lisan, dan kita pun telah mengetahui bagaimana manisnya buah menjaga lisan, sudah sepantasnya kita selalu berpikir sebelum kita mengucapkan suatu perkataan. Apakah kiranya perkataan tersebut akan mendatangkan keridhaan Allah Ta’ala atau bahkan sebaliknya ia akan mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Cukuplah kita selalu mengingat firman Allah Ta’ala (artinya):

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 18). 

Juga firman Allah Ta’ala (artinya):

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)

Saudariku, berhati-hatilah terhadap lisan karena sebuah ucapan bisa menjerumuskan kita ke dalam api neraka. Apabila kita tidak mengetahui sebuah perkara dengan pasti, sebaiknya kita diam saja. Dan janganlah kita mengucapkan perkataan yang menyakiti hati orang lain, sekalipun itu hanya candaan. Sebab di akhirat kelak, segala apa yang kita ucapkan dengan lisan pasti akan dimintai pertanggung jawaban.

Semoga Allah SWT senantiasa meluruskan lisan-lisan kita, memperbaiki amalan-amalan kita dan memberikan kita taufik dan hidayah untuk selalu mengamalkan perkara yang dicintai dan di ridhoi Allah.




Sumber : muslimah.or.id, rumaysho.com dan berbagai sumber lainnya.